Suasana hangat dan penuh persaudaraan menyelimuti peringatan Hari Raya Tri Suci Waisak 2570 BE/2026 di Dusun Thekelan, Desa Batur, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang. Pada Minggu (31/5/2026), ratusan warga yang beragama Muslim dan Kristen berkumpul di depan Vihara Buddha Bhumika untuk menyambut umat Buddha.
Kehadiran mereka bertujuan untuk memberikan ucapan selamat secara langsung kepada warga umat Buddha yang baru saja menyelesaikan rangkaian ibadah Waisak. Tradisi lintas agama yang menyentuh hati ini ternyata telah terjaga selama puluhan tahun di kawasan lereng Gunung Merbabu tersebut.
Begitu umat Buddha keluar dari vihara setelah beribadah, mereka disambut dengan ramah oleh warga non-Buddha yang sudah lama menanti. Prosesi ini kemudian dilanjutkan dengan saling bersalaman dan bertukar ucapan selamat merayakan Hari Raya Waisak bagi yang menjalankan.
Pemandangan di Dusun Thekelan ini menciptakan suasana yang sangat akrab, bahkan sekilas menyerupai tradisi halal bihalal saat perayaan Idulfitri. Keakraban antarwarga terlihat begitu natural tanpa ada batasan keyakinan yang menghalangi kebersamaan mereka.
Ketua Vihara Buddha Bhumika, Suroyo, menjelaskan bahwa tradisi saling memberi selamat ini merupakan langkah nyata warga dalam merawat persaudaraan. Menurutnya, kerukunan di lingkungan Dusun Thekelan tetap terjaga dengan baik berkat kebiasaan positif yang diwariskan ini.
Suroyo menambahkan bahwa kegiatan ini sudah berlangsung sejak lama dan terus dilestarikan agar hubungan antarumat beragama tetap berjalan harmonis. Awalnya tradisi ini hanya dilakukan oleh sedikit orang, namun kini berkembang pesat hingga diikuti oleh ratusan warga.
Menariknya, tradisi semacam ini berjalan secara otomatis tanpa perlu komando khusus setiap kali ada hari besar keagamaan tiba. Hal tersebut menunjukkan betapa kuatnya ikatan sosial dan kesadaran bertoleransi yang dimiliki oleh masyarakat setempat.
Ketika umat Buddha merayakan Waisak, warga Muslim dan Kristen akan datang memberikan selamat kepada mereka. Begitu pula sebaliknya, saat perayaan Idulfitri atau Natal, umat Buddha akan bergantian berkunjung ke rumah-rumah tetangga mereka.
Bagi Suroyo, tradisi sederhana ini justru menjadi cara yang paling efektif untuk menjaga kedamaian dan ketenteraman hidup bermasyarakat. Ia merasa warga merasa nyaman dan tenang tinggal di Dusun Thekelan karena adanya wujud nyata toleransi beragama tersebut.
Kepala Dusun Thekelan, Supriyo, turut memberikan pandangannya mengenai nilai-nilai luhur yang dijunjung tinggi oleh warga di wilayahnya. Ia menegaskan bahwa semangat gotong royong serta silaturahmi sudah menjadi bagian dari warisan turun-temurun masyarakat desa.
Perbedaan keyakinan di tengah warga terbukti tidak pernah menjadi penghalang untuk hidup berdampingan secara damai dan harmonis. Kegiatan bersalaman massal seperti ini sudah menjadi rutinitas wajib setiap kali ada perayaan keagamaan besar di sana.
Poin penting mengenai kerukunan warga di Dusun Thekelan:
- Tradisi Puluhan Tahun: Kegiatan saling mengunjungi saat hari besar agama sudah berlangsung sejak lama dan konsisten dijalankan.
- Sifatnya Timbal Balik: Semua pemeluk agama, baik Buddha, Islam, maupun Kristen, saling memberikan ucapan selamat secara bergantian.
- Fondasi Persatuan: Tradisi ini menjadi dasar utama terciptanya rasa aman, nyaman, dan persaudaraan yang erat di masyarakat.
- Contoh Nyata Toleransi: Dusun Thekelan menjadi teladan bagaimana keberagaman dapat disatukan dalam keharmonisan sosial.
Supriyo meyakini bahwa melalui kegiatan rutin seperti ini, hubungan antarwarga menjadi semakin dekat dan kuat dari waktu ke waktu. Mereka belajar untuk saling menghormati satu sama lain demi menjaga persatuan di tengah keberagaman yang ada.
Apa yang dilakukan oleh warga Dusun Thekelan merupakan bukti nyata bahwa keberagaman agama bukan merupakan sumber perpecahan. Sebaliknya, hal tersebut menjadi kekayaan sosial yang memperkuat nilai-nilai kemanusiaan dan kebersamaan di lereng Merbabu.
Rincian Peristiwa Penting Perayaan Waisak 2026
Berikut adalah ringkasan data dan informasi terkait suasana peringatan Waisak serta kondisi sosial di wilayah tersebut:
| Aspek Informasi | Detail Keterangan |
|---|---|
| Lokasi Kegiatan | Dusun Thekelan, Desa Batur, Getasan, Kab. Semarang |
| Waktu Pelaksanaan | Minggu, 31 Mei 2026 |
| Tempat Ibadah Utama | Vihara Buddha Bhumika |
| Partisipan | Umat Buddha, Muslim, dan Kristen |
| Tujuan Utama | Menjaga toleransi, kedamaian, dan kerukunan warga |
Data di atas merangkum bagaimana perayaan keagamaan dikelola secara kolektif oleh warga di Kecamatan Getasan sebagai bentuk komitmen sosial. Tradisi ini juga mencerminkan semangat inklusivitas yang jarang ditemukan di tempat lain dengan intensitas yang sama.
Selain di Getasan, berbagai rangkaian peringatan Waisak 2026 juga digelar di berbagai wilayah Jawa Tengah dengan penuh khidmat. Misalnya, pelaksanaan Puja 3 Langkah Namaskara di Candi Sojiwan Klaten yang juga diikuti ribuan umat dengan tertib.
Di Kota Solo, kirab Waisak yang melibatkan puluhan biksu Thudong turut membawa misi besar mengenai harmoni dan persatuan bangsa. Semangat yang sama juga terlihat dari pemberian remisi khusus Waisak kepada ribuan narapidana sebagai bentuk penghormatan hak agama.
Semua rangkaian acara tersebut, terutama yang terjadi di Dusun Thekelan, menjadi pengingat penting bagi masyarakat luas. Bahwa kedamaian sejati dapat dicapai melalui langkah sederhana seperti saling bersalaman dan menghargai perbedaan keyakinan sesama warga.