Krisis sampah yang berkepanjangan di Indonesia kini mulai bertransformasi menjadi tema investasi yang menarik minat pasar. PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA) memposisikan diri di tengah tren industri hijau yang disokong penuh oleh pemerintah ini.
Indonesia tercatat memproduksi sekitar 37,3 juta ton sampah setiap tahun, namun hampir 68% hanya menumpuk di tempat pembuangan akhir tanpa diproses. Seperti dilansir dari Investortrust, intervensi lembaga pengelola dana abadi Danantara beserta kepastian harga dari pemerintah mengubah proyek pengolahan sampah menjadi energi (waste-to-energy/WtE) menjadi bisnis infrastruktur yang menjanjikan.
Sentimen positif yang mengelilingi OASA didorong oleh terbitnya Peraturan Presiden (Perpres) No. 109 Tahun 2025. Kebijakan ini berfungsi meminimalkan risiko sektor tersebut dengan menetapkan tarif listrik konstan sebesar $0.20 per kWh serta jaminan Perjanjian Jual Beli Listrik (PPA) selama 30 tahun.
Analis Samuel Sekuritas Indonesia (SSI Research), Juan Harahap dan Ahnaf Yassar, menjelaskan dalam laporan "Waste to Wealth" pada Kamis, 8 Mei 2026, bahwa perubahan regulasi ini merupakan pengubah permainan bagi industri. Dukungan dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan pemerintah daerah dinilai memberikan kepastian struktural yang dinantikan investor.
Pendanaan dan Ekspansi Jabodetabek
Guna mendanai ekspansi masifnya, OASA tengah membidik modal segar senilai $74 juta. Manajemen berencana menarik pinjaman utang sebesar $52 million, sedangkan sisa $22 juta akan dihimpun melalui skema rights issue.
Seluruh dana tersebut dialokasikan untuk membangun infrastruktur krusial di wilayah Jabodetabek. OASA saat ini menguasai 76% saham proyek pengolahan sampah di Tangerang Selatan berkapasitas 1.100 ton per hari untuk menghasilkan listrik 25 megawatt. Selain itu, perusahaan memegang 28% saham di fasilitas Jakarta Barat yang mampu menampung 2,000 ton sampah setiap hari.
Proyeksi Keuntungan Finansial
"OASA berada di posisi yang tepat untuk menangkap peluang WtE karena dukungan regulasi yang kuat dan kebutuhan mendesak Indonesia akan pengelolaan sampah," tulis SSI Research dalam laporannya.
Kinerja finansial emiten ini diproyeksikan berbalik positif pada 2029 dengan potensi tambahan EBITDA tahunan mencapai Rp 250 miliar atau setara $15.7 million setelah utilitas fasilitas mencapai 80%. Kepercayaan pasar tercermin dari harga saham OASA yang sudah melesat 63.6% sepanjang tahun 2026 berjalan. Saat ini perusahaan juga bersiap membidik tender gelombang kedua dari Danantara, setelah PT Binakarya Jaya Abadi Tbk (BIPI) masuk membeli 20% saham salah satu anak usahanya.