Sektor usaha di Indonesia dilaporkan tengah menahan laju rekrutmen tenaga kerja baru demi menjaga stabilitas operasional di tengah berbagai tantangan pada Jumat, 24 April 2026. Praktisi HR menjelaskan fenomena ini dipicu oleh lonjakan biaya produksi dan ketidakpastian regulasi yang menghambat ekspansi bisnis.
Ketua Ikatan SDM Profesional Indonesia (ISPI), Ivan Taufiza, mengungkapkan bahwa penangguhan rekrutmen paling signifikan terjadi pada kategori pembukaan lowongan untuk ekspansi bisnis. Dilansir dari Detik Finance, banyak perusahaan yang awalnya berencana menambah personel kini mulai mengoreksi target rekrutmen mereka.
Sektor industri manufaktur menjadi salah satu yang terdampak akibat naiknya harga energi. Ivan memberikan contoh pada industri produksi kaca yang mengalami kenaikan biaya operasional secara mendadak akibat lonjakan harga gas untuk proses peleburan.
"Nah, kaca itu kan perlu gas untuk peleburan ya. Dia sudah tanda tangan kontrak harga gasnya Rp 6 ribu per kilogram, sekarang naik jadi Rp 9 ribu, itu kan sudah naik 50%. Tadinya dia mau merekrut 2.000 orang, kemarin diskusi sama saya, 'kayaknya kita mau koreksi, nggak tahu jadi berapa, tapi sepertinya nggak bakal 2.000'. Nah yang seperti ini," jelas Ivan Taufiza, Ketua Ikatan SDM Profesional Indonesia (ISPI).
Selain kenaikan biaya, perubahan aturan pemerintah turut mempengaruhi rencana penyerapan tenaga kerja di industri kendaraan listrik. Ketidakpastian insentif bagi konsumen menjadi faktor utama perusahaan otomotif meninjau ulang komitmen awal mereka.
"Dia mau merekrut, tadinya total 5.000. Itu komitmen dan segala macam tetap jalan sampai pemerintah mengubah insentif untuk mobil listrik. Itu kan berpengaruh ke minat orang untuk membeli. Jadi sudah mau rekrut 5.000, begitu ada perubahan, nggak jadi, sekarang sekian ribu dulu," tutur Ivan Taufiza, Ketua Ikatan SDM Profesional Indonesia (ISPI).
Ivan menekankan bahwa kepastian usaha dan niat baik dari pemerintah sangat dibutuhkan agar dunia usaha berani melanjutkan investasi. Hal ini bertujuan untuk mencegah pemangkasan kebutuhan tenaga kerja baik untuk penggantian karyawan, ekspansi, maupun investasi baru.
"Supaya kebutuhan tiga gelombang tadi-mengganti karyawan, ekspansi, dan investasi baru-tidak dikoreksi atau dikurangi," ujar Ivan Taufiza, Ketua Ikatan SDM Profesional Indonesia (ISPI).
Bagi para pencari kerja, situasi pelemahan rekrutmen ini menuntut daya tahan yang lebih tinggi. Ivan menyarankan agar pelamar kerja, terutama lulusan baru, bersedia mengambil pekerjaan di sektor informal sebagai langkah bertahan hidup sembari mencari posisi tetap.
"Apalagi fresh graduate, biasanya paling susah dari sisi mindset. 'Ngapain capek-capek kuliah elektro ITB jadi cleaning service', misalnya. Tapi kalau bicara kebutuhan, sektor informal itu tidak pernah berkurang," terang Ivan Taufiza, Ketua Ikatan SDM Profesional Indonesia (ISPI).
Kemauan untuk bekerja di bidang apa pun dinilai sebagai indikator penting dalam penilaian kualitas calon pegawai oleh perusahaan. Sikap adaptif ini disebut sebagai kemampuan bertahan atau survival quotient (SQ) yang menjadi nilai tambah bagi pelamar kerja.
"Itu nilai tambah. Itu namanya SQ, survival quotient. Orang itu diukur dengan berbagai indikator, salah satunya kemampuan untuk bertahan. Nah, makin tinggi itu, makin bagus nilainya," tegas Ivan Taufiza, Ketua Ikatan SDM Profesional Indonesia (ISPI).
Kemampuan bertahan ini juga menjadi kriteria krusial saat perusahaan harus melakukan efisiensi internal. Pihak manajemen cenderung mempertahankan karyawan yang mampu mengemban beban kerja tambahan dengan fleksibilitas tinggi.
"Kalau mau lebih teknis, saya kalau harus melakukan layoff karyawan, yang saya pikirkan bukan yang keluar, tapi yang tetap di dalam. Karena yang keluar sudah selesai urusannya. Yang di dalam, beban kerjanya bertambah, jadi harus orang yang dari awal bisa bertahan," pungkas Ivan Taufiza, Ketua Ikatan SDM Profesional Indonesia (ISPI).