Tanggal 1 Mei setiap tahunnya menyimpan makna mendalam bagi bangsa Indonesia karena bertepatan dengan dua peristiwa besar yang bersejarah. Selain diperingati sebagai Hari Buruh Internasional, tanggal tersebut juga menandai momen krusial pembebasan Irian Barat ke pangkuan Ibu Pertiwi.
Dilansir dari Suara, Hari Buruh menjadi simbol perjuangan hak-hak pekerja, sementara Hari Pembebasan Irian Barat merupakan tonggak kedaulatan penuh Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kedua peringatan ini memiliki latar belakang perjuangan yang panjang dan penuh pengorbanan.
Peringatan Hari Pembebasan Irian Barat setiap 1 Mei merupakan puncak dari upaya Indonesia menyatukan wilayah dari Sabang sampai Merauke. Perjuangan ini berakar dari ketidakjelasan status Papua Barat setelah Konferensi Meja Bundar (KMB) pada tahun 1949.
Meskipun Belanda telah mengakui kedaulatan Indonesia, mereka tetap berupaya mempertahankan wilayah Papua Barat. Hal ini memicu ketegangan diplomatik yang cukup lama hingga akhirnya pemerintah Indonesia meluncurkan Tri Komando Rakyat (Trikora) pada tahun 1961 untuk mengambil langkah tegas.
Intervensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui Persetujuan New York pada 15 Agustus 1962 akhirnya meredam potensi konflik bersenjata yang lebih luas. Berdasarkan kesepakatan tersebut, Belanda diwajibkan menyerahkan kekuasaan administratif Papua kepada otoritas sementara PBB yang dikenal sebagai United Nations Temporary Executive Authority (UNTEA).
Setelah masa transisi usai, UNTEA menyerahkan sepenuhnya administrasi Papua Barat kepada pemerintah Indonesia tepat pada 1 Mei 1963. Momen bersejarah ini ditandai dengan berkibarnya bendera Merah Putih di bumi Cendrawasih sekaligus mengakhiri masa penjajahan Belanda di tanah Nusantara.
Akar Sejarah Hari Buruh Internasional atau May Day
Selain isu kedaulatan wilayah, 1 Mei juga menjadi momentum solidaritas bagi kelas pekerja di seluruh dunia melalui peringatan Hari Buruh atau May Day. Gerakan ini lahir dari tuntutan mendasar para buruh untuk mendapatkan kondisi kerja yang lebih manusiawi.
Peristiwa yang menjadi pemicu utama adalah Tragedi Haymarket di Chicago, Amerika Serikat, pada Mei 1886. Saat itu, ribuan buruh melakukan unjuk rasa besar untuk menuntut pengurangan jam kerja menjadi 8 jam sehari, dari yang sebelumnya bisa mencapai 16 jam kerja dalam sehari.
Aksi massa yang awalnya berlangsung damai tersebut berakhir menjadi kerusuhan berdarah setelah terjadi ledakan bom. Insiden memilukan ini mengakibatkan jatuhnya korban jiwa baik dari pihak pengunjuk rasa maupun aparat kepolisian yang bertugas mengamankan lokasi.
Pada tahun 1889, Kongres Sosialis Internasional di Paris secara resmi menetapkan 1 Mei sebagai hari libur bagi kaum buruh sedunia. Di Indonesia sendiri, Hari Buruh sempat mengalami dinamika politik dan pernah dilarang selama era Orde Baru karena dikaitkan dengan ideologi tertentu sebelum akhirnya kembali diperingati secara terbuka.