Sejumlah saham milik konglomerat Prajogo Pangestu bergerak agresif hingga menyentuh batas auto rejection atas (ARA) di Bursa Efek Indonesia pada perdagangan Jumat (29/5/2026). Dilansir dari Investortrust, lonjakan harga saham ini terjadi di tengah pelaksanaan rebalancing indeks MSCI dan peningkatan minat beli investor asing.
Data perdagangan mencatat saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) melonjak 25 persen ke level 3.300. Sementara itu, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) melesat 24,75 persen ke posisi 630 dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) menguat 24,76 persen ke level 1.940.
Kenaikan maksimal juga dialami saham PT Petrosea Tbk (PTRO) yang melonjak 24,87 persen menjadi 4.670. Di sisi lain, saham PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) menguat 12,58 persen ke posisi 850, sedangkan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) justru melemah 6,05 persen ke level 1.785.
Kondisi pasar modal ini mendapat perhatian dari analis yang melihat adanya pergerakan modal masuk dari investor global. Aliran dana asing tersebut menjadi salah satu pemicu utama bangkitnya saham-saham dengan kapitalisasi pasar besar.
"Penguatan IHSG sesi I hari ini memang cukup menarik karena ditopang kombinasi foreign flow, membaiknya market sentiment regional, serta rebound pada saham-saham konglomerasi dan grup besar termasuk saham terkait Prajogo Pangestu. Pergerakan ini mengindikasikan adanya rotasi dana kembali ke saham-saham dengan market cap besar dan liquidity tinggi setelah sebelumnya cukup lama tertekan," ujar Elandry Pratama, Pengamat pasar modal.
Kendati menunjukkan pertumbuhan yang signifikan pada paruh pertama perdagangan, pelaku pasar diingatkan untuk tetap mencermati stabilitas tren ini. Fase pemulihan saat ini dinilai masih memerlukan konfirmasi lebih lanjut dari volume perdagangan harian.
"Saat ini, kami melihat pasar masih berada pada fase rebound dan short term risk appetite mulai pulih. Jadi investor tetap perlu melihat konsistensi volume transaksi dan keberlanjutan aliran dana asing dalam beberapa hari ke depan," kata Elandry Pratama, Pengamat pasar modal.
Berbeda dengan lonjakan saham grup Prajogo Pangestu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru ditutup melemah tipis 2,81 poin atau 0,05 persen ke level 6.127. Padahal, pada sesi pertama perdagangan, indeks sempat melesat hingga 1,43 persen ke posisi 6.217.
Pelemahan IHSG menjelang penutupan dipicu oleh penurunan tajam saham-saham perbankan berkapitalisasi besar. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) anjlok 4,60 persen ke posisi 5.700, yang merupakan level terendah dalam lebih dari lima tahun terakhir.
Tekanan bertambah seiring penurunan saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebesar 3,91 persen ke posisi 2.950. Saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) juga merosot 3,65 persen ke level 3.700, diikuti PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang turun 1,21 persen ke level 4.080.
Untuk perdagangan pekan depan, indeks domestik diproyeksikan berpotensi melanjutkan penguatan secara bertahap. Hal tersebut dapat terjadi dengan catatan situasi global tetap kondusif serta nilai tukar rupiah berada dalam posisi stabil.
"Tetapi volatilitas masih cukup tinggi sehingga potensi profit taking juga tetap perlu diwaspadai, terutama pada saham-saham yang sudah naik agresif dalam waktu singkat," jelas Elandry Pratama, Pengamat pasar modal.
Investor disarankan untuk tetap memprioritaskan saham-saham yang didukung oleh fundamental kuat serta memiliki likuiditas yang baik. Valuasi yang masuk akal juga menjadi poin penting yang harus diperhatikan dalam pemilihan aset.
"Sementara untuk trader jangka pendek, momentum rebound dapat dimanfaatkan tetapi tetap disiplin menjaga risk management karena pergerakan pasar masih sangat sentiment driven," ujar Elandry Pratama, Pengamat pasar modal.