Sejarah Kontroversial Berlian Koh-i-Noor Milik Kerajaan Inggris

Sejarah Kontroversial Berlian Koh-i-Noor Milik Kerajaan Inggris
Foto: Ilustrasi Sejarah Kontroversial Berlian Koh-i-Noor Milik Kerajaan Inggris.

Berlian Koh-i-Noor tetap menjadi salah satu perhiasan paling ikonik sekaligus memicu perdebatan panjang dalam sejarah Kerajaan Inggris. Permata dengan bobot 105,6 karat ini merupakan bagian dari koleksi Crown Jewels yang terus mengundang kontroversi terkait asal-usul kepemilikannya.

Dilansir dari Wolipop, pertanyaan mendasar mengenai bagaimana berlian tersebut berpindah dari tanah India ke Inggris kembali mencuat saat konteks kerajaan modern dibahas. Berlian ini tercatat terpasang pada mahkota milik ibu dari Ratu Elizabeth II.

Mahkota tersebut dirancang khusus pada 1937 dalam rangka penobatan Raja George VI dengan hiasan sekitar 2.800 berlian. Koh-i-Noor diletakkan pada posisi yang sangat mencolok, yakni tepat di bagian depan mahkota.

Setelah wafatnya ibu Ratu Elizabeth pada 2002, perhiasan mewah ini sempat diletakkan di atas peti jenazahnya sebagai bentuk penghormatan terakhir. Saat ini, mahkota tersebut menjadi salah satu koleksi publik yang disimpan di Tower of London.

Secara garis keturunan, kepemilikan permata ini diwariskan kepada Camilla, istri Raja Charles III. Namun, saat prosesi penobatan Raja Charles III, Camilla memilih untuk tidak mengenakan mahkota yang mengandung Koh-i-Noor.

Langkah tersebut diambil guna menghindari potensi kontroversi yang meluas di mata publik internasional. Sebagai gantinya, ia menggunakan mahkota Ratu Mary yang telah melalui proses modifikasi.

Jauh sebelum menjadi simbol kemegahan Inggris, Koh-i-Noor memiliki akar sejarah yang kuat di India sejak abad ke-15. Dokumentasi awal menunjukkan berlian ini merupakan koleksi berharga pada masa Kekaisaran Mughal.

Bahkan, permata ini sempat menghiasi Tahta Merak yang melegenda milik Shah Jahan. Seiring pergantian kekuasaan, berlian tersebut terus berpindah tangan melalui berbagai penaklukan, mulai dari penguasa Persia hingga jatuh ke tangan kerajaan Sikh.

Di bawah kepemimpinan Maharaja Ranjit Singh, berlian ini menjadi simbol kedaulatan Sikh. Namun, titik balik yang paling diperdebatkan terjadi pada 1849 saat situasi politik tidak menguntungkan pihak India.

Maharaja muda Duleep Singh yang baru berusia 10 tahun dipaksa menandatangani dokumen yang menyatakan penyerahan Koh-i-Noor kepada pihak Inggris. Peristiwa inilah yang menandai awal berlian tersebut dimiliki oleh Ratu Victoria dan diwariskan turun-temurun.

Tuntutan Pengembalian dan Tekanan Internasional

Hingga saat ini, tuntutan agar berlian tersebut dikembalikan ke asalnya masih terus bergulir. Pemerintah India tercatat telah berulang kali mengajukan permohonan pengembalian sejak meraih kemerdekaan pada 1947.

Isu ini kembali mencuat setelah Wali Kota New York, Zohran Mamdani, memberikan pernyataan terkait status permata tersebut. Wali kota keturunan Amerika-India itu menyatakan niatnya untuk mendorong pengembalian berlian kepada pihak kerajaan.

"Jika saya berbicara secara terpisah dengan Raja, saya mungkin akan mendorongnya untuk mengembalikan berlian Koh-i-Noor," ujar Zohran Mamdani.

Meskipun belum ada kepastian apakah topik ini dibahas secara langsung dalam pertemuan resmi, tekanan internasional terhadap Inggris tetap terasa. Narasi resmi pihak kerajaan Inggris sendiri cenderung menyebutkan bahwa permata itu adalah pemberian sukarela.

Pihak kerajaan menyatakan bahwa Koh-i-Noor merupakan objek yang dipenuhi mitos dan diberikan kepada Ratu Victoria pada 1849. Namun, sejarawan menilai istilah pemberian tersebut tidak sesuai dengan fakta lapangan yang terjadi di masa lalu.

"Orang-orang diajarkan bahwa ini adalah hadiah dari India ke Inggris. Saya ingin sejarah yang sebenarnya ditampilkan bersama berlian itu," kata sejarawan Anita Anand.

Bagi masyarakat India, berlian ini bukan sekadar perhiasan mahal, melainkan simbol sejarah yang diambil dalam kondisi ketidakadilan. Polemik mengenai hak milik sah atas Koh-i-Noor pun masih menjadi sumber perdebatan global yang belum menemui titik temu.

Artikel terkait

Rekomendasi