Petugas Tugas dan Fungsi (Tusi) Lansia dan Disabilitas, Dita Prihastika, memberikan pelayanan intensif bagi jemaah haji yang membutuhkan penanganan fisik khusus di Terminal Haji, Madinah, pada Minggu (26/4/2026). Layanan tersebut mencakup pembersihan najis dan penggantian popok bagi jemaah yang tiba dalam kondisi lemas setelah menempuh perjalanan udara panjang.
Kebutuhan pembersihan fisik ini sering muncul karena jemaah lansia tidak dapat mengganti popok yang sudah penuh selama berada di dalam pesawat akibat keterbatasan ruang. Dilansir dari Detikcom, Dita dan timnya sigap membawa para jemaah tersebut ke toilet setibanya mereka di darat untuk memastikan kenyamanan sebelum melanjutkan perjalanan ke penginapan.
"Alhamdulillah, kita melayani dengan sepenuh hati, seperti melayani orang tua atau mbah kita sendiri," ujar Dita Prihastika saat memberikan keterangan di Terminal Haji, Madinah.
Dita menjelaskan bahwa para jemaah kerap merasa segan saat harus dibantu untuk urusan kebersihan pribadi. Petugas melakukan pendekatan persuasif agar jemaah merasa tenang dan tidak malu saat menerima bantuan medis atau kebersihan.
"Mbah, mohon maaf kita ganti dulu ya popoknya. Kadang mereka merasa malu, isin. Saya bilang, 'Nggak apa-apa Mbah, ini anaknya Mbah'. Kita ganti biar bersih, jadi pas naik bus ke Madinah sudah nyaman," cerita Dita Prihastika mengenai interaksinya dengan jemaah.
Respon positif dari para jemaah menjadi penguat moral bagi para petugas di lapangan. Doa-doa yang diucapkan oleh para lansia yang telah dibantu diakui menjadi kebahagiaan tersendiri bagi perempuan asal Ambon tersebut.
"Setiap kali membantu, ada saja kalimat yang buat hati tersentuh. 'Ya Allah Nak, berkah buat kalian ya'. Itu nikmatnya tidak bisa digambarkan dengan kata-kata," ucap Dita Prihastika dengan haru.
Meski memiliki latar belakang pendidikan Analisis Kimia dari Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Dita telah membekali diri dengan pelatihan khusus. Ia mengikuti kursus daring terkait penanganan lansia sebelum bertugas di Tanah Suci.
"Disiplin ilmu saya sudah agak 'murtad' sebenarnya kalau lihat kerjaan sekarang. Saya aslinya dari Ambon, tugas di Jakarta di instansi pemerintah. Tapi bagi saya, ilmu apa saja bisa dipakai, yang penting nawaitu-nya untuk melayani," tegas Dita Prihastika.
Komitmen pelayanan ini dipastikan berjalan secara profesional tanpa ada pungutan biaya dari pihak jemaah. Dita menekankan bahwa seluruh petugas bekerja dengan koordinasi yang kuat demi kelancaran ibadah haji.
"Kita tidak pernah mengambil satu sen pun. Kita melayani dengan tulus. Saya hanya minta ke Allah, kalau dikasih umur panjang, saya ingin bermanfaat bagi banyak orang," tutup Dita Prihastika.