Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi membentuk Tim Khusus (Timsus) Mina demi memperkuat perlindungan serta pendampingan jemaah Indonesia. Seperti dilansir dari Detikcom, tim ini dikerahkan selama fase puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Keberadaan tim ini dirancang khusus untuk memandu pergerakan jemaah, khususnya lansia dan mereka yang sedang sakit. Fokus utama pengawalan dilakukan saat prosesi lempar jumrah yang sangat rawan memicu kepadatan massa.
Koordinator Bidang Satuan Operasi Armuzna dan Perlindungan Jemaah PPIH Arab Saudi, Harun Arrasyid Usman, menjelaskan bahwa personel Timsus Mina diambil dari petugas perlindungan jemaah berpengalaman. Para anggota tim ini dinilai memiliki kesiapan matang karena sudah melewati operasional haji pada tahun-tahun sebelumnya.
Petugas yang tergabung dalam Timsus Mina dijadwalkan berangkat pada 8 Zulhijah malam langsung menuju Mina tanpa melewati jalur Arafah. Langkah ini diambil agar kondisi fisik para petugas tetap prima dan bugar ketika menyambut kedatangan jemaah calon haji.
Harun Arrasyid Usman menyebutkan bahwa pergerakan dari Muzdalifah menuju Mina merupakan salah satu fase yang paling rawan. Kondisi tersebut sangat berpotensi memicu kelelahan fisik yang tinggi sekaligus penumpukan jemaah.
"Rekan-rekan ini diberangkatkan pada tanggal 8 Zulhijah malam dan langsung menuju Mina tanpa melalui Arafah. Dengan skema ini, tenaga mereka dinilai masih fresh untuk langsung memberikan bantuan maksimal saat jemaah calon haji tiba," ujar Harun usai mengecek jalur pergerakan dari Mina menuju jamarat, Minggu (18/5/2026).Timsus Mina memikul tanggung jawab besar mulai dari pengawasan, penyambutan, hingga pemantauan arus pergerakan. Pengawasan ini juga mencakup jemaah yang melintas dari Arafah tanpa turun di Muzdalifah atau yang mengikuti skema murur.
Panduan Melontar Jumrah di Kawasan Jamarat
PPIH mengeluarkan panduan penting bagi jemaah Indonesia yang hendak melaksanakan lontar jumrah di kawasan jamarat. Jemaah yang menempati tenda di Mina diwajibkan untuk tetap menggunakan jalur lantai tiga dan dilarang berpindah ke area lantai bawah.
"Bagi jemaah calon haji yang tinggal di tenda Mina, pelaksanaan jamarat diprioritaskan di lantai 3. Kami mengimbau setelah selesai melontar jumrah, jangan turun ke lantai bawah," kata Harun.
Ketertiban arus pergerakan sangat bergantung pada kepatuhan jemaah terhadap instruksi yang diberikan oleh petugas di lapangan. Langkah ini sangat penting untuk mencegah terjadinya penumpukan massa di titik-titik krusial.
"Tanyakan kepada petugas di lokasi arah kembali ke tenda, karena jalurnya akan berputar keluar dan langsung masuk kembali ke Terowongan Muaisim," ujarnya.
Estimasi Jarak dan Antisipasi Kondisi Darurat
Jarak pulang-pergi yang harus ditempuh jemaah dari tenda Mina menuju area jamarat melintasi Terowongan Muaisim diperkirakan mencapai 4,5 kilometer. Selain jarak yang cukup jauh, jemaah juga diminta bersiap menghadapi situasi darurat seperti padamnya fasilitas penerangan.
Jemaah diimbau untuk tidak panik jika lampu di dalam jalur terowongan tiba-tiba padam secara mendadak. Aturan keselamatan utama dalam kondisi gelap adalah segera menepi ke pinggir jalur demi menghindari benturan antarsesama jemaah.
"Kalau lampu mati jangan panik, minggir dulu ke pinggir supaya tidak bentrok dengan jemaah lain yang berjalan," katanya.
Saat ini, sebagian besar jemaah haji asal Indonesia ditempatkan pada Zona 3 dan Zona 5 yang lokasinya berdekatan dengan Terowongan Muaisim. Area penempatan tersebut terbagi ke dalam 61 markaz atau maktab.
Sementara itu, ppih masih melakukan finalisasi terhadap skema tanazul, yaitu sistem bagi jemaah yang langsung kembali ke hotel setelah menyelesaikan lempar jumrah Aqabah. Jemaah yang mengikuti skema ini rencananya akan ditempatkan di wilayah Zona 5.