Indeks IDX Value30 dinilai memiliki kemampuan untuk memproteksi portofolio investasi dari dampak guncangan pasar saham. Dikutip dari Investasi, terdapat sejumlah karakteristik yang membuat konstituen indeks ini cenderung bertahan di tengah tingginya volatilitas.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menjabarkan tiga karakteristik utama yang membentengi indeks tersebut. Karakteristik pertama adalah valuasi murah yang membatasi penurunan harga lebih dalam karena memiliki margin of safety yang terbentuk sebelum koreksi terjadi.
Karakteristik kedua terletak pada aspek fundamental solid yang mencerminkan arus kas kuat dan tahan terhadap siklus pasar. Sementara faktor ketiga adalah tingkat likuiditas tinggi yang memberikan kenyamanan bagi investor institusi untuk mempertahankan posisi mereka.
"Koreksi yang lebih rendah dibandingkan IHSG dalam sebulan mengonfirmasi migrasi investor ke saham berkualitas di tengah ketidakpastian," ujarnya, Selasa (19/5/2026).
Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Arinda Izzaty menambahkan bahwa peningkatan volatilitas mendorong pelaku pasar melakukan rotasi portofolio. Investor cenderung beralih dari saham pertumbuhan dan saham dengan indikator beta tinggi menuju saham defensif.
Saham berbasis valuasi ini umumnya mempunyai indikator price to earnings (PER) dan price to book value (PBV) yang lebih rendah, namun tetap konsisten menghasilkan laba serta arus kas stabil. Hal inilah yang mendasari ketahanan kinerja IDX Value30.
Konstituen indeks ini didominasi oleh sektor perbankan besar, telekomunikasi, energi, dan konsumer. Sektor-sektor tersebut memiliki pendapatan berulang serta imbal hasil dividen menarik yang menjadikannya sebagai tempat berlindung aman di pasar domestik.
Tekanan eksternal seperti ketegangan geopolitik, pelemahan mata uang rupiah, dan aksi jual oleh investor asing memicu pilihan investasi pada emiten fundamental kuat. Risiko penurunan harga saham yang sudah terdiskon dinilai lebih terbatas dibandingkan saham spekulatif.
"Likuiditas tinggi juga penting karena memudahkan investor institusi melakukan akumulasi maupun keluar tanpa menekan harga terlalu dalam," ungkap dia, Selasa (19/5).
Arinda melihat prospek performa IDX Value30 ke depan masih sangat menarik, terutama saat pasar saham dalam negeri mulai masuk ke fase pemulihan. Berdasarkan data historis, saham berbasis valuasi biasanya mencatatkan kinerja lebih unggul pada tahap awal pemulihan pasar.
Potensi pemulihan indeks harga saham gabungan dapat didorong oleh saham-saham berkapitalisasi besar dalam IDX Value30 ketika tekanan global mereda. Indikator peredaan tersebut meliputi penurunan imbal hasil obligasi Amerika Serikat, stabilisasi rupiah, dan ekspektasi penurunan suku bunga global.
Faktor eksternal dan domestik lain tetap akan memengaruhi pergerakan indeks ini. Beberapa di antaranya meliputi kebijakan suku bunga Bank Indonesia serta The Fed, aliran dana asing, stabilitas harga komoditas, pertumbuhan laba bersih emiten, dan kondisi ekonomi nasional.
"Namun, kenaikan IDX Value30 kemungkinan akan lebih gradual dibanding saham lapis dua atau saham growth karena karakter indeks ini memang lebih defensif dan berbasis fundamental," jelas Arinda.
Abida juga memproyeksikan saham-saham dalam indeks ini memiliki peluang untuk mencatatkan kinerja lebih unggul saat pasar pulih. Saham berbasis fundamental kuat secara historis mempunyai potensi pemulihan yang lebih kokoh dan berkelanjutan daripada saham pertumbuhan berprestasi premium.
Pelaku pasar disarankan melakukan akumulasi pembelian secara bertahap ketimbang berspekulasi menunggu titik harga terendah mutlak. Investor dapat memprioritaskan saham dengan dividend yield di atas 4% sebagai bantalan portofolio.
Langkah mitigasi risiko lainnya adalah memangkas porsi kepemilikan pada emiten yang memiliki eksposur dolar AS besar tanpa lindung nilai alami. Selain itu, mempertahankan porsi kas di kisaran 20% sampai 25% sangat dianjurkan.
"Momentum paling tepat masuk adalah saat rupiah mulai stabil dan net sell asing mulai melandai," tutur Abida.
Dari sudut pandang strategi, Arinda menyarankan agar konstituen IDX Value30 ditempatkan sebagai instrumen investasi jangka menengah hingga panjang. Strategi ini sangat cocok untuk pemodal yang mengutamakan stabilitas kualitas fundamental ketimbang aksi spekulatif.
Meski demikian, kecermatan tetap diperlukan untuk menilai apakah harga murah sebuah saham terjadi akibat reaksi pasar yang berlebihan atau karena pemburukan kinerja fundamental. Momentum masuk terbaik biasanya muncul saat pasar berada dalam fase konsolidasi atau ketika terjadi panic selling.
"Strategi bertahap seperti buy on weakness dan dollar cost averaging juga lebih relevan dibanding langsung masuk agresif di tengah volatilitas pasar yang masih tinggi," terang dia.
Untuk pilihan saham spesifik di dalam indeks IDX Value30, Arinda mengemukakan bahwa saham TLKM dan ICBP dapat menjadi bahan pertimbangan bagi investor. Target harga yang disematkan untuk masing-masing saham tersebut berada pada level Rp 3.900 per saham dan Rp 10.000 per saham.