Prakiraan cuaca terbaru menunjukkan potensi terbentuknya salah satu peristiwa El Nino paling kuat dalam beberapa bulan ke depan. Fenomena ini memicu kekhawatiran serius terkait lonjakan suhu global, ancaman badai, serta kondisi kekeringan ekstrem sepanjang tahun ini.
Para peramal cuaca telah memprediksi kemungkinan kemunculan "super El Nino" yang diperkirakan dapat bertahan hingga akhir tahun 2026. Dilansir dari Detik iNET, data dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) dan European Center for Medium-Range Weather Forecasts memperkuat indikasi tersebut.
Peristiwa El Nino secara teknis ditandai oleh peningkatan suhu permukaan laut di wilayah Samudra Pasifik di atas kondisi normal. Pola iklim alami ini umumnya menjadi pemicu utama kenaikan suhu di berbagai belahan dunia dan memengaruhi stabilitas cuaca global secara signifikan.
Fenomena ini biasanya memperparah dampak pemanasan global yang disebabkan oleh aktivitas manusia. Akibatnya, probabilitas terjadinya suhu bumi yang lebih panas dari rata-rata sejarah akan meningkat drastis selama periode tersebut berlangsung.
Pusat prakiraan cuaca Eropa melaporkan bahwa suhu permukaan laut di bagian tengah Samudra Pasifik ekuator berpotensi mencapai 3 derajat Celcius di atas rata-rata pada musim gugur nanti. Kondisi tersebut akan menempatkan peristiwa ini dalam catatan sejarah sebagai salah satu El Nino terkuat.
"'Super El Nino' adalah El Nino yang sangat kuat, dan didefinisikan oleh suhu air yang setidaknya 2 derajat Celcius di atas rata-rata di Samudra Pasifik," tulis laporan NBC yang dikutip melalui Detik iNET.
Sementara itu, NOAA mencatat bahwa perluasan suhu permukaan laut yang mendekati hingga di atas rata-rata telah terdeteksi di sebagian besar Pasifik ekuator sejak pertengahan April. Para ilmuwan kini terus memantau pola ini secara intensif karena dampaknya yang sangat luas.
Pakar iklim memperingatkan bahwa jika super El Nino benar-benar terbentuk dan bertahan hingga tahun depan, suhu global pada 2027 berisiko melonjak hingga mencapai rekor tertinggi baru. Dampak regional juga diprediksi akan sangat bervariasi di setiap benua.
Di Amerika Serikat bagian barat, fenomena ini biasanya membawa suhu panas dan tingkat kelembapan tinggi. Sebaliknya, wilayah selatan negara tersebut justru berpotensi menghadapi kondisi cuaca yang jauh lebih kering dan panas dari biasanya.
Pada sisi lain dunia, El Nino cenderung memicu peningkatan curah hujan di wilayah Asia Tengah, Asia Selatan, serta sebagian Timur Tengah. Perubahan pola hujan ini sering kali berdampak langsung pada sektor pertanian dan ketersediaan sumber daya air.
Sebagai catatan sejarah, super El Nino pada tahun 2015 pernah menyebabkan kekeringan hebat di Etiopia. Peristiwa yang sama juga memaksa pemerintah Puerto Riko memberlakukan kebijakan penjatahan air bagi warganya akibat krisis pasokan.
Selain kekeringan, fenomena ini memicu lonjakan aktivitas siklon tropis di cekungan Pasifik tengah. Pada tahun 2015, tercatat ada 16 siklon tropis yang terbentuk, termasuk tiga badai Kategori 4 yang terjadi secara beruntun pada akhir Agustus.