Petani Kota Matsuyama Beralih ke Budi Daya Alpukat Akibat Krisis Iklim

Petani Kota Matsuyama Beralih ke Budi Daya Alpukat Akibat Krisis Iklim
Foto: Ilustrasi Petani Kota Matsuyama Beralih ke Budi Daya Alpukat Akibat Krisis Iklim.

Sejumlah petani di Kota Matsuyama, Prefektur Ehime, Jepang, mulai meninggalkan budi daya jeruk dan beralih ke tanaman alpukat sebagai langkah adaptasi menghadapi kenaikan suhu akibat krisis iklim global. Perubahan rupa lanskap pertanian ini dipicu oleh cuaca ekstrem yang membuat varietas jeruk tradisional sulit bertahan hidup di wilayah barat Jepang tersebut.

Kenaikan suhu yang signifikan membuat kualitas panen jeruk menurun drastis karena paparan sinar matahari berlebih. Dilansir dari Lestari, pemerintah setempat kini secara aktif mendukung transisi komoditas ini demi menjaga keberlangsungan ekonomi para petani di tengah perubahan cuaca yang semakin tidak menentu.

Fuminori Arita menjadi salah satu pionir yang telah melakukan transisi lahan dari varietas jeruk iyokan ke alpukat selama sepuluh tahun terakhir. Ia mengaku menikmati proses menanam buah yang memiliki karakteristik unik dan bernilai jual tinggi di pasar domestik tersebut.

"Mengingat tantangan budidaya alpukat, kebahagiaan atas keberhasilan sangatlah besar," tutur Arita, petani yang memulai transisinya dengan bibit dari pemerintah kota.

Pria berusia 67 tahun ini kini menjual hasil panennya dengan harga mencapai 5.000 yen atau sekitar Rp551.000 per kilogram. Keberhasilan Arita menjadi rujukan bagi petani lain di Matsuyama yang menghadapi masalah serupa pada tanaman jeruk mereka.

Junichiro Nishihara, petani lainnya, mengungkapkan bahwa panas matahari yang ekstrem selama beberapa tahun terakhir telah merusak warna buah jeruk menjadi cokelat. Kondisi ini membuatnya tidak memiliki pilihan selain memperluas lahan alpukat secara bertahap untuk menyambung hidup.

ÔÇ£Saya memang memiliki ikatan emosional sebagai petani jeruk, tetapi saya tidak akan bisa mencari nafkah jika saya tidak beralih ke tanaman yang beradaptasi dengan iklim,ÔÇØ ucap Nishihara, sebagaimana dikutip dari Asahi.

Nishihara menjelaskan bahwa pohon alpukat jauh lebih tangguh menghadapi risiko kerusakan akibat panas dibandingkan jeruk. Selain itu, jenis tanaman ini tidak memerlukan perawatan hama yang sekompleks komoditas sebelumnya.

Pejabat lembaga bimbingan pertanian lokal, Tatsumi Shiba, memproyeksikan budi daya ini akan semakin mudah dilakukan seiring meningkatnya suhu minimum di wilayah tersebut. Pihak otoritas berharap Matsuyama nantinya dikenal sebagai pusat produksi alpukat baru di Jepang.

"Kami berharap dapat meningkatkan budidaya," tutur Shiba.

Data menunjukkan lonjakan produksi alpukat di Matsuyama yang mencapai lebih dari 12 kali lipat dalam satu dekade terakhir. Pada 2015, produksi hanya tercatat sekitar 600 kilogram, namun angka tersebut melesat hingga 7.300 kilogram pada tahun 2024.

Toshihiko Sugiura, ahli meteorologi pertanian dari Organisasi Penelitian Pertanian dan Pangan Nasional (NARO), menjelaskan bahwa meskipun ada teknik rekayasa untuk mempertahankan jeruk, biayanya akan sangat mahal dengan hasil yang terus menurun.

ÔÇ£Bahkan, di daerah penghasil jeruk yang sudah tidak cocok lagi untuk budi daya jeruk, Anda masih dapat terus menanam tanaman tersebut jika menggunakan naungan, pengendalian kelembaban, dan teknik serta kecerdikan budidaya lainnya, seperti memangkas buah di bagian atas dan luar pohon yang rentan terhadap suhu tinggi,ÔÇØ ujar Sugiura.

Sugiura menilai perpindahan ke komoditas baru adalah pilihan yang rasional bagi keberlanjutan sektor pertanian Jepang. Hal ini didukung oleh efisiensi tenaga kerja dan tingginya minat konsumen terhadap buah yang sering dijuluki 'mentega hutan' tersebut.

"Beralih ke alpukat adalah pilihan yang layak, meskipun masih ada sejumlah tantangan. Menanam alpukat membutuhkan lebih sedikit tenaga kerja, dan permintaan konsumen terhadapnya sangat tinggi," tutur Sugiura.

Sebagai langkah konkret, Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Jepang telah merancang program subsidi khusus. Kebijakan ini dijadwalkan mulai berlaku pada tahun fiskal 2026 untuk mempercepat promosi tanaman yang lebih tahan terhadap suhu tinggi.

Artikel terkait

Rekomendasi