Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur Indonesia dari S&P Global mengalami penurunan tajam menjadi 50,1 pada Maret 2026, mendekati level stagnasi akibat konflik di Timur Tengah yang menghambat distribusi bahan baku dan memicu inflasi biaya produksi di dalam negeri.
Data yang dilansir dari Investortrust menunjukkan angka tersebut merosot dari posisi 53,8 pada Februari, sekaligus mencatatkan kinerja industri terlemah sejak Juni 2025. Gangguan logistik global ini menyebabkan keterlambatan pengiriman barang mencapai titik terburuk dalam empat tahun terakhir.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita memberikan tanggapan atas melambatnya momentum ekspansi industri nasional pada Rabu, 1 April 2026. Agus menyoroti kemampuan sektor manufaktur yang masih mampu bertahan di zona positif meski menghadapi tekanan eksternal yang masif.
"Kami terkejut sekaligus bersyukur di tengah kondisi yang super berat, baik global maupun domestik, rata-rata PMI Manufaktur Indonesia masih di atas 50," kata Agus Gumiwang Kartasasmita, Menteri Perindustrian.
Pemerintah menilai bahwa daya saing Indonesia masih terjaga jika dibandingkan dengan negara-negara lain yang juga terdampak kenaikan biaya energi dan gangguan rantai pasok global. Berdasarkan catatan kementerian, beberapa mitra dagang di kawasan ASEAN dan negara industri lainnya turut mengalami tekanan serupa pada periode yang sama.
"Tidak semua negara mampu mempertahankan momentum ekspansi secara konsisten," ujar Agus Gumiwang Kartasasmita, Menteri Perindustrian.
Meskipun output dan pesanan baru dilaporkan menurun, Menteri Perindustrian meyakini bahwa kekuatan konsumsi di pasar domestik akan menjadi penahan beban utama agar industri tidak terperosok ke dalam kontraksi penuh. Penguatan fundamental industri dianggap masih cukup solid untuk menghadapi gejolak pasar internasional.
"Fundamental industri kita tetap kuat. Permintaan domestik terus menjadi pilar utama, yang mampu menyerap tekanan eksternal yang signifikan," tegas Agus Gumiwang Kartasasmita, Menteri Perindustrian.
Ekonom S&P Global Market Intelligence, Usamah Bhatti, menambahkan bahwa penurunan permintaan manufaktur pada Maret diperparah oleh pembalikan tajam pada pesanan ekspor. Kondisi ini memaksa sejumlah perusahaan mengurangi jumlah tenaga kerja dan membatasi aktivitas pembelian untuk pertama kalinya sejak pertengahan tahun lalu.
"Sentimen bisnis terkait tahun depan sedikit meningkat, karena produsen berharap kondisi pasar akan stabil setelah turbulensi di Timur Tengah mereda," kata Usamah Bhatti, Ekonom S&P Global Market Intelligence.
| Negara | Skor PMI |
|---|---|
| Thailand | 54,1 |
| Jepang | 51,6 |
| Filipina | 51,3 |
| Malaysia | 50,7 |
| Indonesia | 50,1 |