Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menyatakan bahwa proyek tanggul laut raksasa atau Giant Sea Wall di Pantai Utara (Pantura) Jawa saat ini sedang dalam proses pematangan perencanaan pada Kamis (16/4/2026). Langkah ini diambil guna memastikan proyek jangka panjang tersebut memiliki landasan teknis yang kuat sebelum memasuki tahap konstruksi fisik.
Dilansir dari Detik Finance, AHY menekankan pentingnya akurasi dalam penyusunan cetak biru karena dampak pembangunan ini akan dirasakan hingga puluhan tahun mendatang. Proyek tersebut dirancang untuk melindungi kawasan pesisir dari ancaman lingkungan yang semakin serius.
"Nah di situlah kerja besar, Ini bukan setahun-dua tahun, ini 10-20 tahun, bahkan mungkin lebih. Tetapi yang jelas harus mulai kita sempurnakan perencanaannya dulu, blueprint-nya, baru setelah itu tahap demi tahap kita mulai bangun," ujar AHY, Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan.
Kemenko Infrastruktur menyatakan dukungannya terhadap percepatan proyek ini mengingat urgensi perlindungan wilayah Pantura. Sejumlah titik di kawasan tersebut dilaporkan terus mengalami penurunan muka tanah yang disertai ancaman banjir rob berkala.
"Intinya, kami sebagai Kemenko Infrastruktur tentunya juga ingin memberikan support, memastikan karena memang perlindungan Pantura Jawa ini sudah sangat mendesak. Banyak wilayah yang semakin turun tanahnya, land subsidence, tapi juga banjir rob terus mengintai. Sehingga kita harus memproteksi, salah satunya dengan membangun tanggul laut," ujarnya AHY, Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan.
Mengenai kebutuhan dana, pemerintah masih melakukan kalkulasi mendalam untuk menentukan total anggaran yang diperlukan. Koordinasi antarlembaga terus dilakukan untuk menyinkronkan data pembiayaan tersebut.
"Ya, ini terus kita hitung dan nanti akan kita sampaikan pada kesempatan yang lain, ya," katanya AHY, Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan.
Berdasarkan data yang disampaikan Kepala Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ), Didit Herdiawan Ashaf, estimasi dana yang dibutuhkan untuk membiayai infrastruktur ini berkisar antara US$ 80 miliar hingga US$ 100 miliar. Nilai tersebut setara dengan Rp 1.344 triliun hingga Rp 1.680 triliun yang akan bersumber dari APBN serta investasi swasta.
"Tapi besar secara keseluruhan sudah ada hitungannya sekitar US$ 80 miliar sampai US$ 100," katanya Didit Herdiawan Ashaf, Kepala Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ).
Didit menjelaskan bahwa anggaran jumbo tersebut dialokasikan untuk membangun tanggul sepanjang 535 kilometer di sepanjang garis pantai utara Jawa. Konstruksi ini direncanakan memiliki daya tahan operasional dalam skala waktu berabad-abad.
"Memang biayanya besar, betul. Kita bukan bangun untuk 1 tahun, 2 tahun, tapi untuk 100, 200, 300 tahun ke depan," tuturnya Didit Herdiawan Ashaf, Kepala Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ).