Sering Disamakan, Ini Beda Soft Parenting dan Gentle Parenting yang Banyak Dipakai 2026

Sering Disamakan, Ini Beda Soft Parenting dan Gentle Parenting yang Banyak Dipakai 2026
Foto: Sering Disamakan, Ini Beda Soft Parenting dan Gentle Parenting yang Banyak Dipakai 2026. (Illustration by Pexels)

Soft parenting dan gentle parenting sering dianggap sama, namun sebenarnya memiliki perbedaan khusus dalam penerapan batasan dan disiplin. Dalam beberapa tahun belakangan, pendekatan pengasuhan yang mengedepankan empati kian populer, didorong oleh meningkatnya kesadaran tentang kesehatan mental anak.

Banyak orang tua beralih dari pola asuh otoriter ke pendekatan yang lebih lembut, menghindari hukuman keras dan bentakan. Namun, sering terjadi kebingungan antara soft parenting dan gentle parenting karena istilahnya yang hampir sama. Padahal, kedua pendekatan ini berbeda dalam hasil pola asuh yang diterapkan.

Apa itu soft parenting dan gentle parenting?

Menurut Parents, soft parenting merujuk pada pendekatan di mana orang tua berusaha memahami dan memvalidasi perasaan anak dalam hampir semua situasi, bahkan ketika perilaku anak kurang tepat. Pendekatan ini cenderung menghindari konflik, dengan orang tua jarang mengatakan "tidak" agar suasana tetap tenang.

Meski penuh kasih, tanpa batasan yang jelas, anak bisa kesulitan memahami struktur dan regulasi diri. Sebaliknya, gentle parenting tetap mengutamakan empati namun dilengkapi dengan aturan yang konsisten. Orang tua menghargai perasaan anak sambil menegakkan aturan yang telah ditetapkan.

Mengutip Times of India, gentle parenting fokus mengenali perasaan anak sambil membimbing mereka dengan cara lembut dan tegas. Pendekatan ini tidak menerapkan hukuman tetapi lebih pada pembelajaran. Anak diajak memahami konsekuensi dari perilakunya dan melatih pengelolaan emosi secara sehat.

Beda dalam penerapan batasan

Perbedaan utama antara keduanya terletak pada penerapan batasan. Soft parenting cenderung lebih mengutamakan perasaan anak, sering kali mengorbankan aturan. Anak mungkin memimpin suasana rumah, sedangkan gentle parenting lebih mengutamakan bimbingan dengan konsistensi tetap.

Anak yang dibesarkan dengan pendekatan terlalu longgar bisa kesulitan memahami batas sosial, seperti aturan di sekolah. Mereka mungkin lebih sulit mengatur emosi saat menghadapi penolakan. Sementara itu, pendekatan seimbang membantu anak mengembangkan kecerdasan emosional dan rasa tanggung jawab. Anak belajar perasaan mereka valid, tetapi ada aturan yang harus dihormati.

Meski berbeda, kedua pendekatan ini tidak harus dibandingkan mana yang lebih baik. Ahli menganjurkan menggabungkan sisi positif dari keduanya. Empati dan validasi emosi dari soft parenting dapat dipertahankan, sementara konsistensi dari gentle parenting diterapkan untuk menciptakan lingkungan hangat dan terarah.

Beberapa langkah yang dapat diambil antara lain mendengarkan anak secara aktif, memberikan konsekuensi tanpa hukuman keras, dan menjaga rutinitas harian yang konsisten. Pola asuh efektif adalah tentang menemukan keseimbangan, memberikan kasih sayang sekaligus batasan agar anak tumbuh memahami dunia sekitarnya.

Artikel terkait

Rekomendasi