Airlangga Hartarto Proyeksikan Ekonomi Nasional Tumbuh 5,3 Persen pada 2026

Airlangga Hartarto Proyeksikan Ekonomi Nasional Tumbuh 5,3 Persen pada 2026
Foto: Ilustrasi Airlangga Hartarto Proyeksikan Ekonomi Nasional Tumbuh 5,3 Persen pada 2026.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan ketahanan ekonomi nasional tetap terjaga di tengah gejolak global pada Selasa, 14 April 2026. Pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia mampu mencapai angka di atas 5,3 persen sepanjang tahun ini.

Dilansir dari Nasional, pertumbuhan ekonomi RI pada 2025 tercatat sebesar 5,11 persen atau menjadi yang tertinggi kedua di antara negara G20 setelah India. Posisi ini didukung oleh defisit anggaran yang terjaga di bawah 3 persen, jauh lebih rendah dibandingkan Amerika Serikat yang mencapai 6,3 persen.

"Jauh berbeda dengan situasi tahun 1998. Dari segi ekonomi makro, saya katakan pertumbuhan PDB adalah 5,11 persen. Dan proyeksi tahun ini di atas 5,3 persen. Dan kuartal pertama tahun ini, kami optimistis pertumbuhan Indonesia di kuartal pertama sekitar 5,5 persen," ujar Airlangga Hartarto, Menko Bidang Perekonomian.

Klaim ketangguhan tersebut didasarkan pada penguatan ekonomi domestik serta keberhasilan swasembada beras yang dicapai sejak 2025. Hingga 8 April 2026, stok beras di Bulog tercatat mencapai 4,6 juta ton dari total produksi 34,7 juta ton.

Pemerintah juga mencatat kenaikan penerimaan pajak hingga Maret 2026 yang menyentuh angka Rp 462,7 triliun. Jumlah tersebut menunjukkan pertumbuhan sebesar 14,3 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

"Dan jika Anda melihat cadangan devisa masih sekitar USD 148,2 miliar, itu setara dengan enam bulan impor," jelas Airlangga Hartarto, Menko Bidang Perekonomian.

Selain indikator makro, pemerintah melaporkan penurunan tingkat kemiskinan menjadi 8,25 persen dan angka pengangguran yang ditekan ke level 4,7 persen. Rasio utang pemerintah saat ini berada pada posisi 40,46 persen terhadap PDB atau setara Rp 9.637,9 triliun.

Struktur utang Indonesia dinilai aman karena mayoritas kepemilikan berasal dari dalam negeri. Tercatat kepemilikan asing pada Surat Berharga Negara hanya berkisar 12,6 persen sehingga risiko dari faktor eksternal dapat diminimalisir.

"Jika Anda melihat detail utang kita, sebagian besar berasal dari dalam negeri. Jadi, risiko guncangan eksternal terkendali," imbuh Airlangga Hartarto, Menko Bidang Perekonomian.

Artikel terkait

Rekomendasi