Analis Rekomendasi Beli Saham GOTO Jelang Target Laba 2026

Analis Rekomendasi Beli Saham GOTO Jelang Target Laba 2026
Foto: Ilustrasi Analis Rekomendasi Beli Saham GOTO Jelang Target Laba 2026.

Sejumlah analis memberikan rekomendasi beli untuk saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). Emiten teknologi ini diprediksi akan mulai mencetak laba pada tahun 2026 mendatang.

Sektor financial technology atau fintech diperkirakan menjadi pendorong utama dalam pertumbuhan kinerja perusahaan tersebut. Dilansir dari Stocksetup, kinerja GOTO menunjukkan tren perbaikan yang konsisten.

Research Analyst Deutsche Bank, Peter Milliken, melihat capaian GOTO pada kuartal IV-2025 sebagai kelanjutan tren positif selama 1,5 tahun terakhir. EBITDA yang disesuaikan pada periode itu mencapai Rp 672 miliar.

Sepanjang tahun 2025, total EBITDA yang disesuaikan tercatat sebesar Rp 2 triliun. Angka ini berhasil melampaui target yang ditetapkan manajemen sebelumnya pada rentang Rp 1,8 triliun hingga Rp 1,9 triliun.

Manajemen GOTO kini menargetkan peningkatan EBITDA yang disesuaikan menjadi Rp 3,2 triliun hingga Rp 3,4 triliun pada 2026. Peter menyebut titik balik krusial berasal dari lini fintech yang sudah profitabel.

Segmen fintech diprediksi menyumbang sekitar dua pertiga dari pertumbuhan pendapatan grup pada 2026. Pertumbuhan ini juga didukung oleh peningkatan adopsi produk pinjaman dan sistem pembayaran di dalam ekosistem.

Strategi kampanye "harga murah setiap hari" dinilai efektif meningkatkan profitabilitas. Model ini menggantikan promosi berbasis insentif yang sebelumnya diterapkan oleh perusahaan.

GOTO membidik pertumbuhan satu digit tinggi pada 2026 dengan fokus pada efisiensi biaya dan penguatan pasar massal. Strategi zonasi dan penggabungan operasional diharapkan memberikan dampak signifikan pada semester II-2026.

Analis Ciptadana Sekuritas Asia, Christopher Rusli, menyoroti solidnya kinerja unit On-Demand Services (ODS) dan fintech. Segmen fintech mencatat pendapatan bruto Rp 2,66 triliun dan GTV Rp 165 triliun.

Keberhasilan ini didorong oleh ekspansi penyaluran pinjaman serta manajemen risiko yang sangat disiplin. Sementara itu, unit ODS mencatat pendapatan bruto Rp 12,68 triliun dengan GTV mencapai Rp 56,5 triliun.

Performa ODS ditopang oleh optimalisasi berbasis AI, pendapatan iklan, serta pertumbuhan layanan mobilitas dan pengiriman. Analis OCBC Sekuritas, Gani, menilai GoTo Financial akan menjadi tuas utama profitabilitas di masa depan.

Layanan seperti GoFood Hemat dan Express terbukti mampu meningkatkan efisiensi operasional perusahaan. Sinergi dengan Bank Jago juga terus memperkuat bisnis pinjaman dan pembayaran tunda (BNPL).

Pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan membantu GOTO dalam menjaga kualitas kredit tetap sehat. Analis memproyeksikan pendapatan tahun 2026 mencapai Rp 18,49 triliun dengan perolehan laba bersih sebesar Rp 439 miliar.

Sebagai perbandingan, pada tahun 2025 GOTO mencatat pendapatan Rp 18,32 triliun namun masih membukukan rugi bersih senilai Rp 1,18 triliun.

Harga saham GOTO pada penutupan perdagangan Rabu, 14 April 2026, berada di level 52. Mayoritas analis memberikan target harga beragam, mulai dari Rp 62 oleh Ciptadana Sekuritas hingga Rp 100 oleh Deutsche Bank.

Meski prospek terlihat cerah, investor tetap perlu mewaspadai risiko persaingan ketat, kondisi ekonomi makro, serta potensi kenaikan rasio kredit macet. Perbaikan fundamental menjadi kunci utama peluang laba GOTO di 2026.

Artikel terkait

Rekomendasi