Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mengalami penurunan tajam pada sesi I perdagangan Selasa (19/5/2026). Emiten yang berada di bawah naungan Grup Bakrie dan Salim ini mencatatkan pelemahan sebesar 5,84% ke level Rp 194 per saham sekitar pukul 11.29 WIB.
Seperti dilansir dari Investor Daily, aktivitas perdagangan saham BUMI terhitung sangat tinggi dengan volume mencapai 3,36 miliar saham. Frekuensi transaksi tercatat sebanyak 52.773 kali dengan nilai transaksi kumulatif menyentuh Rp 686 miliar.
Dalam pergerakan pasar tersebut, saham BUMI bahkan sempat merosot hingga ke posisi Rp 182 per saham. Angka tersebut menjadi titik terendah bagi emiten batu bara ini sepanjang tahun berjalan 2026.
Aksi lepas saham oleh para investor menjadi pemicu utama koreksi dalam ini. Merujuk data dari aplikasi Stockbit Sekuritas saat pasar berlangsung, saham BUMI mencatatkan net sell sebesar Rp 350,6 miliar yang memuncaki daftar net sell di antara saham-saham lainnya. Tren negatif ini melanjutkan performa hari Senin (18/5/2026) saat saham BUMI melemah 3,74%.
Penurunan tajam ini berada di luar perkiraan teknikal yang dirilis oleh institusi sekuritas. Head of Retail Research Analyst BNI Sekuritas Fanny Suherman sebelumnya memproyeksikan target terdekat untuk saham BUMI berada di kisaran Rp 210 hingga Rp 214.
Berdasarkan analisis teknikal harian tersebut, BNI Sekuritas sebenarnya merekomendasikan area beli aman bagi para pelaku pasar modal.
"BUMI spec buy dengan area beli di 202-206, cutloss di bawah 200. Target dekat di 210-214," tulis BNI Sekuritas pada perdagangan, Selasa (19/5/2026).
Namun, tekanan jual yang masif membuat pergerakan harga saham BUMI bergerak liar hingga menembus ke bawah batas cutloss Rp 200 yang telah ditetapkan oleh analis.