Sebut Kata 'Bom' karena Sindrom Tourette, Remaja Ini Diusir dari Pesawat: Viral dan Mengejutkan 2026

Sebut Kata 'Bom' karena Sindrom Tourette, Remaja Ini Diusir dari Pesawat: Viral dan Mengejutkan 2026
Foto: Sebut Kata 'Bom' karena Sindrom Tourette, Remaja Ini Diusir dari Pesawat: Viral dan Mengejutkan 2026. (Illustration by Pexels)

Sebuah insiden kurang menyenangkan menimpa seorang remaja berusia 13 tahun penderita Sindrom Tourette saat hendak terbang bersama keluarganya. Remaja bernama Mason Entwistle tersebut dilarang masuk ke pesawat British Airways (BA) di Bandara Gatwick, Inggris, setelah gejala medisnya kambuh secara tiba-tiba.

Kondisi saraf yang dideritanya membuat Mason mengeluarkan kata "bom" di luar kendalinya saat berada di area keberangkatan. Hal ini memicu tindakan tegas dari pihak maskapai yang kemudian melibatkan polisi bersenjata untuk mengawal keluarga tersebut keluar dari terminal.

Memahami Sindrom Tourette dan Gejala Tik

Sindrom Tourette sendiri merupakan gangguan saraf yang menyebabkan seseorang melakukan gerakan atau suara berulang yang tidak disengaja, atau dikenal dengan istilah 'tik'. Munculnya gejala ini sering kali dipicu oleh kondisi psikologis tertentu seperti tingkat stres yang tinggi, rasa cemas, hingga kelelahan ekstrem.

Keluarga Mason sebenarnya sudah melakukan persiapan matang dengan melaporkan kondisi disabilitas sang anak kepada pihak maskapai jauh sebelum hari keberangkatan. Ayahnya, Martyn Entwistle, menyadari bahwa perjalanan udara bisa memicu kecemasan hebat pada putranya.

Fakta mengenai kondisi Mason saat berada di bandara:

  • Mason mengenakan kalung tali bermotif bunga matahari (sunflower lanyard) sebagai simbol disabilitas tersembunyi.
  • Keluarga membawa surat diagnosis resmi dari dokter untuk menjelaskan kondisi medis Mason secara legal.
  • Gejala 'tik' muncul dalam bentuk teriakan kata tertentu secara histeris akibat rasa cemas yang memuncak saat mengantre.

Tanda dan dokumen tersebut dibawa untuk memastikan pihak bandara maupun maskapai memahami kebutuhan khusus yang dimiliki oleh sang remaja selama perjalanan.

Kronologi Penolakan oleh British Airways

Saat keluarga besar yang berjumlah 10 orang itu hendak menuju garbarata, seorang manajer operasional British Airways menghentikan langkah mereka. Pihak maskapai memutuskan untuk menolak seluruh rombongan keluarga inti karena alasan keamanan penerbangan.

Dalam sebuah rekaman video di lokasi, petugas menegaskan bahwa penolakan tersebut bukan disebabkan oleh disabilitas yang dimiliki Mason. Keputusan itu diambil murni karena adanya ucapan yang dianggap sebagai ancaman keamanan bagi penumpang lain dan awak kabin.

Berikut adalah kerugian yang dialami keluarga akibat insiden tersebut:

Jenis Kerugian Detail Informasi
Tiket Pesawat Hangus Sekitar 4.000 pound sterling atau setara Rp83 juta.
Biaya Tiket Baru Tambahan 2.400 pound sterling atau sekitar Rp50 juta.
Dampak Psikologis Trauma berat pada anak dan rasa bersalah yang mendalam.

Data di atas menunjukkan beban finansial dan mental yang cukup besar harus ditanggung oleh keluarga Entwistle akibat kebijakan kaku maskapai.

Dampak Traumatis dan Perjuangan Sang Ayah

Keputusan maskapai tersebut berdampak buruk pada kondisi mental Mason yang langsung menangis histeris di lantai bandara. Ia terus meminta maaf kepada orang-orang di sekitarnya karena merasa kondisinya telah mengacaukan rencana liburan keluarga.

Suasana menjadi semakin menegangkan ketika aparat kepolisian bersenjata lengkap datang untuk menggiring Mason beserta orang tua dan adiknya keluar. Padahal, kakak perempuan Mason yang berusia 16 tahun tetap diizinkan terbang bersama rombongan teman-temannya.

Meski diliputi trauma, Martyn Entwistle tetap bersikeras membawa keluarganya berlibur ke Spanyol keesokan harinya menggunakan maskapai lain. Ia ingin menanamkan pola pikir pada putranya bahwa kondisi medis tidak boleh membatasi haknya untuk menikmati hidup dan bepergian.

Martyn menegaskan bahwa tindakannya memesan tiket ulang adalah soal prinsip agar anaknya tidak merasa rendah diri di masa depan. Ia berharap kejadian ini menjadi teguran keras bagi industri penerbangan dalam menangani penumpang berkebutuhan khusus secara lebih manusiawi.

Di sisi lain, pihak British Airways menyampaikan penyesalan atas ketidaknyamanan yang terjadi melalui pernyataan resminya. Namun, mereka tetap berdalih bahwa situasi di lapangan sangat kompleks dan keselamatan operasional merupakan prioritas yang tidak bisa ditawar.

Artikel terkait

Rekomendasi