Dokter Ungkap Risiko Penyakit Ginjal Kronis pada Wanita

Dokter Ungkap Risiko Penyakit Ginjal Kronis pada Wanita
Foto: Ilustrasi Dokter Ungkap Risiko Penyakit Ginjal Kronis pada Wanita.

Konsultan Ahli Nefrologi Sunway Medical Centre, Dr Rosnawati Yahya, memperingatkan risiko penyakit ginjal kronis (CKD) yang sering berkembang tanpa gejala pada wanita dalam sesi edukasi kesehatan pada Senin, 20 April 2026. Penyakit yang dijuluki pembunuh senyap ini kerap baru terdeteksi saat fungsi organ telah menurun drastis.

Dilansir dari Detik Health, mayoritas penderita CKD di Malaysia dan sekitarnya terlambat mencari bantuan medis karena stadium awal penyakit ini memang tidak menunjukkan tanda-tanda fisik yang nyata. Dr Rosnawati menekankan pentingnya kewaspadaan dini sebelum kerusakan menjadi permanen.

"Tiga stadium pertama CKD biasanya tanpa gejala. Jika Anda menunggu gejala, Anda sudah terlambat," ucap Rosnawati, yang dikutip dari The Star.

Data dari Registrasi Dialisis dan Transplantasi Malaysia tahun 2023 menunjukkan bahwa diabetes dan hipertensi menjadi pemicu utama gagal ginjal. Tercatat diabetes menyumbang 56 persen kasus, sementara tekanan darah tinggi mencapai 30 persen dari total kejadian yang ada.

Dr Rosnawati menyebutkan bahwa gejala awal sering disalahartikan oleh pasien wanita sebagai kelelahan biasa, anemia, atau efek perubahan hormon. Tanda yang perlu diwaspadai meliputi pembengkakan pada area wajah dan kaki, tubuh lemas, serta frekuensi buang air kecil yang meningkat pada malam hari.

"Wanita sering menganggap gejala-gejala ini sebagai hal biasa, menganggapnya sebagai stres, penuaan, atau perubahan hormon, bukan penyakit ginjal," jelas Rosnawati.

Perbedaan massa otot antara pria dan wanita juga memengaruhi akurasi pembacaan hasil laboratorium jika tidak dilakukan dengan teliti. Hal ini dapat menyebabkan masalah ginjal tahap awal pada wanita tidak terdeteksi melalui pemeriksaan kadar kreatinin standar saja.

"Karena wanita umumnya memiliki otot yang lebih sedikit daripada pria, kadar kreatinin yang 'normal' mungkin masih menutupi masalah ginjal tahap awal. Angka 90 mungkin baik untuk pria bertubuh besar, tetapi pada wanita bertubuh mungil, itu bisa menandakan penurunan cadangan ginjal," terang Rosnawati.

Selain faktor metabolik, penyakit autoimun seperti Lupus Eritematosus Sistemik (SLE) memiliki prevalensi lebih tinggi pada wanita dengan rasio 9 banding 1. Kondisi ini sering kali berujung pada gangguan fungsi ginjal yang serius jika tidak ditangani dengan tepat.

Risiko tambahan juga muncul dari fase kehidupan seperti kehamilan, di mana komplikasi preeklampsia atau diabetes gestasional meningkatkan risiko CKD hingga empat kali lipat. Sindrom Ovarium Polikistik (PCOS) juga diidentifikasi sebagai faktor risiko yang berkaitan erat dengan obesitas dan resistensi insulin.

"Hal ini terkait erat dengan resistensi insulin, obesitas, dan sindrom metabolik. Ini juga dapat menyebabkan diabetes dan tekanan darah tinggi di usia muda, yang keduanya merupakan penyebab utama kerusakan ginjal seiring waktu," kata Rosnawati.

Pemeriksaan rutin melalui tes darah, tes urine, dan pengecekan tekanan darah sangat disarankan bagi wanita yang memiliki riwayat penyakit penyerta. Deteksi protein dalam urine menjadi salah satu indikator awal yang paling krusial untuk mencegah ketergantungan pada prosedur dialisis di masa depan.

"Protein dalam urine adalah salah satu tanda awal kerusakan ginjal. Deteksi dini mengubah segalanya karena ada banyak pilihan pengobatan yang tersedia. Tujuan kami adalah pelestarian. Jika kita dapat mengurangi penurunan fungsi ginjal dari 10 persen per tahun menjadi hanya 2 persen, banyak pasien mungkin tidak akan pernah membutuhkan dialisis," pungkas Rosnawati.

Artikel terkait

Rekomendasi