Kanker serviks masih menjadi salah satu masalah kesehatan utama bagi perempuan di Indonesia. Penyakit ini sering kali berkembang tanpa gejala karena dipicu oleh infeksi HPV risiko tinggi yang tidak disadari.
Seperti diberitakan oleh Media Indonesia, PT Prodia Widyahusada Tbk bersama Diagnostics Division PT Roche Indonesia meluncurkan layanan My HPV-Test. Layanan ini menggunakan metode pengambilan sampel mandiri atau self-collection.
Inovasi tersebut memberikan kemudahan, kenyamanan, dan pilihan privasi bagi perempuan dalam melakukan skrining HPV. Langkah ini menjadi dukungan nyata terhadap Rencana Aksi Nasional untuk mempercepat cakupan deteksi dini melalui kolaborasi pentahelix.
Berbeda dengan metode konvensional, My HPV-Test memungkinkan perempuan mengambil sampel secara mandiri menggunakan swab khusus dari rumah. Proses ini tidak memerlukan bantuan langsung dari tenaga kesehatan.
Pemeriksaan ini mengandalkan metode Real-Time PCR yang mampu mendeteksi 14 genotipe HPV risiko tinggi. Sistem ini juga melacak HPV tipe 16 dan 18 yang menjadi penyebab mayoritas kasus kanker serviks di dunia.
Pendekatan baru ini diharapkan mampu meningkatkan partisipasi perempuan dalam melakukan skrining secara rutin. Layanan tersebut menawarkan pengalaman pemeriksaan yang lebih nyaman serta praktis.
Prodia memastikan kemudahan akses melalui integrasi layanan digital. Masyarakat dapat memesan layanan skrining ini secara praktis melalui aplikasi U by Prodia.
"Kami ingin pengalaman skrining menjadi bagian dari gaya hidup sehat yang rutin dan memberdayakan. Bersama Roche Indonesia, kami menghadirkan layanan yang memungkinkan perempuan Indonesia memiliki akses langsung untuk mengontrol kesehatan mereka, mulai dari pemesanan kit melalui aplikasi U By Prodia, kenyamanan pengambilan sampel secara mandiri, hingga akses hasil yang cepat dan akurat," ujar Liana Kuswandi, Direktur Utama Prodia, dalam keterangannya, Minggu (24/5).
Metode pengambilan sampel mandiri ini juga telah diuji melalui sebuah studi percontohan. Uji coba tersebut dilakukan bersama pemangku kepentingan terkait di Surabaya.
"Studi percontohan yang dilakukan pihaknya bersama Kementerian Kesehatan, Jhpiego, dan Bio Farma di Surabaya menunjukkan bahwa 75% dari target perempuan berhasil melakukan pemeriksaan mandiri dengan akurasi sampel mencapai hampir 99%," kata Lee Poh Seng, Direktur Diagnostics Division Roche Indonesia.
Lee Poh Seng menambahkan bahwa hasil tersebut membuktikan efektivitas metode self-collection. Inovasi ini dinilai berhasil mengatasi hambatan psikologis maupun ketidaknyamanan yang kerap muncul saat skrining.
Di sisi lain, catatan data kesehatan menunjukkan urgensi pemeriksaan dini yang masih tinggi di Indonesia. Berdasarkan hasil skrining BPJS Kesehatan, terdapat 14,4 juta perempuan yang terdeteksi berisiko mengalami kanker serviks.