Seorang remaja bernama Andi Ramadani memilih untuk tetap melestarikan aneka jajanan tradisional melalui kedai yang ia kelola saat ini. Kedai yang berlokasi di pinggir Jalan Raya Kedungrejo, Kabupaten Malang, tersebut menyajikan beragam kudapan klasik yang mulai sulit ditemukan.
Dilansir dari Kompas, Andi menjalankan usaha ini bersama rekannya yang bernama Doni. Mereka menawarkan berbagai varian kudapan seperti lupis ketan, cenil, ongol-ongol, serta sawut yang berbahan dasar singkong dan ketan bubuk.
Sajian tradisional ini disuguhkan dengan taburan parutan kelapa segar yang ditambah siraman gula merah cair. Perpaduan bahan-bahan tersebut menciptakan cita rasa manis dan gurih dalam setiap porsi yang dihidangkan kepada para pelanggan.
Eksistensi kedai ini berawal dari inisiatif Andi yang sebelumnya hanya sekadar membantu sang ibu berjualan. Seiring berjalannya waktu, ia kini mengambil alih operasional penjualan dan mengajak Doni untuk bekerja sama mengelola lapak tersebut.
Ibu Andi saat ini fokus pada proses produksi dan memasak seluruh jajanan tersebut untuk memastikan kualitas rasa tetap terjaga. Kelangkaan penjual kudapan serupa di wilayah tersebut membuat kedai milik Andi selalu dipadati oleh pembeli setiap harinya.
"Awalnya orang tua yang buat akhirnya disuruh jual, cukup jarang sekarang di Malang jadi banyak orang yang datang ke sini apalagi yang jual cowok-cowok." Terang Andi.
Daya Tarik Lintas Generasi
Pelanggan yang datang ke kedai ini berasal dari berbagai kalangan usia, mulai dari orang tua hingga kaum muda. Bagi para orang tua, menikmati jajanan ini menjadi sarana untuk bernostalgia dengan cita rasa masa lalu yang autentik.
Liati, salah satu pembeli setia, mengungkapkan bahwa ia kerap berkunjung karena rasa manis dan gurih yang ditawarkan. Ia menilai keberadaan penjual jajanan tradisional seperti ini sudah semakin jarang ditemui di era modern.
"Sering ke sini, lupisnya enak, mantab dan gurih. Sekarang sudah jarang yang jualan." Kata Liati.
Harga yang dipatok untuk setiap porsi jajanan ini tergolong sangat terjangkau, yakni senilai tujuh ribu rupiah. Dengan harga ekonomis tersebut, Andi mampu menjual hingga hampir 200 porsi jajanan tradisional dalam kurun waktu satu hari.