Seorang pelaku usaha kuliner sehat di kawasan Tebet, Jakarta, Hikma Nurul Audhliya, sukses mengembangkan bisnis Salad Umma hingga meraup omzet jutaan rupiah per hari. Capaian ini diraih setelah ia mendapatkan pendampingan dan pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk pada tahun 2025.
Dilansir dari Detik Finance, Hikma memulai bisnisnya dari nol setelah profesi sebelumnya sebagai penata rias terdampak pandemi. Krisis ekonomi tersebut memaksa perempuan berusia 38 tahun ini menjual aset demi menutupi kerugian pembatalan pesanan pernikahan sebelum akhirnya beralih ke sektor makanan sehat.
"Akhir 2020 itu semua pesanan wedding di-cancel karena pandemi. Padahal uang DP sudah masuk ke vendor dekor, tenda, bunga. Akhirnya semua dijual, baju dijual, alat make-up dijual. Intinya closing, sudah pasrah," ujarnya kepada detikcom di Tebet, Jakarta, beberapa waktu lalu.
Mantan perias wajah ini kemudian memanfaatkan sisa modal dari program pelatihan pemerintah untuk membeli peralatan sederhana. Melalui riset mandiri, ia memilih bisnis salad sayur karena proses produksinya yang ringkas tanpa memerlukan bahan bakar minyak atau gas.
"(Waktu itu) pikir apa ya usaha yang nggak pake kompor, ringkas, mudah, nggak perlu minyak, nggak perlu gas, tapi mengakomodir kebutuhan masyarakat saat ini yang ingin hidup sehat, jadi pilih salad sayur," ungkap Hikma Nurul Audhliya, Pemilik Salad Umma.
Transformasi bisnis terjadi saat Hikma mengajukan pinjaman KUR sebesar Rp100 juta melalui Kantor BRI Unit Tebet Barat. Dana tersebut dialokasikan untuk mengubah area parkir rumahnya menjadi gerai fisik yang kini melayani pesanan rutin dari instansi pemerintah hingga pesanan harian masyarakat umum.
"Itu kemudahannya. Terus trust orang juga beda ya. Pas sudah punya outlet ini. Orderan itu meningkat," jelas Hikma Nurul Audhliya, Pemilik Salad Umma.
Lonjakan penjualan paling signifikan tercatat pada momentum Ramadan, di mana permintaan paket hantaran membuat pendapatan harian menyentuh angka Rp6 juta. Keberadaan gerai fisik tersebut memudahkan operasional produksi tanpa terhambat sistem prapesan yang sebelumnya diterapkan di dapur rumah.
"Ternyata ya soft opening di September 2025 itu sepertinya tuh momen yang tepat karena tuh kayak gini (hasilnya), berarti emang persiapan buat Ramadan matang jadi pas begitu datang Ramadan kita udah lihat ritme customer-nya tuh udah kelihatan. Tapi ternyata walaupun bisa memprediksi kayak gitu, terjadi aja lonjakan, orang makin trust, terus bisnis kita juga berkembang ya secara omzet, secara relasi," kenangnya Hikma Nurul Audhliya, Pemilik Salad Umma.
Kesuksesan ini juga memberikan dampak sosial dengan terbukanya lapangan kerja bagi mahasiswa dan warga sekitar. Hikma memperkerjakan mahasiswa kewirausahaan untuk mengelola pemasaran di acara bazar serta melibatkan istri pengurus masjid setempat untuk membantu operasional gerai harian.
"Sebelum ada outlet. Kalau orang telepon. Kita bilang enggak ada. Karena kita bikin by order ya. Kalau sekarang mah, orang lewat mampir, orang mau mesen (banyak), kita lihat stok. Kalau bahan ada kita langsung buatin saat itu juga. Mau di pick up, mau di kirim, jadi nggak ada hambatan," jelas Hikma Nurul Audhliya, Pemilik Salad Umma.
Pendampingan intensif dari tenaga pemasar bank menjadi kunci utama dalam proses peningkatan skala bisnis tersebut. Hikma menyatakan bahwa arahan yang jelas dari pihak perbankan membantunya dalam merancang strategi pengembangan usaha yang lebih terstruktur.
"Kenal sama Pak Nicko (Mantri BRI) di bank, arahnya jelas mau scale up. Pak Nicko yang bantu dampingi terus. Dia juga yang mendorong untuk naik kelas," jelas Hikma Nurul Audhliya, Pemilik Salad Umma.
Pihak pengelola bisnis ini menekankan bahwa kualitas bahan baku tetap menjadi prioritas utama dengan menggunakan pemasok sayur dan buah premium. Strategi tersebut diterapkan demi menjaga kepercayaan pelanggan lama meskipun harus menghadapi fluktuasi harga bahan di pasar.
"Kalau high season bisa bazar satu hari di beberapa tempat. Hire mahasiswa, mahasiswa kewirausahaan. Kebetulan suami dosen di Universitas Saintek Muhammadiyah, Ciracas," ungkap Hikma Nurul Audhliya, Pemilik Salad Umma.
Penempatan mahasiswa di lokasi bazar dilakukan karena kemampuan komunikasi mereka yang dinilai lebih efektif dalam menjelaskan nilai produk kepada konsumen baru. Hal ini dianggap sebagai solusi atas tantangan edukasi pasar di lokasi-lokasi penjualan yang berbeda setiap harinya.
"Katanya mereka teori-teori terus, bosan ya, jadi dikasih praktik kemarin (bazar) di balai kota, ada yang dinas ketahanan pangan, ada yang di mall point square, lebak bulus," imbuhnya Hikma Nurul Audhliya, Pemilik Salad Umma.
Selain aspek pemberdayaan, fokus pada pelayanan konsumen dilakukan dengan memberikan penjelasan mendalam mengenai detail kandungan produk kuliner sehat yang ditawarkan. Hikma menganggap pengetahuan produk sebagai fondasi utama bagi tenaga penjualnya.
"Kalau ditempatkan bazar di tempat baru, ya harus itu, aku bilang harus bisa menjelaskan produk knowledgenya harus bagus diterangin ini itu juga, yaudah ada nih ini nih gitu yaudah boleh," katanya Hikma Nurul Audhliya, Pemilik Salad Umma.
Dalam operasional harian, kepastian ketersediaan stok bahan baku menjadi faktor penentu kelangsungan bisnis. Penggunaan pemasok tetap dipilih untuk meminimalisir risiko mendapatkan bahan dengan kualitas yang tidak konsisten dari pasar tradisional.
"Kalau belanja di pasar itu kadang-kadang bukan buah yang saat itu datang, jadi di berbagai kondisi bahannya, ngaruh juga ke produk kita," jelas Hikma Nurul Audhliya, Pemilik Salad Umma.
Manajemen Salad Umma lebih memilih margin keuntungan yang sedikit lebih rendah asalkan kualitas produk tetap terjaga secara berkelanjutan. Kepuasan pelanggan menjadi tolok ukur utama dalam menjaga loyalitas konsumen terhadap merek kuliner tersebut.
"Jadi mendingan harga mahal sedikit tapi penjualannya berkesinambungan, jadi orang nggak kecewa, jadi maintain customer lamanya seperti itu," tambahnya Hikma Nurul Audhliya, Pemilik Salad Umma.
Secara terpisah, Mantri BRI Unit Tebet Barat, Nicko Irawan, mengonfirmasi bahwa proses verifikasi dan survei dilakukan secara cepat sebelum menyetujui pengajuan modal tersebut. Dukungan ini diharapkan mampu mendorong lahirnya berbagai inovasi produk sehat di masa mendatang.
"Kita berharap semakin banyak inovasi produk Salad Umma, dan semoga usaha ke depan semakin berkembang lagi," ungkap Nicko Irawan, Mantri BRI Unit Tebet Barat.
Berdasarkan data keuangan triwulan I 2026, BRI mencatatkan total aset sebesar Rp2.250 triliun dengan penyaluran kredit segmen UMKM mencapai Rp1.211 triliun. Direktur Utama BRI menegaskan komitmen perusahaan untuk terus memperkuat sektor ekonomi kerakyatan melalui portfolio pembiayaan yang solid.
"Segmen UMKM tetap menjadi pilar utama dalam portfolio pembiayaan BRI," pungkas Hery Gunardi, Direktur Utama BRI.