Produksi tembaga PT Freeport Indonesia (PTFI) mengalami penurunan tajam sebesar 67,90 persen pada kuartal I/2026 akibat operasional tambang bawah tanah Grasberg yang belum pulih sepenuhnya pascainsiden longsor pada September 2025. Kondisi ini dilaporkan mulai memicu gangguan pada pasokan bahan baku smelter domestik serta mengancam target penerimaan negara tahun ini.
Berdasarkan laporan kinerja induk usaha Freeport McMoran (FCX) yang dilansir dari Ekonomi, volume produksi tembaga PTFI hanya mencapai 95 juta pound pada tiga bulan pertama tahun 2026. Angka tersebut merosot jauh dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang mampu menyentuh level 296 juta pound.
Sektor penjualan juga terdampak signifikan dengan realisasi sebesar 82 juta pound, turun drastis dari capaian kuartal I/2025 yang sebesar 290 juta pound. Meski demikian, rata-rata harga jual tembaga tercatat menguat ke level US$5,89 per pound, naik dari posisi US$4,34 pada tahun lalu.
Ketua Dewan Penasihat Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Rizal Kasli menyatakan bahwa penurunan output ini secara langsung menggerus pasokan konsentrat ke fasilitas pengolahan di Gresik. Keterbatasan bahan baku mengakibatkan utilitas smelter menurun sehingga produk hilir yang dihasilkan ikut merosot.
"Smelter tersebut mengalami kekurangan suplai bahan baku. Otomatis produk yang dihasilkannya juga menurun drastis," kata Rizal Kasli, Ketua Dewan Penasihat Perhapi.
Rizal juga menyoroti potensi berkurangnya kontribusi perusahaan terhadap fiskal negara dan daerah akibat menyusutnya volume penjualan tersebut.
"Bagi pemerintah sendiri termasuk pemerintah daerah tentu akan mengurangi pendapatan negara dari Freeport berupa pajak, royalti dan DBH bagi pemda," ucap Rizal Kasli, Ketua Dewan Penasihat Perhapi.
Ketua Komite Pertambangan Minerba DPN Apindo Hendra Sinadia menilai situasi ini berkaitan erat dengan proses pemulihan di Grasberg yang membutuhkan waktu lama. Implikasi dari gangguan operasional ini disebutnya telah menjalar melampaui level teknis di lapangan.
ÔÇ£Pendapatan perusahaan menurun dan itu berdampak langsung pada penerimaan negara. Selain itu, pasokan konsentrat ke smelter juga berkurang,ÔÇØ ujar Hendra Sinadia, Ketua Komite Pertambangan Minerba DPN Apindo.
Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (Pushep) Bisman Bhaktiar berpendapat bahwa gangguan ini dapat mengancam stabilitas pasokan industri hilir nasional. Ia memperingatkan risiko ketergantungan pada impor jika kondisi ini terus berlanjut tanpa mitigasi.
"Penurunan produksi ini akan mengganggu pasokan konsentrat ke smelter domestik sehingga bisa menurunkan utilitas smelter dan memperlambat target hilirisasi mineral. Jika berlangsung lama, ini tidak baik karena bisa memicu ketergantungan pada impor bahan baku dari luar," jelas Bisman Bhaktiar, Direktur Eksekutif Pushep.
Guna menekan dampak ketergantungan pada satu produsen, Bisman menyarankan pemerintah untuk mulai mengoptimalkan produksi dari wilayah pertambangan lainnya.
"Pemerintah perlu upayakan diversifikasi pasokan bahan baku, termasuk mendorong optimalisasi produksi dari tambang lain serta percepat proyek-proyek baru agar tidak bergantung tinggi pada Freeport," kata Bisman Bhaktiar, Direktur Eksekutif Pushep.
Manajemen PTFI memproyeksikan target penjualan tembaga sepanjang 2026 dikoreksi menjadi 0,7 miliar pound dari estimasi awal 0,9 miliar pound. Tingkat produksi diperkirakan baru akan menyentuh 65 persen kapasitas pada paruh kedua 2026 dan diprediksi pulih total menjelang akhir 2027.