Proyeksi pasar saham domestik mengalami penyesuaian ke bawah. Langkah ini diambil setelah mencermati performa emiten sepanjang kuartal I-2026 serta gejolak ekonomi eksternal yang masih membayangi.
Dikutip dari Investortrust, PT Samuel Sekuritas Indonesia kini menetapkan target realistis Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG pada level 7.500 untuk tahun ini dalam skenario dasar atau base case.
Koreksi proyeksi ini dipicu oleh depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang diperkirakan masih membebani operasional emiten. Pertumbuhan laba bersih emiten secara keseluruhan pada tahun 2026 diestimasi hanya mencapai sekitar 2%.
ÔÇ£Lately kami baru downgrade pascapengumuman kinerja kuartal I-2026. Earnings growth untuk full year 2026 dalam base scenario kami perkirakan hanya sekitar 2%,ÔÇØ ujar Prasetya Gunadi selaku Head of Equity Research Samuel Sekuritas Indonesia di Menara Imperium, Rasuna Said, Jakarta, Kamis (7/5/2026).
Sektor perbankan menjadi faktor utama yang melandasi penurunan target ini karena memiliki bobot yang sangat besar terhadap pergerakan indeks. Penurunan harga saham di sektor ini dipastikan akan langsung menyeret posisi IHSG secara signifikan.
ÔÇ£Cut terbesar datang dari saham-saham bank karena bobotnya besar di IHSG. Jadi, kalau saham bank turun, pengaruhnya signifikan,ÔÇØ tegas Prasetya Gunadi.
Tekanan pada industri perbankan dipicu oleh penyusutan margin bunga bersih atau net interest margin. Meskipun beban dana sudah melandai sejak akhir tahun lalu, imbal hasil kredit justru merosot lebih tajam akibat ketatnya perebutan pasar di segmen korporasi.
Kebijakan pemerintah yang menginstruksikan bank-bank Himpunan Bank Milik Negara untuk mengalirkan kredit murah lewat program Kredit Usaha Rakyat juga turut menggerus margin keuntungan.
ÔÇ£Loan yield akan berat ke depan karena persaingan kredit korporasi tinggi, dan pemerintah juga mendorong bunga kredit yang lebih rendah untuk UMKM,ÔÇØ kata Prasetya Gunadi.
Stabilitas nilai tukar rupiah yang terganggu juga berisiko menurunkan kualitas aset perbankan. Jika tren pemburukan ini berlanjut, perbankan terpaksa mempertebal alokasi biaya pencadangan atau provisi yang akan langsung memotong perolehan laba bersih.
ÔÇ£Kalau kondisi seperti ini berlanjut, terutama rupiah terus melemah, ada potensi asset quality di-downgrade dan itu akan berpengaruh ke provisi,ÔÇØ tutur Prasetya Gunadi.
Perhitungan target wajar IHSG di level 7.500 ini menggunakan landasan asumsi rasio harga terhadap laba bersih atau fair price to earnings ratio sebesar 12,3 kali. Sementara itu, perkiraan laba per saham atau earnings per share tahun 2026 dipatok pada angka 606,7.
ÔÇ£Fair P/E multiple kami perkirakan di 12,3 kali. Dengan EPS 2026 sebesar 606,7, kami dapat fair index target di 7.500,ÔÇØ jelas Prasetya Gunadi.
Di sisi lain, Samuel Sekuritas juga memetakan skenario terburuk atau bearish jika tekanan global dan pelemahan indikator fundamental terus memburuk. Pada kondisi tersebut, IHSG diprediksi bisa merosot hingga ke level 6.300.
Namun, jika muncul sentimen positif atau skenario bullish, indeks berpeluang menembus level 8.000. Skenario optimistis ini dapat terjadi dengan syarat pertumbuhan keuntungan emiten mampu menyentuh 5% dan valuasi pasar naik ke P/E 12,9 kali.
ÔÇ£Nah, kalau bull scenario, earnings growth masih bisa 5% dengan fair P/E sekitar 12,9 kali,ÔÇØ ujar Prasetya Gunadi.