Polisi Selidiki Kelalaian Perawatan Mobil Listrik dalam Kecelakaan KRL

Polisi Selidiki Kelalaian Perawatan Mobil Listrik dalam Kecelakaan KRL
Foto: Ilustrasi Polisi Selidiki Kelalaian Perawatan Mobil Listrik dalam Kecelakaan KRL.

Polda Metro Jaya menyelidiki dugaan keterlambatan pemeliharaan rutin pada mobil listrik taksi online Green SM yang mati mendadak di perlintasan sebidang Bekasi Timur, Senin (27/4/2026). Insiden tersebut memicu kecelakaan maut yang melibatkan KRL Cikarang Line dan KA Argo Bromo Anggrek hingga menyebabkan 16 orang meninggal dunia.

Pemeriksaan kepolisian mengungkap bahwa kendaraan yang dikemudikan sopir berinisial RRP tersebut telah menempuh jarak 24.000 kilometer tanpa perawatan berkala. Dilansir dari Megapolitan, aturan internal perusahaan mewajibkan setiap armada masuk depo untuk pemeliharaan setelah menempuh jarak 15.000 kilometer.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Budi Hermanto, menjelaskan bahwa RRP sempat mengalami kendala teknis saat mencoba menyelamatkan diri dari dalam mobil yang berhenti di atas rel. Transmisi kendaraan dilaporkan berpindah otomatis ke posisi parkir saat mesin mati mendadak.

"Pada saat sopir ingin keluar membuka pintu, tetapi tidak bisa. Transmisi berpindah ke parkir. Pada saat yang bersangkutan mencoba untuk mematikan kendaraan, membuka, baru bisa menurunkan kaca mobil dari taksi online," tutur Budi ditemui di Mapolda Metro Jaya, Jumat (8/5/2026).

Penyidik telah memanggil sejumlah petinggi manajemen Green SM, termasuk manajer rekrutmen hingga manajer operasional, untuk mengklarifikasi status teknis armada tersebut. Polisi kini mengkaji apakah kerusakan mesin berkaitan langsung dengan pengabaian jadwal servis rutin oleh pihak pengelola.

"Kami juga menyampaikan bahwa terkait informasi dari depot manajer operasional, taksi tersebut harusnya per 15.000 KM itu sudah harus masuk ke depot untuk melaksanakan maintenance ataupun perawatan," kata Budi.

Hingga kini, kasus tersebut telah naik ke tahap penyidikan dengan total 39 saksi yang telah dimintai keterangan. Fokus pemeriksaan lanjutan diarahkan pada unsur teknis perkeretaapian dan operasional kendaraan listrik guna menentukan pihak yang bertanggung jawab.

"Nah, kami masih mendalami akibat mati mobil listrik ini di perlintasan sebidang kereta api, apakah termasuk dampak dari belum dilakukan maintenance? Nah, ini masih kami lakukan pengkajian," ujar Budi.

Otoritas kepolisian juga melibatkan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk memeriksa sistem persinyalan di lokasi kejadian. Meski penyidikan terus berjalan, pengemudi RRP sejauh ini masih berstatus sebagai saksi dan belum dilakukan penahanan.

"Pemeriksaan lanjutan difokuskan tentang unsur teknis perkeretaapian, instansi terkait, serta pihak yang berkaitan dengan operasional kendaraan taksi online," kata Budi.

Mengenai kondisi korban, sebanyak 78 dari 90 orang yang mengalami luka-luka telah diizinkan pulang dari rumah sakit. Sementara itu, 12 korban lainnya masih memerlukan perawatan intensif di beberapa fasilitas kesehatan di wilayah Bekasi dan Jakarta.

"Ini sudah naik tingkat tahap penyidikan. Sudah dilakukan cek TKP, pemeriksaan saksi, pengumpulan barang bukti, serta pendalaman CCTV," ujar Budi di Silang Timur Monumen Nasional, Kamis (30/4/2026).

Sopir taksi online tersebut diketahui berhasil selamat setelah keluar melalui jendela mobil dengan bantuan warga sesaat sebelum tabrakan terjadi. Polisi tetap menunggu hasil uji laboratorium forensik untuk memastikan penyebab utama kegagalan sistem pada mobil listrik tersebut.

"Kalau namanya saksi itu belum dilakukan penahanan, kami luruskan. Jadi kalau namanya saksi, kami masih membutuhkan yang bersangkutan untuk beberapa keterangan," kata Budi.

Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin, mengonfirmasi bahwa gangguan pada sistem perkeretaapian di Stasiun Bekasi Timur bermula dari benturan antara kereta dengan taksi tersebut. Lokasi kejadian berada sekitar 200 meter dari stasiun pada KM 28+920.

"Kejadian ini dimulai dengan adanya temperan taksi hijau di JPL 85. Sehingga ini yang kami curigai itu membuat sistem perkeretaapian di daerah stasiun emplasemen Bekasi Timur ini agak terganggu," ujar Bobby saat ditemui di Stasiun Bekasi Timur, Selasa (28/4/2026).

Seluruh 240 penumpang KA Argo Bromo Anggrek dinyatakan selamat dalam peristiwa ini. Saat ini, kepolisian masih merampungkan berkas perkara untuk menentukan tersangka dalam insiden yang melumpuhkan jadwal perjalanan kereta api tersebut.

Artikel terkait

Rekomendasi