PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BBRI) membukukan pertumbuhan penyaluran kredit hingga dua digit pada kuartal I/2026 yang dibarengi dengan peningkatan kualitas aset perseroan. Capaian ini didorong oleh penyaluran program kredit pemerintah di tengah penerapan manajemen risiko yang ketat pada Selasa (5/5/2026).
Ekspansi pembiayaan yang dilakukan perseroan diklaim tetap berada dalam koridor yang sehat. Sebagaimana dilansir dari Finansial, Corporate Secretary BRI Dhanny menyatakan bahwa kinerja fungsi intermediasi tersebut berjalan selaras dengan prinsip kehati-hatian perbankan.
"Hingga akhir triwulan I 2026, penyaluran kredit BRI tercatat tumbuh double digit diiringi dengan perbaikan kualitas aset yang berkelanjutan. Hal ini mencerminkan ekspansi yang sehat dan prudent," ujar Dhanny, Corporate Secretary BRI.
Kualitas kredit yang membaik tercermin dari angka rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) yang mengalami penyusutan. Berdasarkan data perusahaan, posisi NPL turun secara kuartalan dari sebelumnya 3,07 persen pada akhir Desember 2025 menjadi 3,01 persen pada penutupan Maret 2026.
"Penurunan rasio NPL menunjukkan bahwa strategi pengelolaan risiko yang dijalankan BRI selama tahun 2025 mulai berjalan efektif," kata Dhanny, Corporate Secretary BRI.
Manajemen menjelaskan bahwa efektivitas pengelolaan risiko didorong oleh kebijakan pertumbuhan selektif dan penguatan sistem peringatan dini di sektor ritel. Perseroan juga memaksimalkan fungsi penagihan serta pemulihan aset untuk menjaga stabilitas neraca keuangan.
"Untuk mendorong pertumbuhan perekonomian Indonesia secara berkelanjutan, BRI telah menjadi mitra pemerintah dalam penyediaan program kredit bagi rakyat melalui penyaluran KUR yang dari Januari hingga Maret 2026 mencapai Rp47,09 triliun kepada 947 ribu debitur," ujar Dhanny, Corporate Secretary BRI.
Selain Kredit Usaha Rakyat, bank pelat merah ini menyalurkan KPR subsidi senilai Rp17,13 triliun yang menyasar lebih dari 125 ribu debitur pada periode tiga bulan pertama tahun ini. Penyaluran kredit program ini menjadi pilar utama dalam mendukung akses pembiayaan masyarakat luas.
Pemerintah sendiri telah memberikan sinyal penguatan akses modal bagi pelaku usaha mikro. Pada 1 Mei 2026, Presiden Prabowo Subianto mengumumkan rencana penyaluran KUR dengan bunga maksimal 5 persen per tahun lewat bank-bank Himbara untuk memperluas jangkauan pembiayaan UMKM.