Polisi Gerebek Daycare di Umbulharjo Terkait Dugaan Kekerasan Anak

Polisi Gerebek Daycare di Umbulharjo Terkait Dugaan Kekerasan Anak
Foto: Ilustrasi Polisi Gerebek Daycare di Umbulharjo Terkait Dugaan Kekerasan Anak.

Aparat Polresta Yogyakarta menggerebek tempat penitipan anak Little Aresya di Kelurahan Sorosutan, Kemantren Umbulharjo, Kota Yogyakarta, pada Jumat (24/4/2026). Tindakan tegas ini dilakukan menyusul adanya dugaan praktik kekerasan serta tindakan diskriminasi terhadap puluhan anak yang dititipkan di fasilitas tersebut.

Data sementara menunjukkan terdapat 53 anak yang terindikasi mengalami kekerasan dari total 103 anak yang terdaftar di daycare tersebut. Dilansir dari Detik Health, kepolisian saat ini tengah mendalami bukti-bukti terkait dugaan penganiayaan yang diperkirakan telah berlangsung selama satu tahun operasional lembaga tersebut.

Kasat Reskrim Polresta Jogja Kompol Riski Adrian mengonfirmasi bahwa personel Satuan Reserse telah mendatangi lokasi untuk melakukan upaya hukum. Saat ini, proses pemeriksaan saksi-saksi masih terus berjalan guna melengkapi alat bukti yang diperlukan penyidik.

"Benar, Satuan Reserse Polresta Jogja tadi (Jumat) sore baru saja melakukan penggerebekan sebuah tempat penitipan anak di daerah Umbulharjo," ujar Adrian.

Kasus ini memicu keprihatinan mendalam dari kalangan medis, terutama terkait keamanan lingkungan bagi tumbuh kembang anak usia dini. Psikiater dr Lahargo Kembaren, SpKJ, menilai situasi ini sebagai masalah yang sangat serius karena menyangkut rusaknya kepercayaan dasar anak.

"Secara psikologis, kasus kekerasan di daycare seperti yang terjadi di Yogyakarta sangat serius, karena daycare seharusnya menjadi tempat aman pertama di luar rumah," ucap dr Lahargo.

Pakar kesehatan jiwa tersebut menekankan bahwa aspek kenyamanan merupakan elemen krusial bagi balita. Tanpa rasa aman, fondasi pertumbuhan mental anak dapat terganggu secara signifikan dalam jangka panjang.

"Pada anak batita - balita, satu fondasi tumbuh kembang yang sehat secara fisik dan mental adalah keamanan dan kenyamanan," sambungnya.

Kekerasan pada usia dini sering kali tidak dapat diungkapkan oleh anak melalui kata-kata. Menurut dr Lahargo, orang tua perlu mewaspadai perubahan perilaku yang drastis sebagai sinyal adanya trauma yang terpendam.

"Trauma sering tidak muncul dalam bentuk 'cerita' yang bisa disampaikan dengan bahasa verbal yang jelas dan baik, tetapi melalui perubahan perilaku," tegas dia.

Beberapa gejala yang mungkin muncul meliputi anak menjadi lebih agresif, sulit tidur, atau mengalami regresi perkembangan seperti kembali mengompol. Dampak psikologis yang paling fatal adalah hancurnya rasa percaya anak terhadap lingkungan sekitarnya.

"Yang paling penting dampaknya adalah rusaknya rasa aman. Anak belajar bahwa tempat yang seharusnya melindungi justru menyakiti," kata dr Lahargo.

Kondisi ini memerlukan penanganan yang tepat agar tidak mengganggu stabilitas emosional anak saat mereka beranjak dewasa kelak. Dampak tersebut bisa meluas hingga ke urusan relasi sosial anak di masa depan.

"Ini bisa memengaruhi kelekatan (attachment), rasa percaya, bahkan perkembangan emosi jangka panjang," pungkasnya.

Artikel terkait

Rekomendasi