Sektor perhotelan di wilayah Jakarta masih tertahan dalam fase pemulihan yang cukup berat sepanjang kuartal pertama tahun 2026. Kondisi ini terjadi meskipun mobilitas masyarakat telah kembali berjalan normal seperti sediakala.
Industri ini belum mampu melepaskan diri dari tekanan rendahnya tingkat hunian serta melambatnya ekspansi pasokan kamar baru di ibu kota. Hotel-hotel di Jakarta kini harus berhadapan dengan situasi pasar yang mulai jenuh.
Selain persaingan yang ketat, para pelaku usaha juga dibayangi oleh biaya operasional yang terus menanjak. Dilansir dari Kompas, Head of Research Colliers Indonesia, Ferry Salanto, memberikan analisisnya terkait situasi ini.
Menurut Ferry Salanto, tantangan utama yang dihadapi sektor perhotelan saat ini adalah ketidakseimbangan antara suplai dan permintaan yang belum kunjung stabil. Strategi harga yang agresif dinilai tidak lagi cukup untuk mendongkrak performa bisnis.
Pasar hotel di Jakarta saat ini sedang mengalami stagnasi yang nyata bagi para pemilik properti. Mereka kini terjepit di antara keharusan menjaga standar layanan serta rendahnya daya serap pasar yang ada.
\\"Tanpa adanya dorongan dari kegiatan bisnis berskala besar atau agenda internasional yang masif, okupansi akan sulit menembus angka ideal,"\\ujar Ferry dalam laporan Colliers Quarterly Q1-2026 yang dikutip dari Kompas pada Senin, 20 April 2026. Hal ini menunjukkan ketergantungan yang tinggi pada acara-acara besar.
Berdasarkan data operasional hingga April 2026, jumlah kamar hotel di Jakarta tercatat hanya mengalami pertumbuhan yang sangat tipis. Penundaan penyelesaian proyek pembangunan hotel kini menjadi fenomena umum.
Para investor cenderung menahan diri untuk menggelontorkan modal di sektor ini karena tingkat pengembalian modal yang melambat. Total pasokan kumulatif hotel di Jakarta saat ini telah mencapai angka 48.750 kamar.
Rata-rata tingkat okupansi atau hunian hotel berada di level 52,4 persen. Angka tersebut masih berada jauh dari performa sebelum masa pandemi yang biasanya mampu stabil di atas level 65 persen.
Meskipun rata-rata tarif kamar harian mengalami kenaikan tipis sebesar 3 persen, hal ini bukan mencerminkan peningkatan permintaan. Kenaikan tersebut lebih disebabkan oleh inflasi pada biaya energi dan bahan baku operasional.
Pembukaan Hotel Baru yang Sangat Terbatas
Beberapa hotel yang awalnya dijadwalkan mulai beroperasi pada awal tahun ini terpaksa menggeser target mereka. Jadwal pembukaan digeser ke akhir tahun 2026 atau bahkan masuk ke tahun 2027.
Hingga Maret 2026, tercatat hanya sedikit properti baru yang akhirnya dibuka untuk umum. Salah satunya adalah Fairmont Signature Suite yang menambah kapasitas terbatas di wilayah Jakarta Pusat.
Selain itu, terdapat Park Hyatt Extension yang lebih fokus menyasar segmen pasar mewah dengan cakupan yang sangat terbatas. Di sisi lain, persaingan di kelas menengah semakin memanas dengan kehadiran hotel baru.
Kehadiran Hotel Bintang 3 di Jakarta Barat menambah panjang daftar hotel kelas menengah yang harus berjuang keras berebut tamu. Mereka beroperasi di ceruk pasar yang sama dengan persaingan harga yang ketat.
Kelemahan pada Segmen MICE
Ketergantungan hotel-hotel di Jakarta pada segmen Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE) kini menjadi titik lemah. Hal ini dipicu oleh berkurangnya anggaran perjalanan dinas dari berbagai korporasi.
Peralihan rapat ke platform digital secara permanen telah memotong jalur pendapatan utama bagi hotel-hotel di kawasan Sudirman-Thamrin. Segmentasi pasar kini menjadi satu-satunya cara bagi pengusaha untuk tetap bertahan.
Ferry Salanto menambahkan bahwa hotel yang tidak memiliki identitas kuat atau fasilitas MICE mumpuni akan semakin tertinggal. Perubahan perilaku konsumen menuntut adaptasi yang lebih cepat dari para pemilik hotel.
\\"Kita melihat ada perubahan perilaku konsumen. Hotel tidak bisa lagi hanya menjual kamar. Mereka harus menjadi pusat gaya hidup atau destinasi kerja yang fleksibel. Jika hanya mengandalkan tamu menginap konvensional, bisnis ini akan terus merana,"\\tambah Ferry sebagai penegasan atas perlunya inovasi dalam model bisnis perhotelan di Jakarta saat ini.