Presiden Prabowo Subianto telah meresmikan operasionalisasi 1.061 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) pada Sabtu (16/5/2026).
Namun, seperti dilansir dari Kompas, warganet justru menyoroti pengaturan peletakan atau display barang di dalam koperasi tersebut.
Unggahan yang memperlihatkan isi KDKMP ini pun menjadi viral di berbagai media sosial.
Tata letak produk di dalam toko dinilai nyeleneh dan tidak tertata seperti ritel modern.
Beberapa kritik bahkan datang dari warganet yang mengaku pernah bekerja di jaringan minimarket.
Menurut sejumlah warganet, display toko bukan sekadar menyusun barang berdasarkan warna atau memenuhi rak secara asal.
Penataan tersebut membutuhkan pemahaman tentang ilmu merchandising dan planogram.
Merujuk pada buku berjudul "Retail Management A Global Perspective" yang ditulis Harjit Singh, posisi produk di rak memiliki peran besar.
Jarak antar-display hingga jumlah barang yang dipajang ternyata memengaruhi kenyamanan pelanggan dan tingkat penjualan.
Karena itulah, banyak peritel menggunakan planogram sebagai panduan utama dalam menata toko.
Secara sederhana, planogram adalah susunan barang yang memberikan gambaran bagaimana produk akan diatur di toko ritel.
Planogram membantu pengecer menentukan lokasi rak dan jumlah pajangan yang dibutuhkan.
Alat ini juga menentukan jenis produk yang ditempatkan pada area tertentu.
Dalam istilah lainnya, planogram adalah diagram visual yang menunjukkan bagaimana barang dagangan ditempatkan pada rak, etalase, maupun perlengkapan toko lainnya.
Tujuannya adalah menciptakan tampilan produk yang mudah dilihat, mudah dijangkau, serta menarik perhatian konsumen.
Dalam praktiknya, planogram juga dikenal dengan beberapa istilah lain di beberapa negara seperti POG, plano-gram, plan-o-gram, hingga schema.Melalui planogram, peritel dapat mengetahui berbagai hal penting seperti lokasi penempatan rak dan seberapa jauh jarak antar-rak.
Peritel juga bisa mengetahui produk apa yang ditempatkan pada rak tertentu, jumlah produk yang dipajang, hingga luas area setiap kategori barang.
Dengan kata lain, planogram mengatur seluruh aspek penempatan barang agar toko terlihat rapi dan efisien.
Penyusunan Berdasarkan Perilaku Belanja
Pembuatan planogram tidak dilakukan secara asal karena mempertimbangkan berbagai faktor.
Faktor tersebut mulai dari tingkat penjualan produk, pergerakan barang dalam kategori tertentu, hingga kebutuhan ruang setiap produk.
Produk dengan penjualan tinggi biasanya ditempatkan di area yang mudah terlihat atau dijangkau pelanggan.
Sementara itu, barang baru sering diposisikan berdekatan dengan produk populer agar lebih cepat menarik perhatian konsumen.
Selain itu, ukuran produk juga menjadi pertimbangan penting.
Produk berukuran besar tentu membutuhkan ruang pajang yang berbeda dibandingkan barang kecil.
Bagi perusahaan ritel yang memiliki banyak cabang di berbagai lokasi, planogram menjadi alat penting untuk menjaga konsistensi tampilan toko.
Dengan planogram, seluruh toko dapat memiliki tata letak produk yang seragam.
Konsumen pun akan merasa familiar ketika berbelanja di cabang berbeda karena susunan barang tetap sama.
Konsistensi tersebut dinilai mampu meningkatkan kenyamanan pelanggan sekaligus membangun loyalitas terhadap merek.
Sebaliknya, jika tata letak produk terus berubah, pelanggan bisa menghabiskan lebih banyak waktu untuk mencari barang dan berpotensi membeli lebih sedikit.
Saat ini, banyak jaringan ritel modern memanfaatkan teknologi dan perangkat lunak khusus untuk membuat planogram secara lebih akurat dan efisien.
Penerapan Berbeda di Setiap Jenis Toko
Meski memiliki fungsi yang sama, bentuk planogram dapat berbeda tergantung jenis ritelnya.
Toko FMCG (fast moving consumer goods) atau kebutuhan sehari-hari menggunakan planogram berbasis teks dan kotak.
Format ini digunakan untuk mengoptimalkan area pajangan dan keuntungan.
Sementara itu, toko pakaian cenderung memakai planogram berbentuk visual atau gambar presentasi.
Model ini membantu penataan rak dan display busana agar terlihat menarik sekaligus memaksimalkan ruang toko.
Produsen barang konsumsi kemasan juga kerap menyediakan planogram baru saat meluncurkan produk anyar.
Tujuannya agar produk baru dapat ditempatkan berdampingan dengan produk lama sehingga lebih mudah dikenali pelanggan.
Pada akhirnya, planogram bukan hanya alat penataan barang, melainkan strategi penting dalam meningkatkan pengalaman belanja konsumen sekaligus mendongkrak penjualan ritel.