Presiden Prabowo Subianto membawa kendaraan taktis Maung MV3 Garuda Limousine untuk pertama kalinya ke luar negeri saat mendarat di kota Cebu, Filipina, Kamis (7/5/2026). Kehadiran Presiden di Filipina tersebut dilakukan dalam rangka menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-48 ASEAN.
Kabar penggunaan kendaraan buatan dalam negeri tersebut dikonfirmasi oleh Sekretaris Kabinet (Seskab) Letkol TNI Teddy Indra Wijaya. Dilansir dari Nasional, mobil yang dikembangkan oleh PT Pindad ini menjadi kendaraan resmi Presiden selama menjalankan agenda kenegaraan di Filipina.
"Maung, dari dalam negeri, untuk Indonesia, hadir di panggung dunia. Presiden Prabowo Subianto tiba di kota Cebu, Filipina, pada Kamis siang, 7 Mei 2026, dalam rangka menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-48 ASEAN," ujar Teddy Indra Wijaya, Sekretaris Kabinet.
Langkah ini menandai sejarah baru bagi industri pertahanan nasional karena kendaraan hasil pengembangan mandiri digunakan dalam kunjungan resmi internasional. Teddy menekankan bahwa pemilihan mobil ini merupakan bentuk apresiasi terhadap karya anak bangsa.
"Untuk pertama kalinya, saat mendarat di luar negeri, Presiden Prabowo dijemput dengan mobil Maung, kendaraan kebanggaan bangsa Indonesia, hasil pengembangan industri pertahanan nasional," sambung Teddy Indra Wijaya, Sekretaris Kabinet.
Pemanfaatan Maung sebagai kendaraan kepresidenan sebenarnya telah dimulai sejak pelantikan Prabowo pada 20 Oktober 2024. Pengembangan kendaraan jenis taktis ringan ini sudah dilakukan sejak Prabowo Subianto menjabat sebagai Menteri Pertahanan pada periode 2019-2024.
Saat ini, kapasitas produksi unit Maung di fasilitas Pindad telah menunjukkan angka yang signifikan untuk memenuhi kebutuhan operasional. Sebanyak ribuan unit telah tersebar untuk berbagai keperluan militer dan operasional di dalam negeri.
"Dan saat ini produksinya di Pindad telah mencapai lebih dari 3.200 unit, dan telah digunakan dalam berbagai operasi dan kebutuhan dalam negeri," jelas Teddy Indra Wijaya, Sekretaris Kabinet.
Penampilan Maung di forum internasional dianggap memiliki pesan yang lebih dalam dari sekadar fungsi mobilisasi. Pemerintah menempatkan penggunaan kendaraan ini sebagai bagian dari strategi menonjolkan kekuatan industri manufaktur Indonesia kepada negara-negara anggota ASEAN.
"Maung menjadi sebuah simbol diplomasi. Dari dalam negeri, untuk Indonesia, hadir di panggung dunia," imbuh Teddy Indra Wijaya, Sekretaris Kabinet.