Pertumbuhan layanan jasa teman curhat berbayar di media sosial memicu sorotan terkait ketiadaan regulasi dan standar perlindungan data pribadi klien pada Senin (20/4/2026). Fenomena ini berkembang seiring meningkatnya kebutuhan ruang aman untuk berbagi cerita melalui pesan singkat maupun sambungan telepon, sebagaimana dilansir dari Megapolitan.
Penyedia jasa teman curhat bernama Noah (28) menjelaskan bahwa dirinya telah beroperasi sejak 2023 melalui akun TikTok @HIMAWARI dengan menerapkan batasan interaksi yang ketat. Guna menjaga kerahasiaan, ia mengeklaim selalu menghapus riwayat percakapan dan tidak menyimpan informasi pribadi klien tanpa izin tertulis.
ÔÇ£Dengan menghapus chat room dan nomor telepon atau WhatsApp, tidak menyebarkan ke mana dan siapa pun, menurut saya cukup menjamin kerahasiaan klien," katanya saat dihubungi, Senin (20/4/2026).
Sejauh ini, Noah mengaku belum pernah menerima keluhan resmi dari para kliennya mengenai penyalahgunaan atau kebocoran data pribadi selama menjalankan layanan tersebut.
Raina (26), pelaku jasa serupa, turut menekankan bahwa pondasi bisnis nonprofesional ini sepenuhnya bersandar pada kepercayaan antara penyedia dan pengguna. Ia memilih untuk segera memusnahkan seluruh jejak komunikasi setelah sesi berakhir untuk menjamin keamanan informasi.
"Cara paling simpel ya dengan tidak menyimpan data mereka. Chat dihapus, nomor juga dihapus kalau sudah selesai. Dan saya juga nggak pernah cerita ke orang lain, walaupun tanpa menyebut nama. Buat saya itu penting banget, karena kepercayaan itu satu-satunya ÔÇÿmodalÔÇÖ di jasa ini," kata dia dihubungi, Senin.
Raina memastikan tidak ada proses dokumentasi atau pengarsipan data yang dilakukan selama pemberian jasa berlangsung. Langkah ini bertujuan agar klien memiliki rasa aman saat menuangkan isi pikirannya.
ÔÇ£Enggak ada dokumentasi sama sekali. Saya sengaja enggak simpan apa pun, karena justru itu yang bikin klien merasa lebih aman," ucapnya.
Psikolog Virginia Hanny memberikan penegasan bahwa layanan ini memiliki perbedaan mendasar dengan bantuan profesional dalam hal kompetensi dan kode etik. Tanpa pelatihan khusus, penyedia jasa tersebut berisiko memberikan interpretasi yang tidak tepat bagi kondisi emosional pengguna.
"Tanpa adanya pelatihan khusus, seseorang bisa saja memberikan interpretasi atau saran yang belum tentu sesuai dengan kebutuhan dari individu tersebut," kata dia.
Virginia mengamati bahwa individu dalam kondisi rentan cenderung lebih mudah memberikan kepercayaan kepada orang lain yang bersedia mendengarkan. Hal ini dapat memicu ketergantungan emosional yang berlebihan pada layanan nonprofesional.
"Dalam situasi emosi yang lebih rentan, seorang individu memang akan cenderung ingin didengar dan dipahami, lebih terbuka kepada mereka yang memberikan perhatian, serta menjadi lebih mudah percaya," katanya.
Guna meminimalkan risiko, Virginia mendorong adanya regulasi atau batasan jelas agar peran penyedia jasa tetap profesional dan tidak mencampuri kasus berat. Kejelasan ini penting untuk menjaga perlindungan bagi kedua belah pihak.
ÔÇ£Tentu saja, sebaiknya layanan teman curhat ini juga membutuhkan batasan atau regulasi tertentu. Tujuannya bukan untuk melarang adanya layanan, namun untuk melindungi pengguna dan penyedia layanan, serta menjaga kejelasan peran sehingga tetap profesional," ujar dia.
Ia juga menyoroti perlunya batasan penanganan masalah yang transparan sejak awal komunikasi dilakukan. Hal ini bertujuan agar pengguna tidak memiliki ekspektasi yang keliru terhadap layanan yang mereka beli.
"Batasan pemberian layanan yang jelas (dimana teman curhat tidak akan menangani kasus yang berat dan akan langsung merujuk penggunanya pada layanan professional)," jelas dia.
Edukasi terhadap publik menjadi kunci utama agar masyarakat memahami perbedaan antara teman bicara dengan tenaga profesional. Virginia menegaskan bahwa layanan ini tidak boleh menggantikan peran psikolog dalam menangani masalah kesehatan mental serius.
"Walaupun layanan teman curhat memang sangat bisa menjadi tahap awal, namun mereka tidak bisa dan tidak seharusnya menggantikan bantuan professional, terutama apabila memang bantuan professional-lah yang dibutuhkan oleh kondisi kita saat ini," ujarnya.
Dari sisi konsumen, seorang pengguna bernama Restu (27) menyatakan tetap memiliki keraguan atas klaim penghapusan data yang dijanjikan penyedia jasa. Ia memilih untuk tetap membatasi rincian cerita yang dibagikan demi alasan keamanan pribadi.
ÔÇ£Katanya sih dihapus setelah sesi. Tapi ya kami enggak pernah benar-benar tahu juga kan,ÔÇØ kata dia.
Restu mengungkapkan bahwa kepercayaannya terhadap layanan ini belum sepenuhnya utuh meski merasa terbantu secara emosional.
ÔÇ£Ya, percaya enggak percaya sih. Makanya saya juga tetap jaga cerita, enggak yang terlalu detail banget,ÔÇØ ujarnya.
Pengguna lain, Rakan (24), mengakui sempat merasa waswas terhadap faktor keamanan sebelum akhirnya mencoba layanan tersebut. Meski merasa nyaman karena tidak dihakimi, ia menyadari risiko berinteraksi dengan pihak yang tidak memiliki jaminan hukum jelas.
ÔÇ£Setahu saya tidak, karena dari awal dia bilang tidak ada dokumentasi dan chat akan dihapus setelah sesi selesai,ÔÇØ ujarnya.
Rakan menyebutkan perasaan ragu tetap muncul mengingat interaksi tersebut melibatkan orang asing yang ditemui melalui platform digital.
"Tapi tetap ada sedikit rasa was-was karena ini orang asing," ucapnya.