Siswa Sekolah Hikari Serpong Budayakan Bersepeda ke Sekolah

Siswa Sekolah Hikari Serpong Budayakan Bersepeda ke Sekolah
Foto: Ilustrasi Siswa Sekolah Hikari Serpong Budayakan Bersepeda ke Sekolah.

Sekitar 40 siswa tingkat taman kanak-kanak hingga sekolah dasar melakukan aksi bersepeda bersama menuju Sekolah Hikari di kawasan Serpong Lagoon, Setu, Tangerang Selatan, pada Jumat (17/4/2026) pagi. Gerakan bertajuk Bike2School ini bertujuan mengembalikan kebiasaan lama berangkat sekolah tanpa kendaraan bermotor.

Anak-anak yang terlibat berasal dari jenjang TK hingga kelas 4 SD dengan titik keberangkatan dari Sport Club Serpong Lagoon. Jarak yang ditempuh menuju sekolah mencapai satu kilometer dengan pendampingan dari sejumlah orang tua murid sebagaimana dilansir dari Megapolitan.

Gerakan yang diinisiasi oleh warga setempat bernama Dimas Gilang Pamungkas ini telah berjalan sejak Januari 2025. Pada awalnya, kegiatan hanya diikuti oleh 20 hingga 25 anak sebelum akhirnya berkembang menjadi komunitas yang lebih besar setiap pekannya.

Dimas menjelaskan bahwa inisiasi ini muncul karena keprihatinannya terhadap pergeseran fungsi sepeda di masyarakat saat ini. Ia ingin anak-anak tetap merasakan pengalaman mobilitas mandiri meskipun tantangan infrastruktur jalanan di wilayah perkotaan masih cukup besar.

"Sepeda itu dulunya alat transportasi, sekarang cuma jadi hobi," ujar Dimas, penggagas Bike2School.

Pemilihan jarak satu kilometer dilakukan dengan mempertimbangkan kemampuan fisik anak-anak serta kondisi lalu lintas. Dimas menyebut idealnya zonasi bersepeda bagi anak adalah sekitar dua hingga tiga kilometer, namun faktor kelelahan dan keamanan menjadi batasan utama dalam pelaksanaan kegiatan rutin tersebut.

"Idealnya untuk anak-anak itu bersepeda ke sekolah itu sekitar dua sampai tiga meter, sesuai dengan zonasi. Bisa lebih tapi nanti anaknya yang kecapekan," jelas Dimas.

Minimnya fasilitas pendukung bagi pesepeda di Tangerang Selatan juga menjadi sorotan dalam gerakan ini. Dimas berpendapat bahwa tata ruang kota saat ini masih lebih mengutamakan pengguna kendaraan bermotor dibandingkan pejalan kaki atau pengguna sepeda.

"Kota kita dibangun bukan untuk manusia, tapi untuk kendaraan. Kalau untuk manusia kan harusnya ada jalur sepeda," kata Dimas.

Melalui langkah kecil di lingkungannya, Dimas berharap gerakan ini dapat memicu perubahan perilaku masyarakat luas. Ia menekankan bahwa konsistensi dan niat awal menjadi kunci utama agar budaya bersepeda tidak hilang tergerus zaman.

"Harus dimulai dari niat, kalau tidak, ya tidak akan pernah jadi," ucap Dimas.

Artikel terkait

Rekomendasi