RMK Energy Tuntaskan Buyback Saham Senilai Rp44,58 Miliar

RMK Energy Tuntaskan Buyback Saham Senilai Rp44,58 Miliar
Foto: Ilustrasi RMK Energy Tuntaskan Buyback Saham Senilai Rp44,58 Miliar.

PT RMK Energy Tbk (RMKE) telah merampungkan aksi korporasi berupa pembelian kembali atau buyback saham. Langkah ini dilakukan di tengah kondisi pasar yang sedang mengalami fluktuasi cukup tinggi.

Dikutip dari Market, emiten yang bergerak di bidang logistik batu bara tersebut mengalokasikan dana sebesar Rp44,58 miliar untuk mengeksekusi pembelian kembali saham perusahaan.

Berdasarkan laporan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin, 4 Mei 2026, perseroan telah membeli sebanyak 11,47 juta lembar saham. Jumlah ini setara dengan 0,26 persen dari total modal yang ditempatkan dan disetorkan.

Dana yang terserap untuk aksi korporasi tersebut mencapai 22,29 persen dari total anggaran maksimal yang direncanakan. Sebelumnya, manajemen RMKE mematok pagu biaya pembelian kembali hingga Rp200 miliar.

Pihak manajemen memberikan kepastian bahwa buyback ini tidak memberikan tekanan pada kondisi operasional perusahaan. Aspek hukum maupun kelangsungan usaha dipastikan tetap berjalan normal tanpa gangguan.

Stabilitas keuangan emiten berkode saham RMKE ini juga diklaim tetap terjaga. Seluruh pendanaan untuk proses pembelian kembali saham ini bersumber sepenuhnya dari kas internal perusahaan.

Keputusan menggunakan kas internal diambil guna menghindari munculnya kewajiban atau beban pembiayaan tambahan. Arus kas saat ini dinilai masih sangat memadai untuk mendukung seluruh operasional dan kewajiban finansial lainnya.

Periode pelaksanaan buyback ini berlangsung sejak 2 Februari 2026 hingga ditutup pada 1 Mei 2026. Seluruh transaksi pembelian dilakukan melalui mekanisme perdagangan resmi di Bursa Efek Indonesia.

Analisis Kinerja dan Tekanan Pasar

Melihat performa keuangan, pendapatan RMKE sepanjang tahun 2025 tercatat sebesar Rp2,21 triliun. Angka tersebut menunjukkan penurunan 10,1 persen jika dibandingkan perolehan tahun 2024 yang mencapai Rp2,46 triliun.

Faktor utama penyebab kontraksi ini adalah merosotnya angka penjualan batu bara sebesar 19,8 persen. Penjualan komoditas tersebut susut dari Rp1,71 triliun menjadi Rp1,37 triliun pada periode yang sama.

Pelemahan ini memberikan tantangan signifikan mengingat bisnis perdagangan batu bara merupakan penopang utama pendapatan perseroan. Kondisi pasar yang volatil akibat dinamika geopolitik menjadi faktor pemberat kinerja tahunan.

Direktur RMKE, Vincent Saputra, menyatakan bahwa kinerja sepanjang tahun masih menghadapi tekanan dari fluktuasi pasar global dan situasi domestik yang tidak menentu.

"Namun, pada kinerja semester kedua tahun lalu, terutama pada kuartal keempat kami melihat tren yang sangat membaik," kata Vincent Saputra.

Meskipun segmen perdagangan batu bara masih tertahan, manajemen melihat adanya potensi pemulihan yang kuat berdasarkan tren positif yang muncul pada penghujung tahun lalu.

Artikel terkait

Rekomendasi