GUDRND adalah kolektif seniman asal Jagakarsa yang merekayasa limbah alat peraga kampanye (APK) dan plastik menjadi produk fungsional bernilai estetika tinggi. Gerakan ini merupakan solusi kreatif atas ribuan ton sampah visual pasca-pemilu yang sulit terurai.
| Aspek | Detail |
|---|---|
| Nama Kolektif | GUDRND (Gud Rekayasa dan Dicoba-coba) |
| Lokasi Workshop | Jagakarsa, Jakarta Selatan |
| Founder | Moch Hasrul, Untung Sugiyarto, MG Pringgotono, Muhammad Aldino, Kautsar, Sultan |
| Material Utama | Baliho bekas, banner (APK), kantong plastik, tutup botol, limbah 3D print |
| Produk yang Dihasilkan | Kacamata, gantungan kunci, pot tanaman, alat musik, kostum |
| Metode Pengolahan | Eksperimen (perebusan, pembakaran, penggunaan oven) |
Eksplorasi Desain dan Material
Berawal dari keresahan terhadap limbah produksi face shield saat pandemi, GUDRND bertransformasi menjadi laboratorium eksperimental. Workshop mereka yang terletak di gang sempit Jagakarsa kini dipenuhi tumpukan baliho dan banner bekas yang disulap menjadi bahan baku. Fokus utama mereka saat ini adalah menangani volume sampah APK yang mencapai ratusan ribu ton dengan teknik pemanasan suhu tertentu menggunakan oven untuk menghasilkan material baru yang kokoh.
Performa dan Inovasi Produk
Meskipun dijalankan oleh para seniman dan bukan ahli kimia, produk yang dihasilkan memiliki daya tahan dan fungsi yang jelas. Dari limbah 3D print yang diolah, mereka berhasil menciptakan aksesoris seperti kacamata dan gantungan kunci. Inovasi terbaru mereka mencakup riset pengolahan limbah saset yang dikenal sangat sulit didaur ulang secara konvensional. Produk-produk ini tidak hanya berhenti sebagai pajangan, tetapi juga diintegrasikan dalam elemen seni pertunjukan seperti alat musik gitar dan bass.
Nilai Sosial dan Pemberdayaan
GUDRND mengadopsi model keterbukaan dan kolaborasi. Mereka aktif melakukan pemberdayaan masyarakat melalui workshop di desa-desa, seperti yang dilakukan di Lombok dalam ajang Pekan Kebudayaan Nasional 2023. Di sana, mereka membuktikan bahwa sampah plastik bisa menjadi bagian integral dari konsep tata panggung dan visual seni tradisional.
Kutipan Langsung
"Gud RND itu kan singkatan dari rekayasa dan dicoba-coba. Jadi diplesetin dari R&D, research and development," ujar Muhammad Aldino, Founder GUDRND.
Aldino menegaskan bahwa identitas mereka bukan sebagai ilmuwan formal melainkan sebagai praktisi seni yang belajar secara otodidak.
"Kita tuh dari awal sering nyoba-nyoba aja. Kita bukan ahli kimia, cuma teman-teman seniman yang belajar bareng," tambah Muhammad Aldino, Founder GUDRND.
Keberhasilan awal mereka bermula dari metode pemanasan material sisa yang sebelumnya dianggap tidak berguna.
"Akhirnya kita coba macam-macamÔÇödirebus, dibakar. Sampai ketemu cara yang paling pas, di-oven. Dari situ, limbah 3D print itu kita olah jadi berbagai produk," jelas Muhammad Aldino, Founder GUDRND.
Langkah mereka berlanjut ke pembersihan ruang publik dari sisa-sisa atribut politik yang berserakan.
"Setelah ini larinya kemana ya? Setelah dipasang gitu. Jadi bakal kemana ya si banner itu?," ungkap Muhammad Aldino, Founder GUDRND.
Saat ini, tim terus mengembangkan jangkauan jenis limbah yang bisa mereka proses di dalam workshop.
"Bocoran sedikit, saat ini kita lagi mencoba mengolah limbah saset," ungkap Muhammad Aldino, Founder GUDRND.
Dalam setiap ekspansinya, kolektif ini selalu menitikberatkan pada aspek pengajaran kepada komunitas lokal.
"Kita ke sana kalau programnya di GUDRND, kita kebanyakan pemberdayaan masyarakat. Jadi kita bikin workshop di desa-desa habis itu kita kolaborasi untuk pengkaryaannya," jawab Muhammad Aldino, Founder GUDRND.
Salah satu pencapaian terbesar mereka adalah memproduksi perlengkapan pertunjukan musik secara utuh dari material daur ulang.
"Konsennya kita gabungin kita mengolah limbah plastik itu jadi alat musik kayak gitar, bas, kostumnya sampe visual-nya, dan konsep tata panggungnya, itu semuanya dari Sampah," timpal Muhammad Aldino, Founder GUDRND.
Kelebihan dan Kekurangan
- Pro: Inovatif dalam mengubah limbah sulit urai (APK/baliho) menjadi produk bernilai ekonomi.
- Pro: Memiliki dampak sosial nyata melalui workshop pemberdayaan masyarakat.
- Pro: Membantu mengurangi beban sampah visual di ruang publik pasca-pemilu.
- Kontra: Akses menuju lokasi workshop di Jagakarsa cukup menantang karena jalanan sempit dan berkelok.
- Kontra: Proses produksi berbasis eksperimen (R&D) membutuhkan waktu lama sebelum menjadi produk massal.
GUDRND sangat cocok bagi kolektor produk ramah lingkungan dan pegiat sosial yang peduli pada isu sampah kota. Meski bermula dari iseng, hasil karya mereka membuktikan bahwa rekayasa sederhana di tangan seniman dapat menjadi solusi konkret atas permasalahan limbah nasional yang kompleks.