Perayaan hari jadi ke-68 Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA) seharusnya menjadi momen yang penuh kegelisahan bagi komunitas intelektual yang memahami sejarah. Kita tidak berkumpul hanya untuk merayakan pencapaian, saling mendoakan, atau sekadar memamerkan deretan gelar akademis yang panjang.
Di tengah kondisi zaman yang rapuh akibat pragmatisme politik dan dangkalnya cara berpikir, usia hampir tujuh dekade ini merupakan tuntutan etis yang berat. Kaum cendekiawan Katolik perlu melakukan pemeriksaan kesadaran yang mendalam mengenai peran mereka di tengah masyarakat saat ini.
Pertanyaan besarnya adalah apakah para sarjana Katolik masih mampu menjadi garam yang melebur dan memberikan dampak bagi sekitarnya. Ataukah mereka sudah lama menarik diri dan hidup dengan nyaman di dalam "menara gading" yang jauh dari realitas sosial.
Semboyan utama organisasi ini, yaitu Pro Ecclesia et Patria, Pro Bono Publico, bukanlah sekadar kalimat kredo yang usang dimakan waktu. Slogan yang berarti "Untuk Gereja dan Tanah Air, Demi Kesejahteraan Umum" tersebut merupakan beban dialektis yang sangat besar untuk dipikul.
Integrasi Iman dan Nasionalisme
Dalam semboyan tersebut, komitmen iman dan semangat nasionalisme tidak bisa dipisahkan satu sama lain karena keduanya bermuara pada kesejahteraan bersama. Iman Kristiani tidak pernah mengajarkan para sarjana untuk mematikan nalar atau logika berpikir mereka dalam menghadapi persoalan duniawi.
Sebagaimana ajaran Santo Thomas Aquinas, rahmat Tuhan tidak akan menghancurkan kodrat manusia, melainkan justru akan menyempurnakannya. Iman harus menjadi cahaya yang mendorong rasio untuk bergerak melampaui kepentingan pribadi yang sempit demi membela kepentingan publik secara luas.
Tanggung jawab moral ini semakin diperkuat oleh warisan pemikiran Mgr. Albertus Soegijapranata yang sangat melegenda di Indonesia. Beliau menegaskan bahwa menjadi warga Katolik Indonesia berarti harus berkomitmen penuh menjadi "100% Katolik dan 100% Indonesia".
Pada usia ke-68 ini, kutipan tersebut perlu dibedah kembali dengan sudut pandang yang lebih tajam dan kontekstual bagi kehidupan saat ini. Jangan sampai ungkapan ini hanya berakhir sebagai jargon manis yang sering diucapkan dalam pidato-pidato seremonial tanpa makna mendalam.
Makna mendalam dari identitas ganda sebagai warga negara dan umat beriman :
- Menjadi 100% Indonesia berarti bersedia terlibat secara penuh dalam setiap denyut kesulitan dan keterpurukan yang sedang dialami oleh bangsa ini.
- Menjadi 100% Katolik berarti berpegang teguh pada prinsip bahwa martabat manusia adalah nilai tertinggi di atas segala sistem hukum dan politik.
- Kesadaran kolektif untuk menempatkan kemanusiaan sebagai prioritas utama dalam setiap pengambilan keputusan di ruang publik.
- Keberanian untuk bersuara ketika keadilan sosial mulai dikomodifikasi atau disalahgunakan demi kepentingan kelompok tertentu.
Penjelasan di atas menggambarkan betapa beratnya tanggung jawab seorang sarjana Katolik dalam menjaga keseimbangan antara kewajiban agama dan negara. Jika seorang sarjana hanya diam saat hukum dipermainkan, maka ia secara tidak langsung telah mengkhianati kedua identitas penting tersebut.
Kecerdasan untuk Kebahagiaan Bersama
Kita perlu melakukan refleksi ideologis secara kolektif dengan melihat realitas hari ini tanpa mencari-cari alasan pembenaran diri. Muncul pertanyaan mengapa suara intelektual Katolik sering kali terdengar lemah atau bahkan hilang saat etika publik diabaikan oleh kekuasaan.
Ancaman terbesar bagi organisasi seperti ISKA sebenarnya bukanlah tekanan yang datang dari pihak luar secara terang-terangan. Bahaya yang lebih nyata adalah rasa puas diri yang muncul dari kalangan elite di dalam tubuh organisasi itu sendiri.
Ada kecenderungan anggota lebih menikmati posisi aman sebagai teknokrat yang patuh terhadap sistem yang ada sekarang ini. Hal ini sangat disayangkan jika dibandingkan dengan peran yang seharusnya, yaitu menjadi suara kenabian yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
Moto keilmuan Intelligentia Ad Felicitatem Omnium atau "Kecerdasan untuk Kebahagiaan Semua Orang" kini menemukan urgensinya kembali. Ungkapan ini menggugat sikap dan tanggung jawab kaum cendekiawan terhadap realitas sosial yang semakin pelik dan kompleks.
Penerapan kecerdasan intelektual dalam kehidupan sosial kemasyarakatan :
| Aspek Pengabdian | Tujuan Utama |
|---|---|
| Kemiskinan Struktural | Mengurai akar masalah ekonomi masyarakat bawah |
| Kerusakan Ekologis | Menjaga kelestarian lingkungan demi masa depan |
| Demokrasi | Memperkuat sendi-sendi kebebasan di tingkat akar rumput |
| Etika Publik | Menjadi benteng moral dalam sistem kekuasaan |
Data tersebut menunjukkan bahwa gelar kesarjanaan menjadi tidak memiliki nilai eksistensial jika hanya digunakan untuk kepentingan pribadi. Ilmu pengetahuan seharusnya menjadi alat untuk menyejahterakan masyarakat, bukan sekadar instrumen mobilitas sosial untuk meraih kemewahan.
Mengembalikan Marwah Intelektual
Kecerdasan seorang sarjana Katolik sedang diuji lewat kemampuannya dalam mengatasi kemiskinan, isu lingkungan, dan degradasi demokrasi. Jika ilmu yang dimiliki gagal membawa kebahagiaan bagi mereka yang terpinggirkan, maka kecerdasan tersebut telah berubah menjadi sebuah kebebalan.
Merayakan usia ke-68 adalah waktu yang tepat untuk menguji kembali kesetiaan kita pada salib, ilmu pengetahuan, dan kemanusiaan universal. Di hadapan Gereja dan Ibu Pertiwi, sudah saatnya kita mengakhiri retorika kosong yang tidak membuahkan hasil nyata.
Kini adalah momentum untuk mengembalikan marwah sarjana Katolik sebagai benteng moral sekaligus penggerak perubahan yang konkret di lapangan. Kebahagiaan bersama harus menjadi kompas, sementara perjuangan kebangsaan adalah medan pengabdian yang sesungguhnya bagi setiap sarjana.
Selamat Dies Natalis ke-68 bagi seluruh anggota Ikatan Sarjana Katolik Indonesia di mana pun berada. Mari tetap menjaga sikap kritis, rasa gelisah terhadap ketidakadilan, dan terus memberikan pengabdian terbaik bagi Gereja dan Tanah Air.