Phapros Cetak Kenaikan Laba Bersih 112 Persen Kuartal I 2026

Phapros Cetak Kenaikan Laba Bersih 112 Persen Kuartal I 2026
Foto: Ilustrasi Phapros Cetak Kenaikan Laba Bersih 112 Persen Kuartal I 2026.

Emiten farmasi PT Phapros Tbk (PEHA) berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 761,49 juta pada kuartal I 2026 di tengah tekanan ekonomi global. Pencapaian positif pada Jumat (24/4/2026) ini didorong oleh strategi efisiensi biaya dan pertumbuhan volume penjualan yang signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.

Kenaikan laba bersih tersebut mencapai 112,86 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2025, yang saat itu masih mencatat kerugian sebesar Rp 5,92 miliar. Dilansir dari Money, pertumbuhan ini memperkuat tren positif perusahaan yang telah berhasil membalikkan kondisi keuangan sejak tahun lalu.

"Berbagai langkah strategis tersebut berhasil menjaga profitabilitas berkelanjutan," ujar Plt Direktur Utama PT Phapros Tbk Ida Rahmi Kurniasih.

Manajemen menegaskan komitmennya untuk mempertahankan performa finansial setelah melewati masa sulit pada tahun 2024. Upaya ini dilakukan dengan pengawasan ketat terhadap operasional perusahaan secara menyeluruh.

"Setelah berhasil membalikkan kondisi dari rugi pada 2024 menjadi profit pada 2025, kami terus berupaya untuk menjaga profitabilitas perusahaan," lanjut Ida Rahmi Kurniasih.

Penjualan perusahaan tercatat tumbuh 10,17 persen menjadi Rp 221,09 miliar dari posisi sebelumnya Rp 200,67 miliar. Sementara itu, beban pokok penjualan hanya mengalami kenaikan tipis sebesar 5,04 persen, yang memungkinkan laba kotor meningkat 16,59 persen menjadi Rp 103,96 miliar.

Pihak manajemen juga terus memperkuat jalur distribusi dan memastikan ketersediaan stok produk di pasar tetap terjaga. Efisiensi biaya operasional tetap menjadi fokus utama guna memitigasi risiko kenaikan harga bahan baku akibat dinamika geopolitik.

"Menyikapi dampak geopolitik yang menyebabkan kenaikan harga bahan dan biaya, kami sudah melakukan mitigasi risiko dengan kontrak pembelian sejak awal tahun dan terus memantau perkembangan agar tetap adaptif," ujar Ida Rahmi Kurniasih.

Target keuangan hingga akhir tahun telah ditetapkan dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP). Strategi adaptif diharapkan mampu mengamankan posisi kas dan profitabilitas hingga tutup buku tahun ini.

"Tujuannya agar target penjualan, biaya dan laba bersih hingga akhir tahun sesuai RKAP bisa diamankan," tambah Ida Rahmi Kurniasih.

Segmen obat generik bermerek (OGB) menjadi motor utama pertumbuhan dengan lonjakan penjualan sebesar 59 persen mencapai Rp 128,70 miliar. Produk seperti obat anti tuberkulosis dan tablet tambah darah berkontribusi besar karena terlibat dalam program kesehatan pemerintah.

Kesehatan arus kas juga menunjukkan perbaikan drastis dengan posisi positif Rp 37,2 miliar per 31 Maret 2026, berbanding terbalik dari posisi minus Rp 19,6 miliar pada Maret 2025. Perusahaan yang dikuasai 56,77 persen oleh PT Kimia Farma Tbk ini kini memproduksi lebih dari 200 item obat-obatan.

Artikel terkait

Rekomendasi