Saham-saham milik konglomerat Prajogo Pangestu mengalami kejatuhan signifikan pada perdagangan Rabu (13/5/2026) menyusul pengumuman MSCI Rebalancing Index yang mengeluarkan tiga perusahaan miliknya dari daftar konstituen global.
Seperti dilansir dari Investor Daily, keputusan tersebut mendepak emiten BREN, TPIA, dan CUAN, bersama tiga saham emiten lain yaitu AMMN, DSSA, dan AMRT dari indeks MSCI Global Standard.
Akibat pengumuman ini, dalam satu hari perdagangan saham BREN langsung merosot 11,36 persen, TPIA terkoreksi 14,85 persen, serta CUAN melemah sebesar 10,05 persen.
Koreksi ini juga menyeret emiten Prajogo Pangestu lainnya seperti BRPT yang turun 8,77 persen, PTRO terpangkas 6,51 persen, dan CDIA melemah hingga 4,72 persen.
Penurunan tajam pada saham TPIA, BREN, BRPT, dan CUAN tersebut menjadi penekan utama yang membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambles 1,98 persen ke level 6.723.
Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menganalisis bahwa pergerakan negatif ini dipicu oleh aksi jual teknis dan aliran dana keluar pasca-pengumuman indeks tersebut.
"Tekanan jangka pendek masih mungkin berlanjut sampai proses rebalancing selesai. Tapi untuk jangka lebih panjang, arahnya akan ditentukan fundamental, likuiditas, dan kemampuan emiten jaga pertumbuhan bisnis," kata Wafi.
Pihaknya memproyeksikan manajemen grup akan menyiapkan sejumlah strategi untuk memulihkan kepercayaan pasar global.
"Saya rasa, langkah yang kemungkinan dilakukan Grup Prajogo adalah memperkuat story fundamental dan meningkatkan market confidence. Misalnya lewat ekspansi bisnis, menjaga pertumbuhan earnings, memperbesar free float/liquidity, hingga memperkuat komunikasi ke investor institusi global," ujar Wafi.
Meskipun reputasi pemilik masih menjadi penggerak pasar, efektivitas sentimen tersebut saat ini dinilai mulai terbatas karena fokus beralih pada valuasi.
"Tetapi efektivitasnya untuk mengangkat saham saat ini tidak sebesar dulu. Karena market mulai lebih fokus ke valuasi dan sustainability earnings. Jadi, premium valuation ke depan kemungkinan lebih terbatas dibandingkan fase euforia sebelumnya," tutur Wafi.
Secara prospek bisnis jangka panjang, emiten TPIA dinilai masih prospektif karena integrasi petrokimia, sedangkan BREN didukung oleh tren energi terbarukan.
"Untuk saham, saya melihat investor sebaiknya lebih selektif. TPIA masih menarik untuk jangka panjang karena fundamental bisnisnya makin terdiversifikasi pasca integrasi Aster. BREN juga tetap menarik dengan tema EBT, tetapi volatilitasnya kemungkinan masih tinggi pasca MSCI. Target harga saham TPIA di Rp 5.250 dan BREN Rp 3.250," ujar Wafi.
Sementara itu, Investment Analyst Infovesta Kapital Advisory Ekky Topan memberikan pandangan bahwa keluarnya saham tersebut memicu penyesuaian portofolio dari manajer investasi pasif.
"Namun, setelah fase penyesuaian indeks selesai, tekanan jual berpotensi mulai mereda dan pergerakan harga akan kembali lebih ditentukan oleh fundamental masing-masing emiten. Dengan demikian, koreksi jangka pendek masih berisiko berlanjut, tetapi tidak otomatis mengubah prospek bisnis jangka panjang seluruh emiten tersebut," ujar Topan.
Menurutnya, manajemen emiten harus berfokus pada perbaikan aspek aksesibilitas investasi global untuk mengatasi sentimen negatif saat ini.
"Upaya tersebut dapat dilakukan melalui peningkatan free float, komunikasi yang lebih aktif dengan investor institusi maupun investor asing, serta konsistensi dalam membuktikan kinerja operasional dan pertumbuhan bisnis secara berkelanjutan," kata Topan.
Topan menilai kualitas pertumbuhan dan struktur kepemilikan saham kini menjadi perhatian utama para investor internasional.
"Dari sisi saham, saya melihat tekanan terhadap pergerakan harga ketiga emiten tersebut masih cukup besar dalam jangka pendek. Karena itu, pendekatan yang lebih bijak saat ini adalah wait and see terlebih dahulu sampai tekanan sentimen MSCI mereda dan pasar mulai membentuk keseimbangan harga baru," jelas Topan.
Di tengah tekanan pasar, Prajogo Pangestu melaporkan telah melepas 1 miliar lembar saham CUAN miliknya pada tanggal 11 Mei 2026 dengan harga Rp 1.035 per saham.
Melalui transaksi senilai Rp 1,03 triliun ini, porsi kepemilikannya di CUAN menyusut menjadi 80,37 persen dari sebelumnya yang mencapai 81,26 persen.
"Tujuan transaksi untuk menambah saham free float," kata Prajogo.
Bursa Efek Indonesia (BEI) sebelumnya mencatat porsi saham publik atau free float CUAN baru menyentuh angka 14,9 persen per akhir Maret 2026, di bawah target wajib sebesar 15 persen.
Kewajiban pemenuhan batas minimal free float ini juga belum terpenuhi oleh emiten BREN yang baru mencapai 12,3 persen, TPIA sebesar 10,6 persen, dan CDIA senilai 10,0 persen.
BEI memberikan tenggat waktu bagi ketiga emiten tersebut untuk memenuhi ketentuan free float minimal 12,5 persen pada Maret 2027 dan minimal 15 persen pada Maret 2028.
Sebaliknya, dua emiten lain di bawah grup yang sama yaitu BRPT dan PTRO dilaporkan sudah memenuhi kriteria regulasi dengan persentase free float masing-masing 26,7 persen dan 27,7 persen.