Potensi ekonomi dari ibadah kurban di tingkat nasional pada tahun 2026 diproyeksikan mampu menyentuh angka Rp26,89 triliun. Nilai tersebut berasal dari perkiraan sekitar 1,90 juta rumah tangga pekurban yang menyediakan total hewan kurban sebanyak 1,59 juta ekor, seperti dilansir dari Investor Daily.
Lembaga riset Institute for Demographic and Affluence Studies (IDEAS) memaparkan bahwa total hewan kurban tersebut mencakup 493,18 ribu ekor sapi serta 1,09 juta ekor kambing atau domba. Melalui jumlah tersebut, potensi penyaluran daging kurban secara keseluruhan diperkirakan mencapai 99,29 ribu ton.
Peneliti IDEAS, Tira Mutiara, menerangkan bahwa perhitungan estimasi ini menerapkan pendekatan jumlah penduduk beragama Islam yang memiliki pengeluaran di atas lima kali garis kemiskinan di level kabupaten atau kota. Langkah ini menjadi proksi bagi kelompok masyarakat dengan kemampuan finansial untuk berkurban.
"Simulasi juga mempertimbangkan preferensi jenis dan bobot hewan kurban, mulai dari sapi utuh hingga skema patungan 1/7 sapi serta kambing dan domba dengan berbagai kategori bobot," ujar Tira dalam keterangannya, Jumat (22/5/2026).
Meskipun nilai ekonominya terhitung masif, proyeksi pada tahun 2026 ini memperlihatkan adanya penurunan jika dibandingkan dengan capaian tahun 2025 yang menembus Rp27,10 triliun. Penyusutan ini dipicu oleh berkurangnya jumlah rumah tangga yang berkurban serta pergeseran minat masyarakat terhadap hewan yang berbobot besar.
Berdasarkan catatan IDEAS, volume sapi kurban diperkirakan menyusut sekitar 10,17 ribu ekor, sementara kambing atau domba berkurang mendekati 3,43 ribu ekor dari tahun lalu. Dampak dari penurunan ini turut menekan potensi distribusi daging kurban yang diperkirakan melorot sebesar 1,85 ribu ton.
Tira berpendapat bahwa pergeseran tren tersebut mengindikasikan adanya adaptasi dalam perilaku konsumsi masyarakat yang sedang menghadapi tekanan ekonomi domestik.
"Masyarakat tetap berupaya mempertahankan ibadah kurban, tetapi cenderung memilih hewan dengan harga yang lebih terjangkau. Ini terlihat dari meningkatnya permintaan kambing dan domba dengan bobot 40 kilogram dan 20 kilogram," katanya.
Fenomena ini dinilai sebagai indikasi awal bahwa daya beli masyarakat mulai terbebani oleh lonjakan harga bahan pangan, peningkatan biaya hidup, hingga kenaikan harga ternak dalam beberapa tahun terakhir.
Di samping itu, IDEAS menggarisbawahi bahwa ibadah kurban tetap mengemban fungsi sosial yang krusial. Kegiatan tahunan ini mampu memperluas akses pemenuhan nutrisi protein hewani bagi kalangan masyarakat miskin dan kelompok rentan.
Kendati demikian, pemetaan di lapangan menunjukkan bahwa distribusi daging kurban di Indonesia masih belum tersebar secara merata. Dari total 514 kabupaten dan kota, sebanyak 163 wilayah masuk dalam zona defisit parah dengan pemenuhan distribusi di bawah 20 persen. Terdapat pula 107 daerah berkategori sangat defisit serta 73 daerah defisit dengan tingkat kecukupan berkisar 50-80 persen.
Sebaliknya, area surplus terbesar masih memusat di kawasan perkotaan Pulau Jawa. Kota Jakarta Utara mencatatkan angka surplus tertinggi sekitar 3.879,25 ton, diikuti oleh Kota Depok dengan surplus 3.644,94 ton, dan Kabupaten Sleman yang meraih sekitar 3.639,37 ton.
Di sisi lain, Kabupaten Lampung Timur menjadi salah satu wilayah dengan tingkat defisit paling mendalam, yakni menyentuh 473,60 ton. Daerah ini hanya mencatatkan rasio kecukupan distribusi sebesar 3,50 persen.
Melihat kondisi tersebut, IDEAS menyarankan agar strategi pengelolaan kurban nasional ke depan tidak sekadar mengejar peningkatan kuantitas hewan ternak. Penguatan tata kelola sistem distribusi dinilai jauh lebih mendesak agar penyaluran daging bisa berjalan merata.
"Perlu ada pemetaan daerah surplus dan defisit, pembangunan hub pemotongan terstandar, serta penguatan koordinasi antar lembaga agar distribusi daging kurban lebih efektif dan tepat sasaran," ujar Tira.
Tira menambahkan bahwa optimalisasi manajemen distribusi ini dapat mentransformasikan potensi ekonomi kurban menjadi instrumen strategis untuk pemerataan pangan berprotein sekaligus memperkokoh solidaritas sosial di tingkat nasional.