Tanggal 17 Mei menyimpan banyak makna mendalam melalui berbagai peringatan penting, baik di sesama warga negara Indonesia maupun dalam lingkup masyarakat internasional. Dikutip dari Kiaton, momen ini menjadi waktu untuk memperingati peristiwa bersejarah, mengampanyekan isu kesehatan, hingga memperkuat literasi.
Masyarakat Indonesia memperingati Hari Buku Nasional serta Hari Ulang Tahun Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) pada tanggal ini. Sementara pada skala global, tanggal 17 Mei diperingati sebagai Hari Hipertensi Sedunia dan Hari Telekomunikasi dan Masyarakat Informasi Sedunia.
Selain itu, momen ini juga menjadi tonggak sejarah bagi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sejarah mencatat adanya peristiwa Proklamasi Kalimantan yang terjadi pada tahun 1949 silam.
Melansir data dari Kemendikbud, peringatan Hari Buku Nasional setiap 17 Mei digagas pertama kali oleh Menteri Pendidikan Nasional Abdul Malik Fadjar pada tahun 2002. Langkah ini diambil sebagai strategi nyata demi mendongkrak budaya membaca di tanah air.
Pemilihan tanggal tersebut didasarkan pada momentum berdirinya Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Kehadiran hari besar ini menjadi pengingat kolektif mengenai fungsi vital buku dalam menyebarkan ilmu pengetahuan, mendukung pendidikan, dan membentuk karakter bangsa.
Pada masa modern ini, Hari Buku Nasional juga mengemban misi penting. Peringatan ini menjadi media ajakan bagi publik agar tetap merawat kebiasaan membaca, baik melalui media cetak konvensional maupun platform digital.
Perpustakaan Nasional Republik Indonesia sendiri resmi didirikan pada 17 Mei 1980. Lembaga negara ini memegang tanggung jawab besar dalam mengarsipkan literasi nasional, menjaga manuskrip kuno, dan memperluas akses membaca bagi masyarakat.
Perpusnas terus berinovasi dengan menyediakan layanan berbasis digital, menggerakkan program literasi, dan mendampingi pertumbuhan perpustakaan di berbagai daerah. Perayaan ulang tahun lembaga ini biasanya diisi lewat pameran buku, edukasi, dan seminar literasi.
Peringatan Kesehatan dan Teknologi Global
Berdasarkan catatan dari WHO, tanggal 17 Mei diposisikan sebagai World Hypertension Day atau Hari Hipertensi Sedunia. Kampanye global ini bertujuan memupuk kesadaran publik terhadap bahaya tekanan darah tinggi yang kerap dijuluki sebagai "silent killer".
Penyakit hipertensi berpotensi besar memicu komplikasi fatal yang merusak tubuh. Beberapa di antaranya meliputi serangan jantung, stroke, kerusakan pembuluh darah, hingga risiko gagal ginjal.
Melalui gerakan Hari Hipertensi Sedunia, masyarakat dunia diimbau untuk memeriksa tekanan darah secara berkala. Publik juga diarahkan untuk membatasi konsumsi garam, berolahraga secara teratur, menjaga pola makan, dan mengelola tingkat stres.
Di samping isu kesehatan, tanggal ini juga dirayakan sebagai World Telecommunication and Information Society Day. Peringatan tersebut dilaksanakan untuk mengenang momen berdirinya International Telecommunication Union (ITU) pada tahun 1865.
Fokus utama dari hari besar ini adalah menonjolkan peran vital teknologi informasi dalam menyokong peradaban modern. Transformasi digital terbukti mampu mempercepat jalur komunikasi global, mempermudah akses kesehatan, membantu sektor pendidikan, dan menggerakkan ekonomi.
Menolak Lupa Proklamasi Kalimantan 1949
Dalam lembaran sejarah perjuangan bangsa, 17 Mei menjadi hari lahirnya Proklamasi Kalimantan pada tahun 1949. Peristiwa ini merupakan bentuk pernyataan sikap dan ikrar kesetiaan dari segenap rakyat Kalimantan.
Melalui momentum ini, warga Kalimantan menegaskan secara resmi bahwa wilayah mereka merupakan bagian sah yang tidak terpisahkan dari Republik Indonesia. Gerakan ini lahir di tengah pergolakan politik pascakemerdekaan demi mempertahankan kedaulatan.
Peristiwa bersejarah ini merefleksikan tingginya rasa nasionalisme dan semangat persatuan yang kuat. Sikap tersebut ditunjukkan oleh masyarakat Kalimantan dalam membela dan merawat keutuhan wilayah NKRI dari ancaman luar.