Kelompok ilmuwan World Weather Attribution memberikan peringatan terkait potensi kemunculan cuaca sangat ekstrem dan rekor suhu terpanas dalam sejarah pada Selasa (12/5/2026). Fenomena ini diprediksi menjadikan tahun 2026 sebagai periode terpanas akibat akumulasi emisi karbon dan pengaruh El Nino.
Data laporan tersebut menunjukkan suhu permukaan laut telah mendekati level tertinggi, sementara kebakaran hutan menghanguskan lebih dari 150 juta hektar lahan dalam empat bulan pertama tahun ini. Angka kerusakan ini tercatat 50 persen lebih tinggi dari rata-rata biasanya sebagaimana dilansir dari Lestari.
Peningkatan drastis luas lahan yang terbakar tersebut juga mencapai dua kali lipat dibandingkan catatan tahun 2024. Para ahli mengaitkan tren buruk ini dengan pembentukan fenomena El Nino yang sangat kuat di Samudra Pasifik serta kegagalan dunia dalam memangkas penggunaan bahan bakar fosil secara signifikan.
Dr. Daniel Swain dari California Institute for Water Resources menjelaskan bahwa El Nino kuat dapat mengganggu pola hujan lintas benua dan meningkatkan risiko banjir meski tanpa faktor pemanasan global. Namun, kondisi saat ini menjadi lebih berbahaya karena suhu bumi sudah memanas hampir 1,5 derajat Celsius.
"Efek ini akan menjadi jauh lebih parah karena pemanasan global yang kita alami saat ini sudah mencapai hampir 1,5 derajat C di tahun 2026," kata Dr. Daniel Swain, Ilmuwan California Institute for Water Resources.
Ia menyoroti bahwa umat manusia belum pernah menghadapi El Nino ekstrem dalam kondisi suhu bumi setinggi periode sekarang. Hal ini memicu kekhawatiran besar terhadap dampak bencana yang belum pernah terjadi sebelumnya di berbagai wilayah.
"Dalam sejarah manusia modern, kita belum pernah mengalami El Nino yang sangat kuat di tengah kondisi suhu bumi yang sudah sepanas sekarang. Oleh karena itu, tidak akan mengejutkan jika kita melihat dampak banjir, kekeringan, dan kebakaran hutan yang belum pernah terjadi sebelumnya di akhir tahun 2026 hingga 2027," tambah Dr. Daniel Swain.
Kekeringan di wilayah hutan hujan tropis seperti Amazon, Oseania, dan sebagian Asia Tenggara diprediksi memperparah risiko kebakaran hebat. Kondisi ini mengancam wilayah yang biasanya lembap dan dapat menghasilkan polusi asap PM2.5 yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia.
Dr. Jemilah Mahmood selaku Direktur Eksekutif Sunway Centre for Planetary Health menekankan bahwa panas ekstrem merupakan ancaman mematikan yang sering terabaikan. Menurutnya, bencana panas tidak sepopuler bencana lain karena sifatnya yang tidak terlihat secara visual di permukaan.
"Panas ekstrem tidak menjadi berita utama seperti bencana lainnya. Ia tidak menghasilkan foto-foto yang memicu bantuan dana darurat. Ia tidak datang dengan nama badai tertentu atau garis banjir yang terlihat," papar Dr. Jemilah Mahmood, Direktur Eksekutif Sunway Centre for Planetary Health.
Mahmood menjelaskan bahwa angka kematian resmi akibat panas mencapai 546.000 orang per tahun, namun angka sebenarnya diyakini jauh lebih tinggi. Banyak kematian akibat panas di negara berkembang tidak tercatat secara akurat atau salah diagnosis sebagai penyakit lain.
"Panas membunuh secara diam-diam, di dalam rumah, di ladang terbuka, dan pada tubuh pekerja yang tidak punya pilihan selain berada di luar ruangan. Secara resmi, 546.000 orang meninggal setiap tahun karena penyebab terkait panas. Namun, angka itu hampir pasti lebih rendah dari kenyataan karena kematian akibat panas seringkali salah dicatat, terutama di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah," kata Dr. Jemilah Mahmood.
Ia juga menyatakan keprihatinan atas sikap pemerintah berbagai negara yang mulai melunakkan komitmen iklim mereka. Penurunan ambisi politik ini dianggap bertolak belakang dengan kondisi ketidakseimbangan planet yang dilaporkan oleh Organisasi Meteorologi Dunia.
"Bahasa yang digunakan mulai melunak, ambisinya mulai berkurang, dan beberapa pihak bersikap seolah-olah krisis iklim adalah bab yang bisa kita tutup begitu saja. Atau setidaknya ditunda sampai periode pemilu berikutnya," kata Dr. Jemilah Mahmood.
Krisis iklim dipandang sebagai tantangan yang tidak bisa dihindari hanya dengan kebijakan jangka pendek. Mahmood menegaskan bahwa alam tetap beroperasi sesuai hukum fisika tanpa mempedulikan agenda politik para pemimpin dunia.
"Alam, tentu saja, tidak membaca catatan politik. Organisasi Meteorologi Dunia kini memberi tahu kita bahwa planet kita sedang dalam kondisi yang paling tidak seimbang dibandingkan waktu mana pun dalam sejarah," ungkap Dr. Jemilah Mahmood.
Dr. Friederike Otto dari World Weather Attribution menambahkan bahwa masyarakat tidak perlu panik berlebihan terhadap El Nino sebagai fenomena alam berkala. Ia menegaskan bahwa fokus utama seharusnya tetap pada penghentian penggunaan bahan bakar fosil sebagai akar masalah perubahan iklim.
"El Ni├▒o adalah fenomena alam biasa yang datang dan pergi. Sebaliknya, perubahan iklim justru akan terus memburuk selama kita tidak berhenti membakar bahan bakar fosil," ujar Dr. Friederike Otto, Pendiri World Weather Attribution.
Kekhawatiran terhadap perubahan iklim diharapkan dapat memicu aksi nyata karena teknologi untuk transisi energi sudah tersedia. Otto menyerukan pentingnya pemanfaatan pengetahuan dan teknologi saat ini untuk beralih sepenuhnya dari energi fosil.
"Jadi, perubahan iklimlah yang seharusnya membuat kita sangat khawatir. Dan idealnya, kekhawatiran itu diubah menjadi tindakan nyata karena kita sebenarnya tahu apa yang harus dilakukan. Kita sudah punya pengetahuan dan teknologi untuk beralih sepenuhnya dari penggunaan bahan bakar fosil," tambah Dr. Friederike Otto.