Istilah sedekah di Tanah Suci kini tidak hanya terbatas pada pemberian harta atau makanan bagi sesama. Dilansir dari Cahaya, muncul sebuah tren kebaikan baru yang dikenal dengan sebutan "sedekah barcode" di kalangan jemaah haji yang sedang berada di Madinah.
Inisiatif ini hadir sebagai solusi bagi jemaah haji yang ingin membantu sesamanya agar dapat merasakan pengalaman beribadah di Raudhah. Akses masuk ke taman surga tersebut saat ini memang mewajibkan penggunaan kode batang dari aplikasi Nusuk.
Mekanisme sedekah barcode dilakukan oleh jemaah yang sudah berhasil mendaftar jadwal kunjungan lewat akun pribadi, namun secara sukarela memberikannya kepada jemaah lain. Fokus utamanya adalah membantu mereka yang belum pernah berkunjung atau memiliki keterbatasan dalam menggunakan ponsel pintar.
Penerapan sistem digital dalam proses ziarah membawa hambatan tersendiri, terutama bagi para lansia. Minimnya kemampuan mengoperasikan teknologi menjadi kendala nyata bagi sebagian jemaah Indonesia saat berada di lapangan.
Koordinator Bimbingan Ibadah Sektor 5 Daker Madinah, Miftahul Anwar, mengungkapkan bahwa banyak jemaah yang memiliki ponsel tetapi tidak memahami cara mendaftar. Ada pula jemaah yang memang tidak membawa perangkat seluler sama sekali.
"Jamaah kita ada yang memiliki telepon genggam, tetapi tidak bisa mendaftar karena gaptek. Ada pula yang tidak membawa telepon seluler," kata Miftahul Anwar.
Tim Pembimbing Ibadah (Bimbad) merespons kondisi tersebut dengan melakukan sosialisasi rutin setiap hari. Petugas mulai bergerak setelah waktu Ashar hingga menjelang tengah malam demi memastikan seluruh jemaah dalam rombongan mendapatkan hak yang sama.
"Kami tidak menginginkan dalam satu kamar misalnya, berisi empat orang, tiga orang bisa berkunjung tiga-empat kali, namun satu orang belum sekali pun," ujar Miftahul.
Praktik Berbagi di Tanah Suci
Sekitar 40 persen dari total jemaah haji asal Indonesia masuk dalam kategori lansia. Kondisi ini membuat peran sedekah barcode menjadi sangat krusial agar tidak ada jemaah yang merasa tertinggal hanya karena masalah teknis.
"Karena itu, kami membantu mereka untuk bisa ke Raudhah. Bahkan kami menyosialisasikan adanya sedekah barcode," tutur Miftahul.
Secara teknis, jemaah yang sudah pernah masuk ke Raudhah tetap melakukan pendaftaran melalui akun Nusuk pribadinya. Namun, setelah mendapatkan barcode yang sah, akses tersebut diberikan kepada jemaah lain yang masih kesulitan menembus sistem pendaftaran.
"Jadi jamaah tersebut mendaftarkan dengan akun Nusuk, namun tidak dipakai untuk dirinya sendiri. Justru disedekahkan kepada jamaah lain karena dirinya sudah pernah ke Raudhah," kata Miftahul.
Apresiasi datang dari Muhammad Subhan, ketua regu kloter 39 Solo (SOC 39), yang merasakan langsung manfaat inisiatif ini bagi anggotanya. Ia menilai dedikasi petugas sangat membantu proses ibadah di tempat mustajab tersebut.
"Petugas memberikan pelayanan baik, tidak hanya mengedukasi soal kartu Nusuk, bahkan mengantar kami para jamaah hingga ke pintu Raudhah," kata Muhammad Subhan.