Polisi Selidiki Kelalaian Perawatan Mobil Listrik dalam Kecelakaan KRL Bekasi

Polisi Selidiki Kelalaian Perawatan Mobil Listrik dalam Kecelakaan KRL Bekasi
Foto: Ilustrasi Polisi Selidiki Kelalaian Perawatan Mobil Listrik dalam Kecelakaan KRL Bekasi.

Kepolisian Daerah Metro Jaya tengah mendalami dugaan kelalaian perawatan pada unit mobil listrik taksi online Green SM yang menjadi pemicu kecelakaan fatal antara KRL dan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026). Penyelidikan difokuskan pada sinkronisasi antara kemacetan teknis kendaraan dengan jadwal pemeliharaan rutin perusahaan yang terlampaui sejauh 9.000 kilometer.

Sebanyak 16 orang dilaporkan meninggal dunia dan 90 lainnya luka-luka akibat insiden yang terjadi pada pukul 20.52 WIB tersebut, sebagaimana dilansir dari Megapolitan. Hingga saat ini, sebanyak 12 korban masih menjalani perawatan intensif di tujuh rumah sakit wilayah Bekasi dan Jakarta, sementara 78 orang lainnya sudah diperbolehkan pulang.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Budi Hermanto, menjelaskan kronologi saat pengemudi berinisial RRP terjebak di dalam mobil ketika kendaraan tiba-tiba mati di atas rel. Upaya penyelamatan diri sempat terhambat karena pintu kendaraan tidak dapat dibuka secara manual saat sistem listrik bermasalah.

"Pada saat sopir ingin keluar membuka pintu, tetapi tidak bisa. Transmisi berpindah ke parkir. Pada saat yang bersangkutan mencoba untuk mematikan kendaraan, membuka, baru bisa menurunkan kaca mobil dari taksi online," tutur Budi, Jumat (8/5/2026).

Pemeriksaan terhadap manajemen operasional mengungkap fakta bahwa mobil listrik tersebut telah menempuh jarak 24.000 kilometer. Angka ini jauh melampaui batas wajib perawatan berkala yang ditetapkan internal manajemen setiap 15.000 kilometer.

"Kami juga menyampaikan bahwa terkait informasi dari depot manajer operasional, taksi tersebut harusnya per 15.000 KM itu sudah harus masuk ke depot untuk melaksanakan maintenance ataupun perawatan," kata Budi.

Tim penyidik bersama KNKT kini sedang mengkaji apakah kerusakan sistem kelistrikan pada unit tersebut merupakan dampak langsung dari pengabaian jadwal servis rutin tersebut. Polisi telah meningkatkan status kasus ini ke tahap penyidikan setelah memeriksa total 39 saksi dari berbagai pihak terkait.

"Nah, kami masih mendalami akibat mati mobil listrik ini di perlintasan sebidang kereta api, apakah termasuk dampak dari belum dilakukan maintenance? Nah, ini masih kami lakukan pengkajian," ujar Budi.

Selain faktor teknis kendaraan, otoritas berwenang juga melakukan audit terhadap sistem persinyalan di lokasi kejadian. Penyidik menegaskan bahwa pengemudi berinisial RRP masih berstatus sebagai saksi dan belum dilakukan penahanan.

"Pemeriksaan lanjutan difokuskan tentang unsur teknis perkeretaapian, instansi terkait, serta pihak yang berkaitan dengan operasional kendaraan taksi online," kata Budi.

Pihak kepolisian masih menunggu hasil analisis laboratorium forensik untuk mengunci penyebab pasti kegagalan sistem pada mobil listrik tersebut di perlintasan sebidang Jalan Ampera. Budi menegaskan proses hukum akan terus berlanjut berdasarkan bukti-bukti teknis yang dikumpulkan.

"Ini sudah naik tingkat tahap penyidikan. Sudah dilakukan cek TKP, pemeriksaan saksi, pengumpulan barang bukti, serta pendalaman CCTV," ujar Budi.

Di sisi lain, pengemudi tetap kooperatif dalam memberikan keterangan tambahan yang dibutuhkan tim penyidik guna melengkapi berkas perkara kecelakaan ini. Polisi memastikan hak-hak saksi tetap terlindungi selama proses pendalaman data berlangsung.

"Kalau namanya saksi itu belum dilakukan penahanan, kami luruskan. Jadi kalau namanya saksi, kami masih membutuhkan yang bersangkutan untuk beberapa keterangan,ÔÇØ kata Budi.

Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin, mengonfirmasi bahwa gangguan pada sistem perkeretaapian di sekitar stasiun dipicu oleh benturan awal dengan taksi di perlintasan sebidang. Lokasi kejadian berada sekitar 200 meter dari emplasemen Stasiun Bekasi Timur.

ÔÇ£Kejadian ini dimulai dengan adanya temperan taksi hijau di JPL 85. Sehingga ini yang kami curigai itu membuat sistem perkeretaapian di daerah stasiun emplasemen Bekasi Timur ini agak terganggu,ÔÇØ ujar Bobby.

Artikel terkait

Rekomendasi