Sejumlah petugas bersiaga penuh selama 24 jam di setiap halte bus shalawat kawasan Makkah untuk memandu jemaah haji Indonesia agar tidak salah menaiki armada transportasi menuju Masjidil Haram pada Rabu (13/5/2026).
Para petugas halte tersebut memiliki peran krusial dalam mengarahkan jemaah di tengah padatnya aktivitas ibadah di Tanah Suci, seperti dilansir dari Detikcom. Mobilitas jemaah haji difasilitasi melalui bus shalawat yang disediakan oleh Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi dengan rute mencakup wilayah Syisyah, Raudhah, Misfalah, Jarwal, hingga Aziziyah.
Salah seorang mahasiswa S2 Universitas Al-Azhar Mesir asal Jambi, Ahmad Hajri, menjadi petugas yang mengemban tanggung jawab pelayanan tersebut di halte nomor 3 sektor 4 wilayah Syisyah-Raudhah dengan waktu kerja mencapai 12 jam per hari.
"Kami disebar ke halte-halte. Terus sekarang kita kerja itu 12 jam per hari. Kalau saya dapat jadwal dari 8 pagi ke 8 malam," kata Hajri.
Kehadiran petugas penjaga halte ini menjadi sangat penting karena kendala komunikasi yang kerap dialami oleh sebagian jemaah haji Indonesia saat hendak menggunakan fasilitas transportasi bus.
"Jadi banyak jemaah yang tidak bisa komunikasi, bahkan sebatas untuk menyetop busnya juga nggak bisa," ujar Hajri.
Faktor kelelahan setelah beribadah dari Masjidil Haram juga sering membuat jemaah lanjut usia kebingungan dalam membedakan nomor bus serta halte tujuan mereka.
"Karena kita ada beberapa halte, ini halte tiga yang saya jaga, di depan ada halte empat. Kalau sana nggak ada penjaga di sini, bisa-bisa jemaah lost gitu, langsung ke halte empat," katanya.
Jarak antarhalte yang cukup berjauhan di kawasan Syisyah-Raudhah menjadi tantangan tersendiri apabila jemaah terlewat atau salah turun di titik yang bukan merupakan lokasi hotel tempat mereka menginap.
"Jadi salah satu tugas kita menyetop bus-bus yang datang dari masjid, membawa jemaah," ujar Hajri.
Titik halte nomor 3 yang dijaga oleh Hajri secara khusus melayani empat hotel yang didominasi jemaah asal Jawa Timur, sedangkan halte berikutnya menjadi zona turun bagi rombongan jemaah asal Lombok.
"Kalau telat untuk turun, mereka keburu dibawa ke rombongan halte empat, itu saudara-saudara kita dari Lombok. Jadi itu salah satu kenapa harus ada penjaga di sini," katanya.