Sarden Kalengan Viral di Media Sosial Jadi Perdebatan Label UPF

Sarden Kalengan Viral di Media Sosial Jadi Perdebatan Label UPF
Foto: Ilustrasi Sarden Kalengan Viral di Media Sosial Jadi Perdebatan Label UPF.

Diskusi mengenai sarden kalengan dan produk sejenis sedang ramai diperbincangkan di media sosial. Banyak masyarakat baru menyadari bahwa produk ini ternyata tidak selalu termasuk dalam kriteria Ultra Processed Food atau UPF.

Pemahaman baru tersebut mengubah pandangan publik yang semula menganggap sarden kalengan sebagai makanan kurang sehat. Dilansir dari Detik Health, penilaian kesehatan pangan tidak sesederhana pelabelan UPF atau non-UPF.

Ikan kalengan melewati tahap pemrosesan sehingga masuk dalam kategori makanan olahan atau processed food. Proses pengolahan dan pengalengan ini bertujuan agar sarden dapat disimpan dalam jangka waktu yang lebih lama.

Pengawetan produk dilakukan melalui berbagai metode, termasuk sterilisasi suhu tinggi agar mikroorganisme tidak tumbuh. Beberapa produk juga memanfaatkan bahan pengawet dengan dosis aman yang sesuai regulasi.

Berdasarkan pantauan pada Selasa (19/5/2026), komponen utama makanan kalengan ini adalah ikan seperti sarden, makarel, atau tuna. Persentase bahan utama beragam mulai dari 20-an persen hingga mencapai 60 persen.

Bahan pendukung lain yang biasa ditambahkan meliputi air, minyak, saus tomat, gula, garam, cabai, bawang, dan rempah-rempah. Komposisi pada beberapa produk relatif sederhana dan menyerupai bahan masakan rumahan.

Garam natrium ditambahkan untuk memperpanjang daya simpan sekaligus memperkuat cita rasa. Saus tomat berfungsi menjaga kestabilan produk selama penyimpanan, sedangkan minyak menjaga tekstur ikan tetap lembut setelah sterilisasi.

Penggunaan Bahan Tambahan Pangan

Beberapa produk sarden kalengan menggunakan bahan tambahan industri yang sering dikaitkan dengan kriteria UPF. Bahan tersebut antara lain natrium benzoat yang berfungsi menghambat pertumbuhan mikroba.

Penyedap rasa seperti mononatrium L-glutamat atau MSG juga sering digunakan untuk memperkuat rasa gurih. Selain itu, pati termodifikasi ditambahkan agar tekstur saus menjadi lebih kental dan tidak mudah terpisah.

Pengatur keasaman seperti asam sitrat digunakan untuk menjaga kestabilan rasa. Merek tertentu juga menambahkan pengemulsi atau pengental sejenis gum agar konsistensi saus tetap stabil.

Klasifikasi Sarden dalam Sistem NOVA

Sistem klasifikasi NOVA membagi makanan menjadi empat tingkatan berdasarkan prosesnya. Kategori pertama adalah makanan tidak diproses atau minim proses, sedangkan kategori kedua merupakan bahan kuliner terproses seperti minyak dan gula.

Produk yang diolah sederhana dengan tambahan garam atau minyak masuk dalam kategori Processed Food atau NOVA 3. Sarden kalengan dengan komposisi sederhana seperti ikan, garam, dan saus tomat dasar termasuk dalam kelompok ini.

Sementara itu, produk yang mengandung MSG, pengawet, pati termodifikasi, dan pengemulsi masuk kategori Ultra Processed Food atau NOVA 4. Penggunaan formulasi industri ini mengubah klasifikasinya meskipun bentuk asli ikannya tidak berubah.

Dua produk sarden kalengan dapat berada pada klasifikasi NOVA yang berbeda tergantung pada bahan tambahannya. Food and Agriculture Organization atau FAO menyatakan bahwa membaca daftar komposisi adalah cara praktis memahami tingkat pengolahan produk.

Aspek Nutrisi dan Kesehatan

Penilaian kesehatan pangan juga dipengaruhi oleh kandungan gula, garam, dan lemak atau GGL. Produk ikan kalengan dengan kadar natrium tinggi perlu dibatasi oleh penderita hipertensi, begitu pula saus dengan kandungan gula tinggi.

Meski demikian, ikan kalengan tetap menyediakan manfaat gizi yang nyata bagi tubuh. Kandungan protein dan omega 3 di dalamnya sangat penting untuk menjaga kesehatan jantung serta memenuhi kebutuhan protein harian.

Artikel terkait

Rekomendasi