Aparat Polsek Bekasi Selatan tengah melakukan penyelidikan mendalam terkait aksi pemalakan terhadap sebuah warung tegal (warteg) di Jalan Raya Pekayon, Bekasi Selatan, yang terekam kamera dan viral pada Senin (13/4/2026) sore. Insiden ini menimpa pemilik warung yang dipaksa menyerahkan uang tambahan oleh seorang pria tidak dikenal meskipun telah memberi sejumlah uang.
Dilansir dari Megapolitan, penyelidikan ini bermula setelah unggahan video yang menunjukkan intimidasi terhadap pemilik warteg tersebar luas di media sosial. Pihak kepolisian telah mendatangi lokasi kejadian untuk mengumpulkan bukti dan meminta keterangan dari para saksi di tempat perkara.
Kapolsek Bekasi Selatan Kompol Suparmin mengonfirmasi bahwa anggotanya telah melakukan pengecekan langsung ke lokasi kejadian pada Selasa, 14 April 2026. Petugas gabungan dari Wakapolsek hingga piket fungsi menemui korban untuk memverifikasi laporan yang meresahkan warga tersebut.
"Pada hari ini, Selasa, 14 April 2026, sekira pukul 09.30 WIB, Wakapolsek, padal, dan KSPK beserta anggota piket fungsi telah melaksanakan pengecekan laporan yang viral di media sosial tentang adanya orang tidak dikenal yang meminta uang di warteg," ujar Suparmin, Kapolsek Bekasi Selatan.
Berdasarkan keterangan petugas, peristiwa pemalakan itu terjadi sekitar pukul 17.30 WIB ketika pelaku mendatangi warung milik saksi bernama Tsani Solehatun. Pelaku menolak pergi dan terus mengintimidasi korban meskipun sudah diberikan uang receh oleh pemilik warung.
"Saksi sudah memberikan uang sebesar Rp 2.000, namun orang tersebut tidak mau pergi dan meminta tambahan lagi," jelas Suparmin, Kapolsek Bekasi Selatan.
Di sisi lain, pengamat sosial Mohammad Zaki Arrobi memberikan pandangan bahwa maraknya premanisme sangat dipengaruhi oleh konsistensi aparat dalam menegakkan hukum di lapangan. Menurutnya, kepercayaan publik menjadi kunci utama bagi warga untuk berani melaporkan tindak kriminal yang mereka alami.
"Kalau penegak hukumnya serius tentu masyarakat juga tanpa diminta akan melapor. Tapi kalau penegakan hukumnya masih setengah hati, apalagi ada oknum-oknum yang terlibat juga, masyarakat akan menggunakan media sosial untuk menyampaikan keresahan," ujar Zaki, Pengamat Sosial.
Zaki menambahkan bahwa fenomena media sosial sebagai wadah pengaduan saat ini merupakan respons masyarakat terhadap kinerja penegakan hukum yang dianggap belum optimal. Hal ini memicu munculnya berbagai persepsi di kalangan luas terkait keadilan bagi warga.
"Ini sangat beresonansi dengan suara-suara dari berbagai kalangan," kata Zaki, Pengamat Sosial.
Lebih lanjut, Zaki menekankan bahwa premanisme merupakan fenomena kompleks yang berkaitan erat dengan masalah ketenagakerjaan dan keterbatasan akses terhadap kehidupan yang layak. Urbanisasi tanpa keterampilan memadai di kawasan industri seperti Bekasi turut memperburuk situasi sosial ekonomi.
"Premanisme ini tidak hanya sesimpel ada pelaku kejahatan, tetapi fenomena gunung es dari persoalan ketenagakerjaan, lapangan pekerjaan, dan ketidakadilan akses terhadap kehidupan yang layak," ujarnya Zaki, Pengamat Sosial.
Dalam pengamatannya, Zaki melihat adanya pola di mana pelaku dan korban sering kali berasal dari kelas sosial ekonomi rendah yang sama-sama rentan. Hal ini memicu terjadinya eksploitasi antar sesama kelompok marjinal demi mempertahankan hidup.
"Yang perlu digarisbawahi, pelakunya juga sering berasal dari kelas sosial ekonomi yang relatif sama," katanya Zaki, Pengamat Sosial.
Sebagai solusi jangka panjang, Zaki menyarankan agar pemerintah tidak hanya mengandalkan pendekatan hukum yang bersifat menghukum. Ia mendorong adanya pembukaan lapangan kerja dan pemberian keterampilan bagi masyarakat agar kasus serupa tidak terus berulang di masa depan.
"Misalnya dengan memberikan keterampilan, membuka lapangan kerja yang layak, serta menyediakan opsi kehidupan yang lebih baik," tuturnya Zaki, Pengamat Sosial.
Tanpa adanya upaya mengatasi ketimpangan ekonomi dan akses pekerjaan, Zaki memprediksi bahwa aksi premanisme di ruang publik akan terus muncul sebagai siklus yang sulit diputus.
"Kalau hanya punitif dan tidak diselesaikan akar masalahnya, kasus-kasus yang sama akan terus berulang," kata Zaki, Pengamat Sosial.
Sementara itu, dalam rekaman video yang beredar, pemilik warung sempat berusaha menolak permintaan paksa dari pria tersebut. Namun, pria itu justru memberikan respons intimidatif dengan nada tinggi kepada pemilik warteg.
"Bapak kan minta, ya? Saya sudah bilang maaf, Pak. Bapak masih maksa!" ujar seorang wanita, Pemilik Warteg.
Pria tersebut tetap bergeming dan melontarkan kalimat bernada ancaman meskipun pemilik warung sudah menunjukkan sikap menghargai. Ia bahkan membawa-bawa status sosial korban dalam perdebatan tersebut sebelum akhirnya pergi.
"Dua kali ya saya bilang. Anda orang kaya, seenaknya ya mulut Anda! Jangan sok pamer mulut Anda! Tangan saya di atas lho, Bu! Kalau maksa, enggak permisi saya. Saya hargain Anda perempuan, saya hargain Anda manusia. Jaga mulut Anda! Enggak tahukah mulutmu adalah harimaumu?" ucap pria, Pelaku Pemalakan.
Berdasarkan unggahan di akun Instagram pribadinya, Tsani Solehatun menjelaskan bahwa pelaku sempat melontarkan ancaman kerusakan properti sebelum meninggalkan lokasi kejadian. Hingga kini, pihak kepolisian masih berupaya mengidentifikasi pelaku guna proses hukum lebih lanjut.
"Terakhir sebelum pergi bilang ÔÇÿawas ketemu di jalanÔÇÖ, ÔÇÿawas saya bakal balik lagiÔÇÖ, ÔÇÿjangan salahin kalau rusak-rusakÔÇÖ," tulis Tsani, Korban Pemalakan.