Nilai saham Samsung Electronics mengalami lonjakan signifikan lebih dari 10 persen pada sesi perdagangan Selasa (5/5/2026). Kenaikan pesat ini dipicu oleh tingginya antusiasme investor terhadap sektor kecerdasan buatan (AI) yang terus berkembang pesat.
Lonjakan harga saham tersebut dilansir dari Money berhasil mendorong nilai kapitalisasi pasar Samsung hingga melewati angka 1 triliun dollar AS. Pencapaian ini menempatkan Samsung sebagai perusahaan asal Asia kedua yang meraih valuasi tersebut setelah raksasa chip TSMC.
Penguatan posisi Samsung di pasar modal tidak lepas dari laporan kinerja keuangan periode kuartal I 2026 yang menunjukkan angka impresif. Mengutip data CNBC, perseroan berhasil mencatatkan pertumbuhan laba yang sangat masif dibandingkan periode sebelumnya.
Samsung melaporkan perolehan laba operasional sebesar 57,2 triliun won, sebuah angka yang meningkat hingga delapan kali lipat lebih jika dikomparasikan dengan tahun lalu. Pendapatan total perusahaan juga menembus rekor baru di angka 133,9 triliun won.
Keberhasilan finansial pada tiga bulan pertama tahun 2026 ini bahkan tercatat melampaui seluruh total laba yang dikumpulkan Samsung sepanjang tahun buku 2025. Sebagai perbandingan, laba setahun penuh pada 2025 hanya mencapai 43,6 triliun won.
Selain faktor internal, sentimen positif pasar didorong oleh laporan Bloomberg mengenai potensi kolaborasi strategis dengan Apple. Perusahaan pimpinan Tim Cook tersebut dikabarkan tengah menjajaki kemitraan dengan Samsung dan Intel untuk memproduksi chip di wilayah Amerika Serikat.
Upaya ini dipandang sebagai langkah Apple untuk mengurangi ketergantungan pada satu pemasok utama. Strategi diversifikasi manufaktur chip tersebut diharapkan mampu memperkuat rantai pasok perangkat Apple di masa depan.
Tren positif ini turut memberikan dampak berantai bagi produsen memori lainnya di Korea Selatan. Saham SK Hynix terpantau ikut terkerek naik dengan penguatan mencapai lebih dari 9 persen pada periode yang sama.
Melesatnya sektor semikonduktor membawa pengaruh besar terhadap Indeks Kospi yang melonjak lebih dari 5 persen. Indeks acuan bursa Korea Selatan tersebut akhirnya berhasil menembus level psikologis 7.000 untuk pertama kalinya dalam sejarah.
Kondisi Pasar Asia-Pasifik dan Faktor Makroekonomi
Kenaikan di bursa Seoul sejalan dengan optimisme yang melanda pasar saham Asia-Pasifik secara keseluruhan. Sebagian besar bursa regional mengawali perdagangan di zona hijau, mengikuti jejak penguatan yang terjadi di Wall Street Amerika Serikat.
Solidnya kinerja keuangan emiten serta penurunan harga minyak mentah menjadi katalis tambahan bagi kepercayaan diri para pelaku pasar. Di sisi lain, kondisi geopolitik global memberikan sinyal perbaikan yang menenangkan suasana perdagangan.
Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump menyatakan bahwa langkah-langkah diplomasi di kawasan Timur Tengah mulai menunjukkan progres positif. Salah satu indikatornya adalah penghentian sementara operasi pengawalan armada kapal di wilayah strategis Selat Hormuz.
Situasi ini berdampak langsung pada melandainya harga energi di pasar internasional. Harga minyak jenis West Texas Intermediate tercatat mengalami penurunan sekitar 1,96 persen, sementara harga minyak Brent terkoreksi sebesar 1,27 persen.
Melemahnya harga energi dunia tersebut secara otomatis meningkatkan minat beli investor terhadap aset-aset berisiko tinggi. Sektor teknologi menjadi salah satu bidang yang paling diuntungkan dari pergeseran aliran modal investor global saat ini.