Gangguan irama jantung atau atrial fibrilasi (AF) kini mendapatkan penanganan medis yang lebih aman melalui inovasi teknologi terkini. Penyakit ini sering kali muncul tanpa gejala namun memiliki risiko komplikasi serius seperti gagal jantung hingga stroke.
Dilansir dari Detik Health, Siloam International Hospitals memperkenalkan metode tata laksana atrial fibrilasi terbaru menggunakan kombinasi teknik ablasi dengan paparan radiasi minimal. Pendekatan ini didukung oleh teknologi Intracardiac Echocardiography (ICE) atau USG di dalam jantung.
Implementasi teknologi ini dipimpin oleh Kepala Staf Medis Fungsional Bidang Kardiologi Siloam Hospitals TB Simatupang, Prof. Dr. dr. Yoga Yuniadi, SpJP (K), FIHA. Bersama tim aritmia, mereka melakukan live case penanganan pasien AF dengan pendekatan minimal fluoroscopic.
dr Budi Ario Tejo, SpJP(K), FIHA, selaku Konsultan Aritmia dari Tim Aritmia Siloam Hospitals TB Simatupang menjelaskan bahwa penanganan kondisi ini umumnya mengikuti pedoman C.A.R.E yang mencakup kontrol faktor risiko hingga evaluasi dinamis.
"Jadi Comorbid and Risk Factor Control, Avoid Stroke, Reduce Symptom, dan satu lagi Evaluation and Dynamic Reassesment," kata dr Budi ketika berbincang dengan detikcom di acara Siloam Cardiac Summit 2026 di Jakarta Selatan, Sabtu (25/4/2026).
Upaya medis tersebut sangat krusial mengingat bahaya laten dari gangguan irama jantung yang tidak tertangani dengan tepat.
"Jadi upaya-upaya itu bertujuan untuk memperbaiki outcome dari si atrial fibrilasi ini. Karena kalau kita tahu atrial fibrilasi itu berkaitan dengan risiko kematian yang 5 kali lipat lebih tinggi, risiko gagal jantung yang 5 kali lipat lebih tinggi, dan juga risiko stroke yang sangat tinggi, terutama stroke sumbatan," ujar dr Budi.
Metode Minimal Fluoroscopic AF Ablation bekerja dengan cara mengisolasi sumber sinyal listrik abnormal di area atrium jantung. Berbeda dengan teknik konvensional, prosedur ini hampir tidak menggunakan bantuan sinar-X sebagai panduan utama.
Penggunaan teknologi ICE memberikan visualisasi struktur jantung yang jauh lebih jernih dan presisi. Hal ini meningkatkan tingkat keamanan pasien karena meminimalisir paparan radiasi yang selama ini menjadi tantangan dalam prosedur pembedahan jantung.
Sistem ini juga mengintegrasikan ekosistem VARIPULSEÔäó dan Pulsed Field Ablation (PFA) dengan Sistem CARTOÔäó 3. Teknologi pemetaan elektroanatomi 3D tersebut memungkinkan dokter memantau kondisi jantung secara real-time dengan akurasi tinggi.
Bagi pasien yang mengalami gejala seperti jantung berdebar atau mudah lelah, pengembalian irama ke mode normal menjadi prioritas utama. Dokter dapat melakukan pengendalian laju jantung melalui pemberian obat-obatan atau tindakan ablasi langsung.
"Dengan Intracardiac Echocardiography ini, kebutuhan penggunaan X-ray itu akan jauh lebih kecil. Bahkan bisa sampai dengan zero," tegas dr Budi.
Pengurangan durasi paparan sinar-X ini memberikan perlindungan tambahan tidak hanya bagi pasien, tetapi juga bagi tim medis yang mengoperasikan perangkat tersebut di ruang tindakan.
"Dengan kondisi seperti itu, otomatis risiko-risiko yang terkait dengan paparan radiasi akan sangat jauh berkurang. Paparan radiasi itu baik terhadap operatornya, terhadap timnya, atau terhadap pasiennya sendiri," kata dr Budi.
Sebagai langkah pengembangan standar global, Siloam Hospitals juga melakukan kolaborasi internasional, termasuk melibatkan Prof. Ligang Ding dari Fuwai Hospital, China.
"Kalau kita bisa bilang, ini termasuk yang pertama di Asia Tenggara. Karena ini merupakan teknologi baru, kami juga melibatkan Prof. Ligang Ding dari Fuwai Hospital di China," ujar dr Budi.
Fuwai Hospital dikenal sebagai salah satu pusat penanganan aritmia terbesar di China. Kerja sama ini diharapkan mempercepat proses alih teknologi medis canggih di Indonesia.
"Dengan melibatkan beliau, kami mengharapkan adanya alih teknologi, terutama untuk tindakan ablasi yang menggunakan fluoroskopi yang sangat minimal atau bahkan sampai zero," kata dr Budi.