Obat anti-obesitas berbahan aktif semaglutide kembali menarik perhatian dunia medis melalui temuan terbaru yang dipresentasikan dalam European Congress on Obesity (ECO) 2026. Terapi semaglutide melalui produk Wegovy dilaporkan memiliki potensi besar dalam menurunkan risiko migrain, depresi, hingga penyakit jantung pada perempuan menopause yang mengalami obesitas.
Dikutip dari Media Indonesia, hasil studi real-world selama satu tahun terhadap lebih dari 34 ribu perempuan menopause di Amerika Serikat menunjukkan hasil positif. Perempuan yang menggunakan Wegovy tercatat mengalami risiko migrain 42% hingga 45% lebih rendah dibandingkan kelompok yang hanya menjalani terapi hormon menopause.
Data riset yang dipresentasikan oleh Novo Nordisk dan dilaporkan media farmasi internasional drugtopics.com ini juga memperlihatkan dampak baik pada kesehatan mental. Pengguna semaglutide menunjukkan risiko depresi 25% lebih rendah daripada mereka yang sekadar menggunakan terapi hormon menopause.Temuan ini semakin memperkuat perhatian terhadap terapi berbasis glucagon-like peptide-1 (GLP-1) receptor agonist. Obat ini dinilai memiliki efektivitas yang lebih luas di luar fungsi utamanya sebagai pengelola obesitas dan diabetes.
Selain berpengaruh pada kesehatan mental dan neurologis, data uji klinis STEP UP membuktikan semaglutide efektif membantu penurunan berat badan di seluruh fase menopause. Peserta pramenopause dengan obesitas yang menggunakan semaglutide dosis 7,2 mg mengalami penurunan berat badan rata-rata hingga 22,6% dalam 72 minggu terapi. Lebih dari 41% peserta bahkan sukses memangkas berat badan hingga 25% atau lebih.
Penurunan berat badan juga dialami oleh kelompok perempuan perimenopause dan pascamenopause, masing-masing sebesar 19,7% dan 19,8%. Riset ini turut mencatat penyusutan lingkar pinggang secara signifikan pada seluruh kelompok yang menjadi indikator berkurangnya lemak visceral pemicu risiko penyakit metabolik serta kardiovaskular.
Melalui analisis lain dari studi SELECT, pemakaian semaglutide pada perempuan menopause dengan obesitas dan penyakit jantung dikaitkan dengan penurunan risiko serangan jantung, stroke, serta kematian akibat penyakit kardiovaskular.
Tantangan Hormonal dan Kualitas Hidup Perempuan
Berdasarkan data ECO 2026, hampir satu dari lima perempuan di dunia hidup dengan kondisi obesitas. Risiko ini cenderung meningkat selama masa menopause karena adanya pergeseran hormonal yang memengaruhi distribusi lemak tubuh sekaligus kesehatan metabolik.
"Perubahan hormonal selama menopause dapat meningkatkan berat badan sekaligus memperbesar risiko serangan jantung pada perempuan obesitas," kata Group Vice President dan Head of Global Medical Affairs Novo Nordisk, Mette Thomsen.
Menurut Mette Thomsen, terapi semaglutide tidak sekadar membantu mengatasi komplikasi medis akibat obesitas. Pengobatan ini juga membantu mengurangi migrain, depresi, serta tantangan menopause lain yang memengaruhi kualitas hidup perempuan.
"Menopause masih menjadi salah satu area yang kurang mendapat perhatian dalam riset obesitas global," ujar Associate Professor dari University of Helsinki, Emilia Huvinen.
Emilia Huvinen menilai manfaat semaglutide tampak melampaui sekadar penurunan berat badan karena berkaitan langsung dengan kesehatan jantung dan kualitas hidup pasien.
Popularitas terapi GLP-1 seperti Wegovy dan Ozempic terus melonjak di tingkat global. Hingga Maret 2026, terapi GLP-1 telah mewakili hampir 8% dari seluruh resep obat yang ditebus di Amerika Serikat, dengan kenaikan resep baru obat anti-obesitas sekitar 21,7% dalam periode Desember 2025 hingga Maret 2026.
Meskipun hasil penelitian ini dinilai sangat menjanjikan, para peneliti menegaskan bahwa sebagian temuan terkait migrain dan depresi masih bersifat observasional. Oleh karena itu, riset lanjutan tetap diperlukan demi memastikan hubungan sebab-akibat secara langsung.
Di sisi lain, pasar terapi obesitas berbasis GLP-1 kini memasuki babak baru. Hal ini terjadi setelah hadirnya inovasi sediaan formulasi oral atau pil di pasar Amerika Serikat pada awal tahun 2026 yang turut mengubah peta persaingan obat obesitas global.