Upaya menjaga berat badan ideal sering kali terbentur pada fenomena lonjakan angka timbangan yang kembali naik secara drastis setelah sukses berdiet. Dikutip dari Lifestyle, kondisi ini bukan sekadar masalah disiplin, melainkan akibat sistem biologis tubuh yang menyimpan rekaman masa lalu.
Laporan Science Alert pada 2 Mei 2026 mengungkapkan bahwa sel-sel imun manusia memiliki memori terhadap kondisi obesitas yang pernah dialami sebelumnya. Rekaman molekuler ini tetap bertahan meski seseorang telah berhasil mencapai tubuh yang lebih langsing.
Keberadaan memori seluler tersebut menjadi pemicu utama risiko penyakit kronis dan kembalinya berat badan berlebih, atau yang populer dengan sebutan efek yoyo. Penelitian selama satu dekade menunjukkan sel T helper membawa ingatan jangka panjang ini hingga 10 tahun.
Program ulang pada sistem imun ini menyebabkan tubuh tetap berada dalam kondisi pro-inflamasi atau peradangan yang persisten. Akibatnya, penyintas obesitas tetap berisiko tinggi terkena diabetes tipe 2 serta beberapa jenis kanker tertentu.
"Temuan kami menunjukkan bahwa sistem imun menyimpan rekaman molekuler dari paparan metabolik masa lalu, yang memiliki implikasi bagi risiko penyakit jangka panjang dan proses pemulihan," tutur Belinda Nedjai, pakar epidemiologi molekuler dari Queen Mary University London.
Proses ini terjadi melalui metilasi DNA, di mana gugus metil mengubah aktivitas gen tanpa mengganti urutan DNA aslinya. Pada individu yang pernah mengalami obesitas, metilasi ini membuat perilaku sel T helper menjadi tidak teratur.
Dampak pada Fungsi Sel Tubuh
Gangguan akibat memori obesitas ini menyerang dua fungsi utama dalam sel manusia. Pertama adalah autofagi, yakni proses pembersihan limbah seluler alami yang menjadi tidak optimal karena pengaruh rekaman masa lalu.
Kedua adalah penuaan imun atau immune senescence, yang mempercepat penuaan sel-sel pertahanan tubuh akibat paparan lemak berlebih di masa sebelumnya. Kondisi ini memperumit proses pemulihan kesehatan secara menyeluruh.
"Obesitas adalah penyakit kronis progresif dan kambuhan. Temuan kami memberikan pemahaman lebih lanjut tentang mekanisme molekuler yang mendorong risiko kambuh tersebut," jelas Andy Hogan, pakar imunologi dari Maynooth University.
Butuh Waktu Lama untuk Pulih
Memori molekuler ini tidak bisa dihapus hanya dalam hitungan bulan setelah diet dinyatakan berhasil. Para ahli menekankan perlunya manajemen berat badan yang konsisten dan berkelanjutan agar pengaruh negatif pada sel T dapat perlahan memudar.
Estimasi waktu yang dibutuhkan agar memori obesitas benar-benar hilang berkisar antara 5 hingga 10 tahun. Tanpa pengelolaan gaya hidup jangka panjang, sel-sel ini akan terus mendorong tubuh kembali ke kondisi metabolik lama yang tidak sehat.
"Penurunan berat badan jangka pendek mungkin tidak langsung mengurangi risiko beberapa kondisi penyakit. Pemeliharaan berat badan yang berkelanjutan kemungkinan membutuhkan waktu 5 hingga 10 tahun agar memori obesitas itu benar-benar hilang," ungkap Claudio Mauro, pakar imunologi dari University of Birmingham.
Pengembangan medis di masa depan diharapkan dapat memanfaatkan obat-obatan tertentu untuk mempercepat pembersihan sel-sel yang membawa memori tersebut. Fokus utama bagi individu yang berjuang adalah kesabaran dalam mempertahankan pola hidup sehat.
"Obesitas dikaitkan dengan modifikasi epigenetik tahan lama yang memengaruhi perilaku sel imun," tutur Belinda Nedjai menekankan pentingnya kewaspadaan jangka panjang bagi penyintas obesitas.