Prudential Indonesia Dorong Keberlanjutan Bisnis Pelaku UMKM Perempuan

Prudential Indonesia Dorong Keberlanjutan Bisnis Pelaku UMKM Perempuan
Foto: Ilustrasi Prudential Indonesia Dorong Keberlanjutan Bisnis Pelaku UMKM Perempuan.

Peran perempuan dalam struktur ekonomi nasional semakin krusial dengan kontribusi mencapai 64,5 persen dari total pelaku UMKM di Indonesia. Sebagai pilar yang menggerakkan 99 persen unit usaha di tanah air, kemandirian ekonomi perempuan menjadi kunci pertumbuhan yang stabil.

Dilansir dari Money, PT Prudential Life Assurance (Prudential Indonesia) merespons potensi besar ini dengan menyelenggarakan forum Bincang Mapan 2026. Agenda ini bertujuan membekali pelaku usaha agar mampu menjaga keberlanjutan bisnis melalui proteksi finansial dan perencanaan matang.

Sekitar 360 pengusaha kecil hadir dalam kegiatan yang dilakukan secara luring dan daring ini, di mana lebih dari 80 persen pesertanya adalah perempuan. Mereka mendapatkan wawasan terkait pengelolaan arus kas, strategi ekspansi, hingga kesiapan menghadapi dinamika pasar yang fluktuatif.

Ariyanti, seorang pelaku usaha kuliner, menceritakan tantangan saat memulai bisnis dari nol setelah beralih dari sektor fesyen pada 2015. Pengalamannya menunjukkan bahwa keberanian memulai saja tidak cukup tanpa kesiapan menghadapi risiko dan ketidakpastian di bidang baru.

Chief Product Officer Prudential Indonesia, Astono Hermawan, menegaskan bahwa kekuatan fondasi keuangan merupakan kunci utama agar usaha tidak sekadar berjalan, tetapi bertahan lama. Perencanaan menyeluruh menjadi krusial bagi perempuan yang sering kali memikul peran ganda.

"Aset terpenting dalam bisnis adalah keyakinan pada diri sendiri, karena untuk menjaga bisnis tetap berkembang diperlukan perencanaan yang matang dan menyeluruh, terutama bagi pelaku usaha perempuan yang kerap memiliki peran ganda dalam mengelola bisnis sekaligus kehidupan pribadi," kata Astono Hermawan.

Astono menambahkan bahwa periode tiga hingga lima tahun pertama merupakan masa paling berisiko bagi kelangsungan usaha. Banyak kegagalan bisnis di fase ini dipicu oleh lemahnya manajemen keuangan dan kurangnya proyeksi jangka panjang.

Founder Maicih, Reza Nurhilman, yang hadir sebagai narasumber, menekankan pentingnya diferensiasi produk sebagai nilai jual utama. Selain inovasi, ia menyarankan pelaku usaha pemula untuk memanfaatkan sistem reseller guna memahami pola kebutuhan pasar sebelum melakukan ekspansi besar.

Meskipun ekspansi dapat meningkatkan omzet, Reza memperingatkan risiko terhadap kesehatan arus kas. Oleh karena itu, pemantapan sistem internal dan kecukupan modal harus menjadi pertimbangan utama sebelum UMKM memutuskan untuk bergerak lebih agresif.

Pengelolaan risiko yang mencakup aspek operasional dan internal juga menjadi sorotan dalam diskusi tersebut. Melalui tata kelola yang baik dan tim yang kompeten, pelaku UMKM diharapkan dapat menjaga tren pertumbuhan bisnis agar tetap sehat secara berkelanjutan.

Sebagai solusi proteksi, Prudential Indonesia memperkenalkan produk Asuransi Jiwa PRUMapan yang dirancang untuk melindungi pelaku usaha sebagai aset utama bisnis. Produk ini mencakup perlindungan jiwa terhadap risiko meninggal dunia alami maupun kecelakaan sesuai ketentuan polis.

Instrumen ini juga menawarkan manfaat Dana Mapan yang dapat dicairkan pada usia 55 hingga 75 tahun atau setelah 20 tahun masa kepesertaan. Dana tersebut berfungsi sebagai tambahan modal usaha atau cadangan finansial saat pelaku usaha memasuki masa pensiun atau fase kurang produktif.

Artikel terkait

Rekomendasi